Kenapa 99,5% Nakes Malaysia Kebal Covid-19 setelah Divaksin, Beda dengan Nakes Indonesia
logo

13 Juli 2021

Kenapa 99,5% Nakes Malaysia Kebal Covid-19 setelah Divaksin, Beda dengan Nakes Indonesia

Kenapa 99,5% Nakes Malaysia Kebal Covid-19 setelah Divaksin, Beda dengan Nakes Indonesia


GELORA.CO -  Kenapa tenaga kerja kesehatan atau Nakes Indonesia masih saja banyak yang terpapar Virus Corona atau Covid-19 meski telah dua kali divaksin?

Kenapa 99,5 persen Nakes Malaysia tidak lagi terinfeksi Covid-19 setelah dua dosif vaksin?

Seorang guru besar farmasi Prof Bimo A Tedjo mengungkap fakta-fakta untuk menjelaskan kodisi tersebut.

Bimo A Tedjo adalah WN Indonesia yang menjadi Associate Professor Biotechnology, Department of Biochemistry, Faculty of Biotechnology and Biomolecular Sciences, Universiti Putra Malaysia.

Nama Bimo A Tedjo termasuk  pakar farmasi yang sering disebut-sebut oleh dr Tirta dan dr RA Adaninggar SpPD yang gencar melawan hoax yang disebarkan oleh Lois Owen yang mengaku seorang dokter.

Dalam postingan Prof Bimo A Tedjo di akun instagramnya terungkap bahwa 99,5 % Nakes Malaysia kebal Covid-19 setelah divaksin.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Malaysia pada 8 Juli 2021, di Malaysia ada 438.000 nakes yang telah divaksin.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2.341 nakes atau 0,5 % terpapar Virus Corona.

Para nakes yang kena Covid-19 itu dengan rincian 778 tanpa gejala, 1.559 gejala ringan, 4 gejala sedang, dan 0 gejala berat.

Prof Bimo A Tedjo mengungkap fakta bahwa para nakes Malaysia itu ternyata telah mendapat dua dosis vaksin Pfizer.

"Vaksin Moderna dan Pfizer merupakan vaksin jenis mRNA yang memiliki efektivitas setara," ujar Prof Bimo.

2 Kali Vaksin Sinovac + Booster Vaksin Moderna

Seperti diketahui, para Nakes Indonesia juga telah divaksin dua kali.

Tetapi, vaksin yang digunakan di Indonesia adalah vaksin Sinovac dari China.

Tingkat efikasi vaksin Sinovac berdasarkan penjelasan Badan Pengawasan Obat dan Makanan hanya sekitar 65 persen. 

Sementara tingkat efikasi vaksin Pfizer dan Moderna sekitar 95 persen.

Sampai Sabtu (10/7/2021), sebanyak 1.570.936 tenaga kesehatan sudah divaksinasi dosis pertama dan 1.427.454 telah disuntik dosis kedua.

Pemerintah telah mengimpor vaksin Moderna yang antara lain akan digunakan untuk booster para nakes atau vaksin dosis ketiga.

“Tenaga kesehatan mengalami tekanan yang luar biasa terutama di gelombang kedua dari penularan pandemi ini, sehingga kami ingin memastikan mereka terlindungi secara maksimal,” kata Menkes Budi Gunadi Sadikin seperti dikutip Wartakotalive.com dari kemenkes.go.id.

Dalam seminggu pertama bulan Juli ini,  sudah 35 nakes di Indonesia yang gugur karena covid-19. Ditambah ribuan yang terpapar sehingga harus isoman atau dirawat.  

Sementara di Malaysia, kata Prof Bimo, yang setengah juta nakesnya mendapat vaksin Pfizer hanya mencatat 0.5% yang terkena covid, dimana mayoritas OTG dan bergejala ringan. Hanya 4 orang yang bergejala sedang dan tidak ada yang bergejala berat.

"Semoga vaksin Moderna yang efektivitasnya setara vaksin Pfizer bisa menjadi perisai tambahan untuk nakes kita," kata Bimo.

Efektivitas Vaksin Sinovac Menurun, Nakes Indonesia Perlu Booster

Prof Bimo A Tedjo juga menjelaskan kenapa Nakes Indonesia masih perlu divaksin lagi untuk yang ketiga kalinya atau mendapat booster vaksin.

Dia mengutip hasil penelitian atau jurnal ilmiah yang menyebutkan bahwa efektivitas vaksin Sinovac di kalangan nakes ternyata menurun. 

Tetapi, efektivitas vaksin Sinovac pada non-nakes tetap baik.

Untuk lebih jelasnya, simak penjelasan Prof Bimo yang dikutip Wartakotalive.com dari akun medsos yang bersangkutan. 

Dua alasan kenapa Nakes Indonesia perlu Vaksin Ketiga

1. Paparan Virus Tinggi Turunkan Efektivitas

Tenaga kesehatan Indonesia di lingkungan dengan paparan virus yang sangat tinggi.

Paparan virus yang tinggi dapat menurunkan efektivitas vaksin bahkan sampai separuhnya.

Vaksin Sinovac menunjukkan efektivitas yang baik pada non-nakes (Jara et al, 2021), tetapi ada penurunan efektivitas pada nakes (de Faria et al, 2021; Hitchings et al 2021).

2. Stres, Depresi, dan Pola hidup tak Sehat Turunkan Efektivitas Vaksin

Tenaga kesehatan kita saat ini dilanda tekanan fisik dan mental yang berat akibat membludaknya jumlah pasien Covid-19.

Tekanan mental (stres, depresi, kesepian) dan pola hidup tidak sehat (kurang istirahat, makan tidak teratur, kurang olahraga) dapat menurunkan efektivitas vaksin (Madison et al, 2021).

Karena itu, kata Prof Bimo A Tedjo, jika Anda bekerja di lingkungan yang paparan virusnya tidak tinggi, maka Anda tidak perlu vaksin booster untuk saat ini.

Untuk menjaga efektivitas vaksin, Anda diharap tetap menjaga protokol kesehatan untuk mengurangi paparan virus dan menerapkan pola hidup sehat.

Vaksin Moderna untuk Nakes

Sebanyak 3.000.060 dosis vaksin Moderna dari Amerika Serikat tiba di Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (11/7).

Vaksin tersebut akan diprioritaskan bagi tenaga kesehatan sebagai vaksinasi tahap ketiga atau booster.

Vaksin Moderna dikirim melalui COVAX Facility yang merupakan bukti nyata bahwa pemerintah terus berupaya keras menghadirkan vaksin COVID-19 untuk memenuhi kebutuhan vaksin di Indonesia.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengapresiasi dukungan dari rakyat dan Pemerintah Amerika Serikat yang mau membantu program vaksinasi Indonesia dengan mengirimkan vaksin Moderna.

Rencananya vaksin tersebut selain digunakan untuk suntikan pertama dan kedua bagi rakyat Indonesia, secara khusus akan digunakan untuk booster suntikan ketiga bagi para tenaga kesehatan Indonesia.

“Tenaga kesehatan mengalami tekanan yang luar biasa terutama di gelombang kedua dari penularan pandemi ini, sehingga kami ingin memastikan mereka terlindungi secara maksimal,” kata Menkes seperti dikutip Wartakotalive.com dari kemenkes.go.id.

Program vaksinasi di Indonesia sudah berjalan cukup cepat. Data terakhir sudah menembus 50 juta suntikan.

10 juta suntikan pertama dicapai dalam waktu 8 Minggu, 10 juta berikutnya dalam waktu 4 Minggu, dan 10 juta yang terakhir sudah dicapai dalam 12 hari.

Total ketersediaan vaksin seluruhnya menjadi lebih dari 100 juta dosis.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan hari ini Indonesia telah menerima 3.000.060 dosis vaksin Moderna hasil hubungan kerja sama internasional dari pemerintah Amerika Serikat melalui jalur multilateral COVAX Facility.

“Ini merupakan pengiriman tahap pertama vaksin modern dari pemerintah Amerika Serikat. Vaksin Moderna yang berbasis MRNA ini telah mendapatkan Emergency Use Autorization dari Badan POM pada 2 Juli 2021,” kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam konferensi virtual, Minggu (11/7).

Amerika Serikat berkomitmen memberikan dosis sharing vaksin kepada Indonesia berjumlah 4.500.160 dosis yang akan dikirim bertahap.

Mekanisme dosis sharing atau berbagi dosis vaksin adalah bagian dari mekanisme multilateral untuk memastikan akses setara terhadap vaksin untuk semua negara.

Indonesia secara konsisten mendukung mekanisme berbagi dosis tersebut guna mempercepat pencapaian prinsip kesetaraan akses vaksin bagi semua negara.

Dengan ketibaan vaksin Moderna hari ini, Indonesia telah mengamankan 122.735.260 dosis vaksin baik berupa vaksin curah maupun vaksin jadi.

“Kini Indonesia juga telah menerima tawaran dukungan dari beberapa negara antara lain Jepang akan mengirimkan tahap kedua vaksin Astrazeneca, kemudian tawaran serupa datang dari Belanda, Inggris, Australia, dan Uni Emirat Arab,” ucap Menlu

Jutaan vaksin dari jalur pengadaan komersial maupun dari dukungan internasional dan bilateral akan tiba pada bulan Juli ini. Pemerintah akan terus bekerja keras untuk memastikan ketersediaan vaksin bagi Indonesia.

Tak hanya vaksin, berbagai dukungan datang dari negara tetangga untuk membantu memenuhi kebutuhan ventilator, oksigen, obat-obatan, dan peralatan medis di Indonesia.

1,5 Juta Nakes telah Vaksin Dosis Kedua

Hingga Sabtu (10/7/2021) jumlah masyarakat yang sudah divaksinasi Covid-19 dosis kedua mencapai 14.969.330 orang.

Adapun masyarakat yang divaksin yakni dari kalangan tenaga kesehatan, petugas publik dan lansia.

Mereka adalah sasaran pada program vaksinasi tahap pertama dan kedua. Informasi tersebut disampaikan Satgas melalui laman www.kemkes.go.id.

Kompas.com memberitakan, jumlah masyarakat yang sudah divaksin dosis pertama yakni sebanyak 36.193.076 orang.

Hingga tahap kedua ini pemerintah menargetkan 40.349.049 orang yang menjadi sasaran vaksinasi Covid-19.

Cakupan vaksinasi secara akumulatif sudah mencapai 89,70 persen untuk dosis pertama dan 37,10 persen dosis kedua.

Sementara vaksinasi tahap pertama yang menargetkan tenaga kesehatan cakupan sudah mencapai 106,96 persen untuk dosis pertama dan 97,19 persen untuk dosis kedua.

Adapun sasaran pada tahap pertama untuk tenaga kesehatan yakni sebanyak 1.468.764 orang.

Sebanyak 1.570.936 tenaga kesehatan sudah divaksinasi dosis pertama dan 1.427.454 telah disuntik dosis kedua.

Kemudian, sasaran pada tahap kedua untuk petugas publik ditargetkan sebanyak 17.327.167 orang.

Data pemerintah menunjukkan 19.428.816 orang petugas publik sudah divaksinasi dosis pertama dan 8.746.532 orang telah disuntik vaksin dosis kedua.

Sementara sasaran vaksinasi untuk lansia sebanyak 21.553.118 orang. [wartakota]