Arab Saudi dan Uni Eropa Melarang Wisatawan yang Disuntik Vaksin Made In China
logo

2 Juni 2021

Arab Saudi dan Uni Eropa Melarang Wisatawan yang Disuntik Vaksin Made In China

Arab Saudi dan Uni Eropa Melarang Wisatawan yang Disuntik Vaksin Made In China


GELORA.CO - Arab Saudi dan Uni Eropa melarang pelaku perjalanan yang telah divaksinasi dengan vaksin dari China, ketika hendak memasuki negaranya.

Sebelumnya, Arab Saudi memperbarui pembatasan perjalanannya, termasuk persyaratan untuk menggunakan Pfizer, AstraZeneca, Moderna, dan Johnson dan Johnson untuk memasuki negarnya.

Dalam daftar tersebut Arab Saudi tidak memasukkan lima vaksin yang berasal dari China termasuk Sinovac dan Sinopharm yang banyak digunakan.

Pada 19 Mei, Uni Eropa menyetujui untuk melonggarkan pembatasan perjalanan pada pengunjung asing menjelang musim panas.

Namun, blok tersebut hanya menerima vaksin yang disahkan oleh European Medicine Agency (EMA), yang tidak termasuk vaksin buatan China.

Setelah pengumuman itu, kementerian luar negeri Pakistan pada hari Minggu meminta kerajaan untuk memasukkan vaksin China ke dalam daftarnya, karena vaksin tersebut banyak digunakan di negara tersebut.

Malaysia juga menyuarakan hal yan sama, ketika pemerintahnya berusaha membahas masalah ini dengan Arab Saudi.

"Jika mereka telah mendaftar atau telah ditusuk dengan Sinovac, maka kami akan membahas masalah ini dengan pemerintah Arab Saudi untuk memberikan kelonggaran bagi mereka," kata Khairy Jamaluddin, Menteri Sains, Teknologi dan Inovasi, seperti dikutip dari TRT Word.

Sebagian besar vaksin Sinopharm dan Sinovac telah diberikan kepada orang-orang di China, yang sejauh ini telah mengimunisasi 243 juta orang menurut angka negara tersebut.

Hingga Maret 2021, lebih dari 115 juta vaksinnya telah didistribusikan China ke sekitar 60 negara, termasuk Brasil, Turki, Pakistan, dan Malaysia dan Indonesia.

Pada awal Mei, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memberikan otorisasi darurat kepada Sinopharm, yang dapat berarti bahwa vaksin tersebut dapat digunakan untuk meningkatkan upaya yang didukung WHO untuk berbagi dosis secara adil di seluruh dunia.

Selama ini, China hanya mengakui vaksinnya produksinya sendiri. Hal ini berarti bahwa warga negara Asing juga akan menghadapi kesulitan untuk melakukan perjalanan wisata atau peluang bisnis ke negara tersebut.

Konsekuensinya jutaan orang yang tidak dapat memilih vaksin yang mereka dapatkan akan menghadapi pilihan perjalanan yang terbatas kedepannya, dengan konsekuensi yang mengerikan bagi industri pariwisata internasional dan peluang bisnis di seluruh dunia. []