ProDEM: Aneh, Corona Jadi Alasan Menkeu Terbalik Pesimis, Padahal Proyeksi 8,3 Persen Dibuat Saat Pandemi
logo

23 Juni 2021

ProDEM: Aneh, Corona Jadi Alasan Menkeu Terbalik Pesimis, Padahal Proyeksi 8,3 Persen Dibuat Saat Pandemi

ProDEM: Aneh, Corona Jadi Alasan Menkeu Terbalik Pesimis, Padahal Proyeksi 8,3 Persen Dibuat Saat Pandemi


GELORA.CO - Sikap Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam memprediksi laju pertumbuhan ekonomi tanah air dinilai asal-asalan. Sebab, prediksi yang dibuat selalu muluk dan di akhir selalu gagal terpenuhi.

Begitu kata Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL, sesaat lalu Rabu (23/6).

Teranyar, Iwan Sumule menyoroti pernyataan Sri Mulyani yang pesimistis pada proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2021 yang dia buat sendiri. Laju ekonomi yang diproyeksikan melaju hingga 8,3 persen akhirnya direvisi karena alasan sebaran Covid-19 yang melonjak.

Bagi Iwan Sumule, pernyataan itu aneh. Sebab proyeksi ekonomi yang dibuat Sri Mulyani dilakukan di saat pandemi. Sehingga sudah seharusnya Covid-19 jadi variabel yang turut diperhitungkan.

Atas alasan itu juga, Iwan Sumule ikut menyebut Sri Mulyani dengan sebutan Menkeu Terbalik seperti yang sering dipakai oleh ekonom senior DR. Rizal Ramli. Sebutan disematkan lantaran prediksi yang disampaikan selalu terbalik.  

“Aneh! Corona dijadikan alasan pesimistis oleh Menkeu Terbalik. Padahal, waktu buat proyeksi ekonomi di kuartal II 2021 akan tumbuh 8,3 persen pun di saat corona,” tuturnya.

Iwan Sumule sendiri sudah jauh hari sangsi dengan prediksi ekonomi melaju 8,3 persen yang disampaikan Sri Mulyani.

Pasalnya, jauh sebelum corona melanda pun ekonomi Indonesia tidak pernah meroket seperti itu. Bahkan terus mentok di angka 5 persen dan sempat nyungsep di 4 persen.

“Ini seperti jual harapan, tapi kinerja nyusahin!,” tutupnya.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengaku pesimistis, proyeksi pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8,3 persen di kuartal II 2021. Hal ini disebabkan oleh lonjakan kasus covid-19 yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir.

"Kuartal II yang disampaikan minggu lalu 7,1 sampai dengan 8,3 persen. Seiring dengan kenaikan covid, mungkin upper end-nya akan lebih rendah," kata dia dalam video conference APBN Kita, Senin (21/6). (RMOL)