RS Tak Lagi Penuh, BOR Nasional Tinggal 44 Persen
logo

19 Agustus 2021

RS Tak Lagi Penuh, BOR Nasional Tinggal 44 Persen

RS Tak Lagi Penuh, BOR Nasional Tinggal 44 Persen


GELORA.CO - Pertumbuhan kasus Covid-19 yang makin kecil diikuti turunnya tingkat keterisian rumah sakit atau bed occupancy rate (BOR). Hingga kemarin, angka BOR turun di bawah 50 persen. Beberapa provinsi di Jawa bahkan mencatatkan BOR terendah di antara provinsi lainnya.

Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satgas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengungkapkan, sejak puncak kasus pada pertengahan Juli, kasus aktif nasional kini berkurang lebih dari 37 persen. ”Kalau minggu lalu turun 25 persen, sekarang sudah lebih dari seperempatnya. Penurunan ini terus progressing. Sejauh ini konsisten turun, belum ada kenaikan lagi,” kata Dewi kemarin (18/8).

Untuk BOR, Dewi mengatakan bahwa angka rata-rata nasional per 18 Agustus 2021 adalah 44,05 persen. Dari semua provinsi, sudah tidak ada yang mencatatkan BOR dengan level kritikal atau kategori merah di atas 80 persen. Beberapa provinsi memang memiliki BOR kategori oranye atau di atas 60 persen. Misalnya, Provinsi Bali mencatatkan BOR tertinggi dengan angka 75,55 persen. Disusul Kalimantan Timur 64,4 persen dan Sulawesi Tengah 63,57 persen. Tiga provinsi di Jawa, yakni Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta, berhasil mencatatkan BOR kategori hijau atau di bawah 30 persen.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto menyampaikan, turunnya grafik pertumbuhan kasus Covid-19 di Indonesia dibarengi dengan terjunnya BOR di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlet. Pada 30 Juli lalu, Hadi mendapat laporan bahwa BOR rumah sakit tersebut mencapai 97 persen. Jumlah pasien Covid-19 tercatat 7.167 orang. Terakhir, BOR di rumah sakit itu sudah berada di angka 19,04 persen.

Menurut Hadi, angka BOR itu menurun berkat peran semua pihak. ”Bagian dari upaya dan kerja keras para tenaga kesehatan dan non kesehatan, prajurit TNI dan Polri, BNPB, pemda, dan ormas,” imbuhnya. Meski angka-angka itu menjadi kabar baik sekaligus hadiah istimewa peringatan HUT Ke-76 Republik Indonesia, dia meminta semua pihak tetap waspada. Panglima TNI tidak ingin capaian positif yang didapat setelah memuncaknya persebaran Covid-19 beberapa waktu lalu membuat penanggulangan Covid-19 lengah. ”Kalau kita lengah, hal terburuk bisa terjadi,” ujarnya.

Karena itu, dia meminta seluruh jajarannya tetap bekerja optimal. Sesuai dengan arahan tersebut, TNI-AL memastikan langkah-langkah yang sudah dilaksanakan selama ini dilanjutkan. Mereka bahkan mengupayakan semua potensi yang dimiliki Angkatan Laut bisa dimaksimalkan. Salah satunya kapal perang. Sampai kemarin, TNI-AL masih membantu pemerintah daerah yang membutuhkan tambahan pasokan oksigen. Untuk memperluas jangkauan bantuan tersebut, mereka akan menambah dua kapal sebagai pemasok oksigen. Yakni, KRI Teluk Hading-538 dan KRI Teluk Manado-537. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono menyebutkan, dalam waktu dekat dua kapal itu sudah bisa beroperasi sebagai kapal penyuplai oksigen.

Dengan begitu, dua kapal tersebut bisa membantu tugas KRI dr Soeharso-990 dan KRI Semarang-594 sebagai kapal bantu rumah sakit. ”Mudah-mudahan dalam waktu satu bulan sudah jadi (siap operasi sebagai kapal penyuplai oksigen). Sehingga nanti ada permintaan dari pemerintah daerah di luar Jawa, kami bisa geser ke sana,” beber Yudo. Keputusan menambah dua kapal perang sebagai penyuplai oksigen diambil TNI-AL setelah melihat perkembangan situasi di luar Jawa.

TNI-AL melihat masih ada daerah yang sulit memenuhi kebutuhan oksigen seperti yang pernah dialami Semarang. Belum lama ini, Kepulauan Bangka Belitung dilanda kelangkaan oksigen. Karena itu, mereka menggeser KRI Semarang-594 dari Surabaya ke daerah kepulauan tersebut. Setelah kondisi di Bangka Belitung mereda, saat ini Dumai yang bermasalah atas ketersediaan oksigen. ”KRI Semarang-594 menuju ke Dumai karena ada permintaan dari Pak Bupati,” ujarnya. Oksigen di daerah tersebut mulai langka sehingga dibutuhkan suplai tambahan.[jawapos]