Disaat Rakyat Palestina Berduka, Dimana Peran Konkret Pemerintah RI?

Disaat Rakyat Palestina Berduka, Dimana Peran Konkret Pemerintah RI?

Gelora Media
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Di tengah semarak dan kegembiraan Idul Fitri 1442 yang kerap kita sebut sebagai hari kemenangan, kita kembali diterpa kabar duka. Kabar duka ini datang dari saudara-saudara kita di Palestina.

Rakyat Palestina  diserang oleh Israel yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa ratusan orang jumlahnya. Berdasarkan data yang dirilis Law-Justice.co (edisi Selasa, 11/5), korban tewas dan luka-luka pada Senin (10/5) sudah mencapai 305 orang warga Palestina.

Serangan itu terus berlanjut sehingga korban terus bertambah jumlahnya.Melansir Al-Jazeera, hingga Sabtu (15/5/2021) pagi setidaknya 137 warga Palestina, termasuk 36 anak-anak, telah meregang nyawa.

Sementara itu sebanyak 920 orang mengalami cedera. Korban tewas diperkirakan akan meningkat, karena serangkaian serangan udara Israel lainnya menghantam kamp pengungsi Shati di Gaza yang menewaskan sedikitnya dua wanita, termasuk enam anak dan balita. Diperkirakan masih banyak korban lainya yang belum diketahui persis berapa jumlahnya.

Serangan udara lain juga dilaporkan melanda sebuah rumah di Khan Yunis sehingga menyebabkan ribuan keluarga Palestina harus mencari tempat perlindungan  di sekolah-sekolah yang dikelola Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) di Gaza utara untuk menghindari tembakan artileri Israel yang membabi buta.

Meski telah sedemikian parah dan mengorbankan banyak nyawa, PM Israel Benjamin Netanyahu tetap bersikeras melakukan penyerangan dan mengatakan bahwa kekerasan akan terus berlangsung  lama. 

Duka rakyat Palestina ditengah perayaan hari raya seyogyanya memang membuka mata dan nurani kita untuk ikut menyikapinya. Mengapa kita harus membantu rakyat Palestina ? Apakah berpihak kepada rakyat Palestina itu sudah menjadi sikap bangsa Indonesia sejak lama ?, Bagaimaan seharusnya pemerintah menyikapi terjadinya serangan  Israel ke Palestina ?

Mengapa Perlu Membantu Palestina ?

Ketika terjadi konflik antara Israel dan Palestina, mau tidak mau bangsa Indonesia memang harus membantu rakyat Palestina. Karena sesungguhnya bangsa Indonesia sendiri mempunyak hutang terhadap bangsa Palestina. Hutang itu bukan berupa uang atau harta benda melainkan dukungan atas kedaulatan bangsa Indonesia yang memproklamirkan diri sebagai bangsa yang merdeka.

Sebagaimana kita  pahami bersama bahwa kemerdekaan Indonesia tak lepas dari peran dan dukungan dari negara lain di dunia. Salah satu negara di dunia yang sejak awal mula mengakui kemerdekaan Indonesia adalah Palestina. Karena  rasa persaudaraan dan ukhuwah sesama muslim, mereka tak ragu untuk menggabungkan semangat kepada negeri ini untuk merdeka. Dengan demikian ada hubungan yang erat antara proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dengan ekspresi kecintaan dan antusias bangsa Palestina kepada kemerdekaan bangsa Indonesia.

Sejarah mencatat, setahun sebelum Indonesia merdeka, tepatnya 6 September 1944, seorang Syekh Amin Al Hussaini yang tinggal di Yerusalem namun saat itu berada dipengungsian Jerman, melakukan seruan dan mengobarkan semangat agar Indonesia memperjuangkan kemerdekaannya.Seruan itu disiarkan melalui radio dan menjadi viral di tanah Palestina hingga menggaung ke Indonesia yang waktu masih itu dibawah cengeraman Belanda.

Palestina melalui Mufti Besarnya Amin Al Husaini menggalang Negara-negara Islam untuk memberikan pengakuan  kepada Indonesia yang telah memproklamirkan kemerdekaannya. Setelah bersusah payah Negara-negara Timur Tengah akhirnya ikut mendukung kemerdekaan Indonesia. Adapun Negara yang akhirnya ikut mengakui kemerdekaan Indonesia yakni Mesir, Suriah, Irak, Lebanon, Yaman,  Afganistan dan Saudi Arabia.

Bukan hanya itu, seorang pengusaha asal Palestina ada yang  rela memberikan seluruh hartanya untuk digunakan para pejuang Indonesia merebut kemerdekaannya. Adalah  Muhammad Ali Taher, seorang saudagar kaya Palestina yang spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata, "Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia".

Setelah itu dukungan mengalir darimana mana, di jalanan Palestina terjadi gelombang demonstrasi untuk solidaritas dan dukungan kepada Indonesia..  Sejarah membuktikan bahwa Palestina adalah negara pertama yang mengakui Indonesia sebagai negara yang merdeka.Negara yang jauhnya ribuan kilo dari Indonesia, dengan lantang bersuara untuk kemerdekaan Indonesia.Karena mereka tahu bahwa Indonesia adalah saudara mereka.

Alhasil proklamasi  kemerdekaan RI secara de facto pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarno-Hatta  tertolong dengan adanya pengakuan dari tokoh-tokoh Timur Tengah, sehingga negara Indonesia bisa menjadi negara yang merdeka. Karena perlu diingat bahwa untuk berdiri (de jure) sebagai negara yang berdaulat, Indonesia membutuhkan pengakuan dari bangsa-bangsa lain di dunia.

Dan Pengakuan  dukungan untuk kemerdekaan Indonesia ini dimulai dari Palestina dan Mesir serta  negara negara Timur Tengah lainnya. Seperti dikutip dari buku "Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri" yang ditulis oleh M. Zein Hassan Lc, Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, menyatakan dalam bukunya pada hal. 40, menjelaskan tentang peran serta, opini dan dukungan nyata Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia, di saat negara-negara lain belum berani untuk memutuskan sikapnya.

Apa yang disampaikan diatas merupakan  fakta penting tentang dukungan dari saudara kita di Palestina atas kemerdekaan Indonesia. Negara yang di zaman ini masih dalam penjajahan Israel dengan dukungan Amerika dan sekutunya.Sehingga sudah sepatutnya kita warga Indonesia membalas jasa atas kebaikan ini, dengan memberikan dukungan perlawanan memerangi Negara Israel yang kini menjajah warga Palestina.

Sebagai banga yang sudah berdaulat dan merdeka atas dukungan negara Palestina, tegakah kita sebagai bangsa Indonesia membiarkan bangsa Palestina berjuang sendiri untuk memperoleh kemerdekaannya ? 

Tentunya kita tak ingin dicap sebagai bangsa yang lupa kacang sama kulitnya. Karena faktanya Palestina dan Mesirlah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia bukan bukan China, bukan USA, bukan pula  Perancis, Inggris, Jerman atau Australia. Justru setelah Indonesia merdeka, negara negara itu sibuk untuk menancapkan kukunya guna menyebarkan idiologinya dan mengincar kekayaan Indonesia yang berlangsung hingga pemerintah yang sekarang berkuasa.

Sesungguhnya alasan mengapa kita harus berpihak ke  Palestina bukan semata mata karena negara itu  pernah  membantu memberikan dukungan pada kemerdekaan Indonesia tetapi karena juga merupakan perintah konstitusi kita yaitu UUD 1945

Pembukaan UUD 1945 menyatakan bahwa  kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri keadilan. Pernyataan ini  jelas bahwa konstitusi kita menolak segala bentuk penjajahan oleh suatu bangsa terhadap  bangsa lain di dunia.

Di tengah kondisi hiruk pikuk membela Palestina, kita patut menyayangkan adanya  sebagian anak anak bangsa yang nyinyir akan perjuangan rakyat Palestina dan pendukungnya.  Mereka seolah olah tidak sepakat kalau penjahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan sebagaimana bunyi pembukaan UUD 1945.

Teladan Bapak Bangsa

Kemerdekaan adalah hak segala bangsa termasuk kemerdekaan untuk bangsa Palestina.Rupanya pesan konstitusi ini begitu menjiwai semangat perjuangan Bapak bangsa yaitu Ir. Soekarno yang menjadi proklamator kemerdekaan bangsa Indonesia bersama Mohammad Hatta. 

Karena semangat itu pula maka pada waktu berlangsungnya  Konferensi Asia Afrika (KAA), Soekarno telah mendorong bangsa bangsa di Asia dan Afrika untuk  memberikan legitimasi yang kuat bagi Palestina untuk diperjuangkan sebagai negara yang merdeka seutuhnya.

Tercatat dalam sejarah, pada jaman Bung Karno, Indonesia  telah memberikan perlawanan yang keras dan tegas terhadap Israel yang dinilai sebagai penjajah bangsa Palestina. Bagi Soekarno,  tiap bangsa punya hak menentukan nasibnya sendiri tanpa melalui pengaturan dan campur tangan negara lainnya.

Bung Karno sampai akhir hayatnya tidak mau mengakui negara Israel yang diproklamirkan oleh David Ben Gurion pada 14 Mei 1948 karena telah merampas tanah rakyat Palestina.

Sebagai bentuk perlawanan tersebut, Indonesia tidak mau membuka hubungan diplomatik dengan Israel yang menjadi musuh Palestina. Bahkan ucapan selamat dan pengakuan kemerdekaan Indonesia yang dikirimkan Presiden Israel Chaim Weizmann dan Perdana Menteri Ben Gurion tak pernah ditanggapi serius pemerintah Indonesia. 

Tak berhenti sampai disitu, Bung Karno juga menolak keras mengajak Israel dalam Konfrensi Asia Afrika (KAA) pada 1953. Bung Karno beralasan jika Israel sampai ikut maka hanya akan menimbulkan perasaan luka bangsa-bangsa Arab yang masih terjajah seperti Palestina. Apalagi Israel adalah salah satu bentuk negara  imperialis yang harus dilawan keberadaannya

Dalam tulisan Tonggak-Tonggak di Perjalananku, Ali Sastromidjojo menyebut bahwa niat Bung Karno menggelar KAA adalah untuk membangun solidaritas diantara negara peserta KAA untuk satu front melawan kolonialisme di dunia. Bung Karno dalam pidatonya juga selalu mengatakan bahwa kolonialisme adalah bentuk ancaman yang bisa berubah bentuk  atau rupa. Neokolonialisme itu ada di berbagai penjuru bumi, seperti Vietnam, Palestina, Aljazair, dan seterusnya. 

"Imperialisme yang pada hakikatnya internasional hanya dapat dikalahkan dan ditundukkan dengan penggabungan tenaga antiimperialisme yang internasional juga," ujar Sukarno dalam pidato hari ulangtahun Republik Indonesia ke-21 pada 17 Agustus 1966, sebagaimana dimuat dalam Revolusi Belum Selesai.

Indonesia juga menolak bertanding sepak bola melawan Israel pada tahun 1957 baik di Tel Aviv maupun Jakarta. Indonesia hanya mau bermain di tempat netral tanpa lagu kebangsaan mereka. Sayang, sikap keras Indonesia  itu ditolak persatuan sepak bola dunia (FIFA). Padahal saat itu hanya tinggal satu langkah saja tim Indonesia lolos ke Piala Dunia. Indonesia tinggal memainkan pertandingan penentuan melawan Israel sebagai juara di wilayah Asia Barat setelah menang dilaga laga sebelumnya.

Tapi Bung Karno tetap melarang timnas bertanding melawan Israel apalagi sampai diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaannya. "Itu sama saja mengakui Israel," kata Eks Wakil Komandan Pasukan Tjakrabirawa, Maulwi Saelan menirukan Bung Karno yang dikutip Historia.id.

Saelan yang saat itu juga sebagai penjaga gawang tim nasional dan pernah membawa Indonesia menahan imbang Uni Soviet dalam Olimpiade di Melbourne, 1956 terpaksa menuruti titah Bung Karno. "Ya, kita nurut. Enggak jadi berangkat," kata dia.

Berlanjut di tahun 1962 ketika Indonesia jadi tuan rumah Asian Games IV. Pemerintah Indonesia menolak memberikan visa kepada perwakilan Israel dan Taiwan yang menjadi pecahan China. Alasan resminya karena negara kita nggak punya hubungan diplomatik dengan dua negara tersebut  sehingga tidak enak kepada keduanya.

Meski begitu, alasan sebenarnya masih berhubungan dengan politik antiimperialisme yang dipegang erat oleh Bapak bangsa. Pada waktu itu, negara-negara Arab masih berjuang melawan Israel, dan Tiongkok dikucilkan dunia gara-gara bangsa barat cuma mengakui Taiwan sebagai pemerintahan yang sah dan bukan China. Bagi Soekarno sikap negara negara Barat dan Israel  ini adalah bentuk penindasan negara-negara lama.

Keputusan untuk tidak  memberikan visa ini jelas membuat Komite Olimpiade Internasional (IOC) menjadi murka. Mereka akhirnya menskors keanggotaan Indonesia tanpa ditentukan dengan jelas sampai kapan berakhirnya.  Meskipun mendapatkan sanksi, Soekarno tetap teguh dengan pendiriannya.

Soekarno akhirnya malah memerintahkan Komite Olimpiade Indonesia untuk sekalian saja keluar dari IOC. Sebagai tandingan, ia membentuk Ganefo atau pesta olahraganya negara-negara berkembang. Hal ini dilakukannya sebagai tanda kebesaran bangsa yang nggak bergantung dengan kekuatan dunia. 

Soekarno tetap  teguh mempertahankan pendiriannya bahkan sampai kekuasaannya berakhir ditangan pemimpin Orba. Dalam pidato ulangtahun kemerdekaan Indonesia yang ke-21, Soekarno mengungkapkan bagaimana Indonesia harus bangga sebagai bangsa yang konsekuen, berjiwa kemerdekaan, antiimperialisme, serta secara aktif tidak  mengakui Israel yang menjadi musuh Palestina.

"Kita harus bangga bahwa kita adalah satu bangsa yang konsekuen terus, bukan saja berjiwa kemerdekaan, bukan saja berjiwa antiimperialisme, tetapi juga konsekuen terus berjuang menentang imperialisme. Itulah pula sebabnya kita tidak mau mengakui Israel!", begitu seruan pidatonya.

Pada tahun 1962, ia juga pernah dengan tegas mengungkapkan, "Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel."

Sikap Pemerintah Kita

Menyikapi prahara yang saat ini terjadi di tanah Palestina,  Presiden Joko Widodo mengatakan, perkembangan situasi di Palestina merupakan salah satu isu global yang terus menjadi perhatiannya. Dalam beberapa hari terakhir, presiden mengaku sedang  intens  berkomunikasi dengan sejumlah pemimpin dunia mengenai kondisi Palestina. Di antaranya dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Perdana Menteri (PM) Singapura Lee Hsien Loong, dan Muhyiddin Yassin PM Malaysia.

 "Dalam beberapa hari terakhir ini saya telah berbicara dengan Presiden Turki, Yang Dipertuan Agong Malaysia, PM Singapura, Presiden Afghanistan, Sultan Brunei Darrusalam, dan PM Malaysia," ujar Jokowi dikutip dari siaran pers Sekretariat Presiden, Sabtu (15/5/2021). 

Khusus untuk persoalan Palestina,  Presiden Jokowi secara tegas meminta agar agresi yang dilakukan oleh Israel ke negara tersebut agar dihentikan segera. "Indonesia mengutuk serangan Israel yang telah menyebabkan jatuhnya ratusan korban jiwa, termasuk perempuan dan anak-anak. Agresi Israel harus dihentikan," ujar Presiden dalam cuitannya di akun Twitter resminya @jokowi pada Sabtu, 15 Mei 2021. 

Bagaimanapun kita perlu mengapresiasi ketegasan sikap presiden dalam menyikapi agresi Israel ke Palestina. Namun meskipun Indonesia melalui Presidennya telah  bersikap resmi mengutuk agresi militer Israel dan menyerukan agar serangan Israel itu dihentikan segera  tapi  sikap Pemerintah ini masih dinilai lembek oleh beberapa pihak yang peduli pada nasib Palestina.

Saat ini  Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, justru dinilai kurang menunjukkan posisinya. Terkait dengan hal ini politikus Partai Demokrat Andi Arief bahkan beberapa kali menyindir sikap pemerintah Indonesia. 

”Pernah ada rencana bantuan amerika 28,5 T buat Indonesia jika berbaik-baik dengan Israel. Saya tidak terlalu mengikuti apakah ada realisasinya. SEPERTI ketidaktahuan saya apakah ada hubungan lembeknya Pak Jokowi terhadap situasi Palestina saat ini,” cuit Andi Arief lewat akun twitter @Andiarief__, Jumat (14/5/2021) malam.

Unggahan Andi Arief ini langsung direspons koleganya sesama kader Demokrat, Rachland Nashidik. Dia melampirkan sebuah berita soal pernyataan CEO US International Development Finance Corp, Adam Boehler bahwa Amerika Serikat akan memberikan bantuan sebesar US$ 2 miliar atau Rp28,5 triliun kepada Indonesia jika berdamai dengan Israel yang menjadi musuh Palestina.

Bukan kali ini saja Andi Arief menyindir sikap pemerintah Indonesia. Pada tweet sebelumnya, Andi Arief menuliskan tweet bahwa politik Indonesia saat ini bebas pasif, untuk menunjukkan lemahnya peran Indonesia di kancah politik dunia.Dia juga menuliskan permintaan maaf karena Indonesia tidak bisa membantu warga Palestina. Sebaliknya di mata Andi Arief, Indonesia akan membutuhkan bantuan warga Palestina.

”Maafkan Indonesia, tak bisa banyak berbuat untuk Palestina. Pemerintah kami sudah tidak terlalu berperan di dunia internasional. Kehilangan legitimasi internasional akibat salah jalan politik dalam negeri. Justru kami mohon doa jika suatu saat terjadi di negeri ini, bantu kami,” cuit Andi Arief pada Rabu (13/5/2021).

Sementara itu  Wakil Ketua  Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Fahri Hamzah, meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun tangan mendesak PBB dan komunitas internasional mendesak Israel untuk menghentikan agresi militernya  terhadap warga Palestina di Jalur Gaza. 

“Serangan udara Israel ke jalur Gaza 11 Mei 2021 telah  menewaskan 26 orang. Sehari sebelumnya tentara Israel juga menembaki warga Palestina yang sedang menjalankan sholat taraweh di masjid Al Aqsa. Indonesia harus bertindak, hentikan  agresi Pak Presiden (Jokowi),” kata Fahri dalam keterangannya, Rabu (12/5/2021) sebagaimana dikutip monitor.com.

Menurut Fahri, UUD NRI 1945 mengamanahkan, bahwa  sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

 “Sekarang, ketika kebiadaban dan agresi mencipta memar di wajah kemanusiaan Palestina, maka kita menjadi tersadar. Indonesia tidak boleh diam,  tapi juga memerlukan lebih dari sekedar kata-kata dan sikap,” tegasnya. 

Belajar dari semangat Bapak bangsa Soekarno dalam menyikapi Israel yang menjadi musuh Palestina kiranya presiden Jokowi memang perlu bertindak lebih tegas dengan aksi nyata. Tidak sekadar mengutuk atau meminta agar agresi itu dihentikan segera.  Presiden Jokowi perlu tampil di depan untuk memulai menjadi pemimpin global dengan memainkan perannya dalam percaturan politik dunia, diantaranya menghentikan agresi Israel dan memerdekakan Palestina. 

Indonesia perlu tampil  di garda  terdepan dalam memerangi kolonialisme dan imperialism sebagaimana yang dikehendaki oleh para pendiri bangsa sekaligus amanat pembukaan UUD 1945. Indoneisa jangan lagi sebagai kekuatan mayoritas umat Islam yang lama tertidur menyaksikan penjajahan berlangsung diatas dunia.

Saat ini yang sering terdengar dan di elu elukan sebagai pembela utama bangsa Palestina adalah presiden Turki Thoyyib Erdogan yang getol menggalang kekuatan pemimpin dunia dalam kerangka melawan Israel yang mengobok obok Palestina.

Pada hal sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar di dunia Indonesia bisa memainkan peran konkritnya melalui diplomasi global misalnya berupaya mengonsolidasikan negara-negara anggota OKI (Organisasi Kerjasama Islam) untuk memberi tekanan kepada Israel secara politik, ekonomi atau cara cara lainya.

Dengan inisiatif pemerintah Indonesia,  negara anggota OKI perlu membawa masalah Palestina ke PBB untuk pemberian sanksi kepada Israel agar ada efek jera. Memang saat ini terlihat lembaga dunia seperti Dewan Keamanan PBB yang semestinya mengambil inisiatif dalam menjaga keamanan dan ketertiban dunia seakan lumpuh tak berdaya. 

Oleh karena itu ditengah tengah kondisi dimana lembaga lembaga dunia seperti PBB yang sudah tidak terdaya karena dibawah kendali negara adidaya seperti Amerika (sebagai pendukung utama Israel), maka Indonesia harus berani menunjukkan ketegasan dan prinsip perjuangannya dalam menjaga ketertiban dunia.

Dalam kondisi seperti ini kita memang merindukan sosok seperti Soekarno yang mempunyai prinsip, keteguhan  dan keberanian dalam bersikap  membela Palestina sehingga di segani pemimpin pemimpin dunia. Mungkinkah sikap serupa bisa ditunjukkan oleh Presiden yang sekarang berkuasa di Indonesia ?

[ljc]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita