Pembangkangan Para Romo Katolik di Jerman: Berkati Pernikahan Kaum Homo
logo

25 Mei 2021

Pembangkangan Para Romo Katolik di Jerman: Berkati Pernikahan Kaum Homo

Pembangkangan Para Romo Katolik di Jerman: Berkati Pernikahan Kaum Homo


GELORA.CO - Ketika suara lonceng gereja sayup-sayup menghilang berganti dengan suara organ, Romo Jan Korditschke berjalan menuju altar untuk memimpin misa. Ini adalah ritual ibadah yang sangat biasa dilakukan dalam ibadah Minggu umat Katolik.

Tapi ada perasaan gugup di antara para jemaat. Sesuatu yang sangat tak biasa akan terjadi.

Romo Korditschke mengatakan bahwa setiap orang yang ingin mendapat pemberkatan harus berdiri.

Sebagian besar jemaat berdiri, termasuk sejumlah pasangan sesama jenis.

Saat harpa mulai dimainkan, pastor mulai bergerak mengelilingi aula gereja. Dengan tenang ia mengatakan kepada jemaat yang berdiri, apa yang ingin didoakan. Kemudian ia mengangkat kedua tangannya di atas kepala jemaat yang tertunduk dan mulai membisikkan kalimat doa.

Banyak air mata umat tumpah saat Romo Korditschke berdoa. Sebab, bagi umat Katolik lesbian dan gay di sini, itulah pertama kalinya mereka merasa diterima secara penuh setelah seumur hidup beribadah ke gereja.

"Ini sangat memilukan, dan saya menyadari bagaimana terlukanya perasaan saya," kata Sangha, satu dari umat yang hadir. Ia bersama Frieda, pasangan lesbiannya selama 25 tahun.

"Selama 49 tahun, saya tak pernah mendapat penerimaan. Tapi akhirnya, orang-orang mulai mengatakan: Tak apa-apa kamu berada di sini,” jelasnya.

Vatikan membuat umat Katolik liberal terkejut

Matthias, yang terlahir sebagai Katolik dan diberkati bersama pasangannya, Thomas, mengaku tak pernah punya persoalan untuk pergi ke misa. Tapi pernyataan-pernyataan dari para pemuka Katolik telah membuatnya mempertimbangkan untuk meninggalkan gereja.

"Saya sering bertanya-tanya apakah saya bisa bertahan di gereja yang tak menginginkan saya. Tapi gereja 'sesungguhnya' ada di sini, berdiri di atas tanah ini, memulihkan keimanan saya lagi,” terangnya.

Pada Maret lalu, Vatikan mengeluarkan pernyataan tegas yang menekankan bahwa pasangan sesama jenis "berdosa" seraya menggarisbawahi larangan bagi pastor untuk memberkati pasangan sejenis.

Pemberkatan kepada pasangan sesama jenis adalah sesuatu yang sangat individual, kadang-kadang dilakukan oleh pastor yang memiliki pemikiran liberal - tapi sampai saat ini jarang muncul ke publik.

Pernyataan terbuka dari Vatikan ini telah mengejutkan umat Katolik liberal di Jerman. Sebagai respons dari pernyataan itu, ribuan pastor, biarawati, dan jemaat paroki meluncurkan sebuah kampanye bernama Liebe gewinnt (Cinta menang), untuk menjelaskan secara terbuka bahwa LGBTQ diterima di gereja.

"Saya merasa marah, dan malu, karena menurut saya itu merupakan pernyataan yang menyakitkan," kata Romo Korditschke.

Dia adalah satu dari 120 pastor di Jerman yang secara terbuka menentang larangan Vatikan.

'Bagaimana mungkin Anda tak memberkati orang yang sedang berduka?'
Selama kurun waktu satu minggu, para pastor mengadakan misa di gereja-gereja Katolik di seluruh Jerman yang melayani pemberkatan bagi mereka yang menginginkannya, termasuk pasangan yang disebut Vatikan sebagai 'pendosa', seperti orang-orang yang bercerai atau pasangan sesama jenis.
Ketika saya bertanya kepada Romo Korditschke, bagaimana dia membenarkan pembangkangan terhadap aturan Vatikan, dia menjawab dengan berlinang air mata.

Menurutnya, ada seorang jemaat yang meletakkan sekuntum mawar di kursi sebelahnya. Bunga itu ditujukan bagi kekasihnya yang telah meninggal beberapa bulan lalu.

Jemaat tersebut, menurut Romo Korditschke, telah menuturkan duka yang dialaminya, dan dia meminta agar pasangannya yang telah meninggal diberkati. Pemberkatan ini membantu sang jemaat meringankan duka setelah kehilangan orang yang ia cintai.

Perempuan di atas mimbar

Organisasi akar rumput seperti Maria 2.0, juga meminta persamaan hak perempuan di Gereja.

Sehari setelah misa yang dipimpin Romo Korditschke di Berlin, kalangan perempuan berkhotbah di 12 gereja Katolik di Jerman - sesuatu yang sangat tidak disukai Vatikan.

"Gereja Katolik pernah menyampaikan bahwa Bumi itu datar, dan mengatakan kepada kita untuk meyakininya. Gereja harus mengubah posisinya. Atau Anda seharusnya yakin bahwa Adam dan Hawa adalah manusia sebenarnya," terang Ulrike Göken-Huismann, yang menyampaikan khotbah di gerejanya di Düsseldorf.

"Bukannya Gereja tak pernah mengubah ajarannya,” lanjutnya.

Kalangan pemuka gereja di Jerman terbagi: keuskupan liberal yang mendukung sejumlah reformasi, sedangkan pemimpin Gereja konservatif menyokong garis keras Vatikan.

Namun, jajak pendapat menunjukkan umat Katolik di Jerman cenderung lebih liberal.

Sebuah survei yang dilakukan oleh beberapa universitas di Berlin dan Münster menunjukkan 70% umat Katolik Jerman mendukung pemberkatan bagi pasangan sesama jenis; 80% tak mempersoalkan pasangan yang hidup di luar pernikahan; dan 85% meyakini para pastor semestinya bisa menikah.

Setelah pasangan sesama jenis mendapat pemberkatan di Berlin, sekitar 100 orang berkumpul di luar gereja, untuk minum anggur bersoda di bawah matahari sebagai bentuk perayaan.

Tapi di gerbang gereja, sekitar 10 pengunjuk rasa mengusung poster bertuliskan "Tuhan tak memberkati dosa".

Tak ada rasa permusuhan di antara dua kelompok. Kedua kelompok adalah bagian penting Gereja Katolik yang berbeda pendapat.

“Itu tidak apa-apa,” kata Romo Korditschke sambil tersenyum.

Apa yang dikatakan Paus Fransiskus tentang homoseksualitas?

Oktober 2020: Paus Fransiskus mengatakan kepada pembuat film dokumenter bahwa pasangan sesama jenis semestinya diizinkan untuk menjadi "pasangan sipil". "Orang-orang homoseksual... adalah anak-anak Tuhan dan memiliki hak untuk berkeluarga. Tak ada yang harus diusir, atau dibuat sengsara karenanya."

Oktober 2014: Uskup di sinode Gereja menolak proposal untuk menerima lebih jauh kelompok gay yang mendapat dukungan dari Paus.

Juli 2013: Dalam sebuah penerbangan, Paus mengatakan kepada para jurnalis bahwa kelompok gay tak semestinya dimarjinalisasi, tapi diintegrasikan kepada masyarakat. Pendeta gay harus dimaafkan, dan dosa mereka dihapuskan.

2013: Dalam buku On Heaven and Earth, Paus mengatakan bahwa menyamakan hubungan sesama jenis dengan pernikahan heteroseksual secara hukum akan menjadi "sebuah kemunduran antropologis".

2010: Saat menjadi Uskup Agung Buenos Aires, dia menentang pernikahan sesama jenis, tapi secara hukum mendukung sejumlah perlindungan bagi pasangan sesama jenis. []
close
Subscribe