Analisis Kubu Moeldoko vs PD di Isu Pilgub DKI: Perang Menurunkan Kelas
logo

4 April 2021

Analisis Kubu Moeldoko vs PD di Isu Pilgub DKI: Perang Menurunkan Kelas

Analisis Kubu Moeldoko vs PD di Isu Pilgub DKI: Perang Menurunkan Kelas


GELORA.CO - Kubu Moeldoko menyatakan siap mendukung Ketum Partai Demokrat (PD) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) jika ingin maju di kembali di Pilgub DKI Jakarta. Apa maksud dan tujuan kubu Moeldoko mendorong AHY maju Pilgub DKI?

"Sepertinya itu ingin mencibir balik, karena kubu AHY kan menawarkan islah jika kubu Moeldoko merasa khilaf, bersalah, minta maaf dan siap akan memperjuangkan Moeldoko maju di DKI Jakarta. Nah, kalau soal islahnya sebenarnya nggak ada persoalan. 

Tetapi ketika misalnya kubu AHY akan mengusahakan Moeldoko maju di DKI Jakarta, itu kan secara tidak langsung ingin men-downgrade kewibawaan Pak Moeldoko," kata Direktur Eksekutif Parameter Politik, Adi Prayitno, kepada wartawan, Minggu (4/4/2021).

Sebelum kubu Moeldoko menyatakan siap mendukung AHY maju Pilgub DKI, elite PD lah yang lebih dulu menawarkan demikian. Adalah Rachland Nashidik yang lebih dulu menyatakan PD siap membantu Moeldoko jika ingin maju Pilgub DKI.


Adi menilai pernyataan Rachland itu justru menurunkan kelas Moeldoko. Sebab, Moeldoko sebelumnya digadang-gadang menjadi capres di Pemilu 2024.

"Karena secara tidak langsung pernyataan kubu Demokrat AHY itu ingin men-downgrade, mendelegitimasi posisi Pak Moeldoko yang kemudian turun kelas. Pak Moeldoko ini kan digadang capres 2024, tapi kubu AHY boleh lah kalau mau islah di DKI Jakarta. Nah berawal dari itu kemudian Demokrat kubu Moeldoko ini ingin mencibir balik sebenarnya AHY dengan kesiapannya mendukung AHY maju di Jakarta," tutur Adi.

Lebih lanjut, Adi melihat saling dorong kubu AHY dan Moeldoko agar pucuk pimpinannya maju Pilgub DKI sebagai perang urat saraf politik. Menurutnya, aksi saling dorong ini tidak berefek terhadap legitimasi Partai Demokrat secara hukum.

"Itu kan sebenarnya perang urat saraf politik saja. Tidak ada signifikansi terhadap legalitas partai secara hukum. Karena de facto, karena secara definitif memang kubu AHY sudah menang, menang dalam hal lain, baik secara politik maupun secara hukum," ucap Adi.

"Kalau mau dipersepsikan ini 2-0. Satu, AHY tetap sebagai ketua umum dan legitimate diakui oleh Kemenkumham. Yang kedua dukungan publik yang melimpah kan ke kubu AHY. Sementara kubu Moeldoko belum mendapatkan simpatisan apapun," imbuhnya.

Diberitakan sebelumnya, kubu Moeldoko justru berencana mengusulkan AHY maju di Pilgub DKI. Namun, elektabilitas AHY tetap menjadi pertimbangan.

"Karena AHY dan SBY serius melanjutkan karir AHY, maka dengan pertimbangan yang bijaksana, Pak Moeldoko siap menyalurkan kembali hasrat AHY dan SBY itu untuk maju kali kedua sebagai calon Gubernur DKI. Tentu perlu diuji apakah tingkat popularitas dan elektabilitas AHY sudah bisa mengalahkan Anies Baswedan," juru bicara kubu Moeldoko, Muhammad Rahmad, kepada wartawan, Minggu (4/4).

PD sendiri menolak mentah-mentah. PD menegaskan bahwa AHY saat ini sedang fokus membantu masyarakat terdampak pandemi COVID-19.


"Rahmad siapa? Saya tidak kenal. Tentu tidak produktif untuk saya respons. Apalagi Ketum AHY dan kader Partai Demokrat sekarang fokus kerja untuk rakyat. Lebih bijak pikirkan solusi dan aksi ringankan penderitaan rakyat saat ini," kata Wasekjen PD, Irwan.(dtk)
close
Subscribe