Gubernur Ganjar Kaget Kantornya Kebanjiran, ProDEM: Sudah Mulai Seperti Pak Jokowi
logo

24 Februari 2021

Gubernur Ganjar Kaget Kantornya Kebanjiran, ProDEM: Sudah Mulai Seperti Pak Jokowi

Gubernur Ganjar Kaget Kantornya Kebanjiran, ProDEM: Sudah Mulai Seperti Pak Jokowi


GELORA.CO - Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku kaget kantornya terendam banjir. Tanggapan ini menuai komentar Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule.

Hujan beberapa jam di Kota Semarang pada Selasa (23/2) siang hingga sore menyebabkan beberapa titik di kota ini mengalami banjir.

Dari video yang beredar di media sosial terutama Twitter, beberapa titik banjir di Semarang antara lain Kantor Gubernur Jawa Tengah, Hall Stasiun Semarang Tawang, Kelenteng Sam Po Kong hingga Simpang Lima Semarang.

Kemudian Jalan Gajah Mada Pekunden Semarang Tengah, Kampung Petelan (Dr Cipto), dan beberapa lokasi lain di Semarang yang videonya diunggah netizen.

Namun sorotannya bukan hanya tertuju pada luas area banjir, juga bukan soal kantor gubernur Jawa Tengah yang terendam.

Melainkan pada sikap Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang kaget lantaran kantornya tergenang.

Saat kantor terendam, Ganjar sedang dalam kunjungan ke Kabupaten Kudus yang sudah terendam banjir selama tiga pekan di beberapa lokasi.

Saat kembali ke kantornya, semua sudah tergenang, mulai lokasi parkiran motor, mobil hingga kantor bagian dalam.

“Tampak sibuk urus pencitraan menuju Istana, sementara rakyat kebanjiran dan banjir tak surut-surut,” tutur Iwan Sumule, Rabu (24/2).

Iwan Sumule secara satire menyebut bahwa Ganjar Pranowo sudah mirip dengan Presiden Joko Widodo yang terkadang kaget dengan apa yang terjadi.

“Lucunya, sudah mulai ikut kagetan seperti Presiden Jokowi. Berarti serius Mas Ganjar Pranowo ingin jadi presiden,” ujarnya.

Namun demikian, Iwan Sumule berharap agar isu yang digulirkan dalam rangka menuju RI 1 tidak berbau hal-hal yang memecah belah bangsa.

Isu muncul harus mendorong agar Indonesia bersatu dan menjadi lebih baik.

“Ironi, kalau isunya masih radikal dan khilafah. Tak menyatukan, membelah,” tutupnya.[psid]