Beberkan Bukti Din Syamsuddin Diduga Radikal, Ade Armando: Kebenciannya pada Pemerintah Membabi Buta
logo

16 Februari 2021

Beberkan Bukti Din Syamsuddin Diduga Radikal, Ade Armando: Kebenciannya pada Pemerintah Membabi Buta

Beberkan Bukti Din Syamsuddin Diduga Radikal, Ade Armando: Kebenciannya pada Pemerintah Membabi Buta


GELORA.CO - Pakar komunikasi politik Ade Armando mengungkapkan ada sejumlah bukti yang menguatkan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin dengan tuduhan sikap radikal.

Hal itu ia sampaikan melalui kanal YouTube Cokro TV, Senin (15/2/2021).

Diketahui Din Syamsuddin dilaporkan Gerakan Anti Radikalisme (GAR) Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) atas dugaan pelanggaran disiplin dan etika sebagai seorang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Awalnya, Ade Armando menjelaskan radikalisme berbeda dengan ekstremisme dan terorisme.

Radikalisme mengacu kepada paham yang ingin menciptakan perubahan mendasar, berjangka panjang, dan mendalam, termasuk dengan melandaskan diri pada ajaran agama tertentu.

"Din memang dikenal dulu sebagai tokoh muslim moderat yang menjadi penjembatan ideologi antarumat," ungkap Ade Armando.

Walaupun begitu, ia menilai sikap Din Syamsuddin kini patut dipertanyakan.

"Namun Din sekarang bukanlah Din yang dulu. Kini kebencian atau kekecewaannya pada pemerintah tampaknya sudah membuatnya menjadi membabi buta," kata Ade.

Ade menilai Din tidak lagi sekadar kritis, tetapi sudah sampai pada tahap menyebarkan kebencian dan perpecahan bangsa.

"Misalnya saja pada 5 Oktober 2020, dia menyebarkan surat kepada publik yang seolah ditujukan kepada Presiden Jokowi. Di dalamnya dia menyebarkan tuduhan ada teror terhadap lambang, simbol, dan pemuka Islam," ungkapnya.

"Dia menuduh ada rentetan tindak kekerasan, penganiayaan, hingga pembunuhan ulama, imam, dai, dan tokoh agama," lanjut dia.

Saat itu Din mengancam tidak mustahil para ulama akan melawan dengan caranya sendiri jika kehilangan kesabaran.

"Masalahnya, dia cuma asal bicara," kata dosen komunikasi ini.

Menurut Ade, tuduhan ini tidak didasari fakta sehingga justru berpotensi memecah belah bangsa.

"Pada 2019 Din berkomentar pedas terhadap Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak gugatan kubu Prabowo untuk membatalkan hasil Pilpres 2019," kata Ade mengungkap bukti lainnya.

Saat itu Din Syamsuddin menuduh ada ketidakjujuran dan ketidakadilan dalam keputusan MK.

Menurut Ade, argumen ini pun tidak dipersiapkan dengan matang.

Alih-alih menuai simpati masyarakat, justru banyak yang mengecam argumen Din.

Contoh lainnya adalah komentar Din terhadap konser amal yang digelar BPIP untuk menggalang dana bagi masyarakat yang terdampak pandemi.

Din menyebut konser itu membuat kesan pemerintah bergembira di atas penderitaan rakyat.

"Karena itu apa yang disampaikan GAR ITB sangat masuk akal," simpul Ade Armando. []