RI Impor Senjata dari Israel pada 2020, Jubir Prabowo: Tak Ada Pengadaan Kemenhan

RI Impor Senjata dari Israel pada 2020, Jubir Prabowo: Tak Ada Pengadaan Kemenhan

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO -  Sepanjang 2020, Indonesia mengimpor produk senjata dan amunisi (kode Standard International Trade Classification 891) dari Israel senilai US$ 1,32 juta. Juru bicara Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, Dahnil Anzar Simanjuntak, pun menyatakan impor senjata ini tidak dilakukan oleh pihaknya.

"Tidak ada pengadaan dari pihak Kementerian Pertahanan," kata Dahnil saat dihubungi di Jakarta, Rabu, 19 Mei 2021.

Saat ini, isu pemboikotan terhadap produk Israel kembali mencuat di tanah air di tengah konflik negara tersebut dengan Palestina. Ini bukan isu baru karena sejak 2016, Presiden Joko Widodo atau Jokowi sudah menyerukan boikot produk Israel.

Tapi di sisi lain, Indonesia sebenarnya masih rutin mengimpor berbagai produk dari Israel. Secara total, nilai impor produk Israel ke Indonesia sepanjang 2020 mencapai US$ 56,54 juta. Jumlah ini mencapai 0,03 persen dari total impor 2020 yang sebesar US$ 141,57 miliar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lima golongan barang (SITC) utama yang diimpor Indonesia dari Israel sepanjang 2020. Barang impor terbesar yaitu produk mesin pemroses data dan perangkatnya (752) dengan nilai US$ 39,5 juta. Selanjutnya peralatan telekomunikasi dan suku cadangnya (764) senilai US$ 3,9 juta.

Lalu, peralatan manual dan mesin (695) dengan nilai US$ 3,7 juta. Terakhir, mesin jilid untuk buku dan percetakan (726) senilai US$ 1,4 juta. Barulah diurutan kelima senjata dan amunisi senilai US$ 1,32 juta.

Sejauh ini, Indonesia tidak memiliki kerja sama perdagangan Israel. Saat Jokowi menyerukan boikot di tahun 2016, Kementerian Perdagangan sudah pernah menjelaskan bahwa produk-produk Israel yang ada di tanah air selama ini masuk lewat jalur jual-beli negara ketiga.

"Misalnya, ada trader asal Italia yang membeli produk Israel, lalu dia menjual barang itu lewat trader lain yang mengimpornya ke Indonesia." kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan saat itu, Iman Pambagyo. []
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita