Isu Kudeta Demokrat, M Qadari Ungkit Persaingan dengan PDIP: Oposisi Sejati Buat Jokowi Itu SBY
logo

2 Februari 2021

Isu Kudeta Demokrat, M Qadari Ungkit Persaingan dengan PDIP: Oposisi Sejati Buat Jokowi Itu SBY

Isu Kudeta Demokrat, M Qadari Ungkit Persaingan dengan PDIP: Oposisi Sejati Buat Jokowi Itu SBY


GELORA.CO - Direktur Eksekutif Indo Barometer, M Qadari buka suara soal isu kudeta Partai Demokrat.

Setelah Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengungkapkan gerakan kudeta, M Qadari menduga hubungan Demokrat dan PDIP akan kembali memanas.

Hal itu diungkapkannya dalam kanal YouTube Kompas TV, Senin (1/2/2021).

"Ini akan menimbulkan ketegangan baru antara biru dengan merah," ujar M Qadari.

Menurutnya, ketegangan politik ini tak seharusnya diungkap di masa pandemi Covid-19.

Karena itu, ia pun kembali mengungkit persaingan di Pilpres 2004 lalu.

Kala itu, Megawati Soekarnoputri bersaing dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

"Tentunya ini bukan sesuatu yang baik dalam situasi Covid seperti ini di mana butuh persatuan dan kesatuan," kata M Qadari.

"Kita tahu bahwa selama ini dinamika hubungan biru dengan merah tidak begitu lancar."

"Sebagai implikasi dari Pilpres 2004 yang lalu antara Ibu Mega dengan Pak SBY," sambungnya.

Sejak saat itulah, menurutnya, hubungan Demokrat dan PDIP kerap memanas.

Bahkan, ia menyebut bahwa SBY menjadi opsisi sejati bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Memang menariknya kalau kita amati perkembangan media, sebenarnya 2014-2019 yang menjadi oposisi itu menurut saya Prabowo Subianto," ucap M Qadari.

"Kalau saya melihat dari wacana yang berkembang itu oposisi yang konsisten atau sejati buat Jokowi itu Pak SBY."

"Kan sering tukar-tukaran pernyataan soal Hambalang, soal macam-macam progaramlah," sambungnya.

Karena itu, M Qadari berharap AHY membeberkan identitas orang yang diduga merencanakan gerakan makar Demokrat.

Namun, M Qadari menduga tujuan AHY menyurati Jokowi agar sang presiden mencari informasi perihal pelaku yang diduga melakukan makar.

"Menurut saya, ini di luar faktual atau tidak, memang ada tembok psikologi yang tinggi antara pemerinatah sekarang dengan Pak SBY atau Demokrat."

"Memang penting untuk mengatakan siapa yang berperan agar tidak dianggapsebagai isu atau gosip ya."

"Kalau dari kaca mata Demokrat, saya lihat, ini manuver, motong agar gerakan ini tidak berlanjut."

"Dengan asumsi bahwa Pak Jokowi akan tanya kanan kiri siapa sesungguhnya orang dekat dia yang terlibat dalam gerakan mendongkel Demokrat," tandasnya. []