Guru yang Lumpuh Usai Vaksin Didiagnosis GBS, Ini Respons Keluarga

Guru yang Lumpuh Usai Vaksin Didiagnosis GBS, Ini Respons Keluarga

Gelora Media
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) Hindra Irawan Satari mengatakan sudah selesai melakukan investigasi terkait kelumpuhan yang dialami guru Susan usai menjalani vaksinasi. 

Hasil investigasi itu tidak terbukti antara sakitnya guru honorer asal Sukabumi itu dengan vaksinasi COVID-19 yang dijalaninya.

Yayu (26) adik dari guru Susan mengatakan keluarganya selama ini memang tidak menyalahkan vaksin. Namun, faktanya sakit yang dialami Susan terpicu setelah vaksinasi. Yayu dengan tegas mengaku tidak puas dengan hasil investigasi yang diberikan KIPI.

"Dari awal juga kita tidak mempermasalahkan vaksinnya. Hanya kan si teteh (Susan) seperti ini setelah divaksin, ibarat kalau punya penyakit darah tinggi punya pantangan enggak boleh makan yang dipantang, ketika ada yang memberi makanan pantangan lalu dimakan kemudian akan bereaksi begitu kan ya?" kata Yayu melalui sambungan telepon, Senin (3/5/2021).

Menurut Yayu, pihak keluarga dari awal sudah menerima diagnosa Susan mengalami guillain barre syndrome atau GBS dari RSHS Bandung. Namun baik Susan kakaknya maupun keluarga tidak tahu soal GBS tersebut sampai akhirnya sakit usai vaksinasi.

"Berarti kan ada pemicunya, jadi seperti itu. Ditambah si teteh itu diagnosanya dari rumah sakit memang GBS, si teteh enggak tahu kalau dia itu GBS dan lain sebagainya. Karena sebelum vaksin di screening dulu, jadi memang ketika benar ini pemicunya vaksin keluarga bingung karena kejadiannya memang terbukti terjadi setelah vaksin," ucap Yayu.

Menurut Yayu, selama ini kondisi sang kakak baik-baik saja. Tidak ada gangguan sakit serius dialami Susan. Namun pada tahun 2006 silam, kakaknya pernah dirawat dan lemas namun menurut keterangan dokter saat itu dipicu karena gejala typus.

"Dulu pernah lemas, dan pernah dirawat di RSUD Palabuhanratu, tapi itu bukan penyakit lumpuh dan lain sebagainya. Itu typus, pernah dirawat selama 3 hari, kalau enggak salah kata mamah tahun 2006. Tiga hari dirawat di sana itu gejala typus bukan lumpuh," ungkap Yayu.

"Padahal si teteh itu sehat, teteh itu orangnya energik, semangat, guru tari bayangin. Enggak permah sakit teteh itu, namun tiba-tiba kondisinya seperti ini. Mungkin kalau untuk GBS kita enggak tahu kedokteran si teteh diperiksa di RSHS. Kemudian keluar diagnosa GBS karena kita tidak tahu kedokteran, jadi ya mungkin yang dialami oleh tubuh si teteh," sambung dia.

Yayu kembali menegaskan tidak menyalahkan vaksin. Namun, ia berharap ada perhatian dan tanggung jawab dari pihak terkait karena faktanya Susan mengalami sakit usai vaksinasi.

"Sekali lagi dari awal kita enggak mempermasalahkan vaksin, Yayu juga divaksin dan faktanya Yayu enggak kenapa-kenapa. Persoalan si teteh, cuma mungkin pemicunya dimasukkan vaksin. Harapan keluarga karena ini kejadiannya setelah vaksin ada tanggung jawab ada perhatian gitu kan ya. Seperti itu, dari awal enggak mempermasalahkan vaksinnya, cumankan kejadiannya setelah vaksin," kata Yayu.

Yayu juga meminta penjelasan terperinci. Dia ingin kakaknya bisa kembali sehat seperti dulu. "Keterangan KIPI, hanya sekilas kurang jelas. Si teteh kan di rumah sakit juga diambil cairan tulang sumsum belakang, itu katamya normal," ujar dia.(dtk)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita