Puluhan Nakes Surabaya Terpapar COVID-19, Bagaimana Psikologisnya?
logo

26 Juni 2021

Puluhan Nakes Surabaya Terpapar COVID-19, Bagaimana Psikologisnya?

Puluhan Nakes Surabaya Terpapar COVID-19, Bagaimana Psikologisnya?


GELORA.CO -  Saat kasus COVID-19 di Surabaya melonjak, puluhan nakes pun juga banyak yang terpapar. 

Total ada 21 perawat yang terpapar. Selain perawat, ada 75 dokter juga positif COVID-19. 

Bagaimana psikologinya?
"Kemarin kita sempat turun dan landai, masih bisa menikmati masa-masa tenang sekitar bulan Maret-April, Mei naik lagi. Secara psikologis kita butuh support semua," kata Anggota Satgas COVID-19 IDI cabang Surabaya, dr Meivy Isnoviana saat dihubungi, Sabtu (26/6/2021).

Support yang diperlukan nakes yang saat ini berjuang di fasilitas kesehatan (faskes) yang paling penting dari masyarakat yakni aware dan disiplin protokol kesehatan. Hal ini cukup membantu garda terdepan di RS.


"Kita itu bekerja tidak bisa sendiri, artinya dengan bantuan masyarakat. Masyarakat membantu untuk tidak melanggar apa yang sudah ada, itu juga bantuan besar buat kita. Karena tekanan psikologis kita," jelasnya.

Ia menceritakan, yang menjadi tekanan psikologis nakes di lapangan juga saat keluarga pasien tidak terima jika pasien didiagnosa positif COVID-19. Anggapan meng-COVID-19-kan pasien juga menjadi beban tersendiri.

"Apalagi kalau misalkan kita di RS, kita mengatakan itu ada pasien COVID-19 dan keluarga tidak terima. Itu juga beban buat kita. Dengan begitu justru mereka akan membombardir. Artinya yang di-COVID-19-kan, padahal hasilnya sudah jelas. Ini kan butuh mental yang luar biasa untuk menangani hal tersebut. Tapi kita terus mengedukasi," ceritanya.

Sama seperti halnya masyarakat, nakes juga memiliki perasaan jenuh dan terus berharap agar pandemi ini segera usai. Meski mereka selalu ingat akan sumpah sebagai dokter dan tetap menjalankan tugas dengan baik.

"Secara psikologis kita juga merasa, kok kayaknya ini semakin banyak, jenuh, iya. Walau kita ingat sumpah kita sebagai dokter mengutamakan yang terbaik, itu tetap kita lakukan. Tapi di satu sisi kita merasa, kok kita ini rasanya seperti kok nggak berhenti-berhenti. Itu rasanya kadang-kadang ada, kalau saya menyerah bagaimana dengan yang lain," jelasnya.

Menurutnya, ini merupakan dilema yang besar. Tapi ia juga bersyukur, teman-teman sejawat masih bisa sabar dan kita tetap berjuang.

"Dan kita benar-benar mohon banget sama semua yang di luar sana untuk mematuhi apa yang sudah ada. Protokol kesehatan, masker itu harus dipakai. Paling tidak mengurangi yang di RS melayani pasien," pungkasnya.(dtk)