Trump Pecat Bos Pentagon, Persiapan Kudeta Militer terhadap Biden?
logo

13 November 2020

Trump Pecat Bos Pentagon, Persiapan Kudeta Militer terhadap Biden?

Trump Pecat Bos Pentagon, Persiapan Kudeta Militer terhadap Biden?


GELORA.CO - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump merombak Pentagon, termasuk memecat Menteri Pertahanan Mark Esper, di sisa-sisa harinya berkuasa.

Manuver calon presiden petahana Partai Republik yang kalah dalam pemilihan presiden (pilpres) Amerika ini memicu kekhawatiran bahwa itu sebagai persiapan kudeta militer terhadap presiden terpilih Joe Biden dari Partai Demokrat.

Ada juga dugaan bahwa aksi Trump ini bagian dari upaya penarikan seluruh pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan untuk mengakhiri apa yang disebut Trump sebagai perang tanpa akhir tentara Amerika di luar negeri.

Selain Esper, yang dipecat Trump pada hari Senin, kepala staf Esper Jennifer Stewart, pelaksana tugas (plt) kepala kebijakan James Anderson, dan wakil sekretaris intelijen Joseph Kernan juga telah disingkirkan. Mereka digantikan oleh kepala anti-teroris Dewan Keamanan Nasional (NSC) Christopher Miller, beberapa mantan asisten NSC termasuk Jenderal Anthony Tata dan Ezra Cohen-Watnick.

Pembersihan dan penunjukan pejabat Pentagon yang secara luas digambarkan di media arus utama sebagai "loyalis Trump" telah menyebabkan kubu Demokrat dan neokonservatif memperingatkan bahwa kudeta militer mungkin sedang dilakukan terhadap Joe Biden, yang telah mengklaim kemenangan dalam pilpres 3 November.

Membiarkan kemungkinan bahwa Trump bisa saja bertindak karena dendam terhadap orang-orang yang tidak setia kepadanya, Michael Klare dari The Nation mencatat bahwa Miller telah terlibat dalam operasi rahasia di lingkungan perkotaan Irak dan Afghanistan dengan Pasukan Khusus AS.

"Demokrat harus mencari bukti bahwa pembersihan Pentagon menandakan rencana rahasia Gedung Putih untuk menggunakan militer AS dalam mendukung upaya ilegal untuk menumbangkan demokrasi dan memasang Trump sebagai diktator," kata Klare.

Namun, penunjukan pensiunan Kolonel Angkatan Darat Douglas Macgregor sebagai penasihat senior Miller pada hari Rabu menunjukkan arah yang sama sekali berbeda. Pertama kali dilaporkan oleh Axios, hal itu dikonfirmasi oleh Pentagon di kemudian hari, dengan pernyataan yang menyatakan bahwa pengalaman militer puluhan tahun Macgregor akan digunakan untuk membantu dalam keberlanjutan pelaksanaan prioritas keamanan nasional Presiden.

Meski kedengarannya seperti orang Pentagon yang samar-samar, Macgregor terkenal karena advokasi penarikan pasukan AS yang cepat dari Afghanistan—sesuatu yang Trump katakan bulan lalu dia ingin melihatnya pada Natal tahun ini, menjelang timeline 2021 yang dibayangkan dalam perjanjian perdamaian antara AS dengan Taliban.

Lee Fang dari Intercept mengutip seorang pejabat Pentagon secara anonim yang pada dasarnya menegaskan bahwa pembersihan Pentagon ditujukan untuk mengatasi perlawanan oleh birokrat karier dan kompleks industri militer terhadap kebijakan Trump.

“Presiden mengambil kembali kendali DOD (Departemen Pertahanan). Ini adalah kelahiran kembali kebijakan luar negeri. Ini adalah kebijakan luar negeri Trump," ujar pejabat Pentagon tersebut.

“Ini terjadi karena Presiden merasa neokonservatisme telah mengecewakan rakyat Amerika,” imbuh dia.

Trump berkampanye pada tahun 2016 untuk mengakhiri "perang tanpa akhir" AS di luar negeri. Namun, dalam beberapa bulan, dia membiarkan dirinya dibujuk oleh Pentagon untuk meningkatkan aksi tentara AS dengan membom Afghanistan dan meluncurkan rudal ke Suriah.

Setelah semua wilayah yang dikuasai oleh teroris ISIS dibebaskan, Trump mendesak penarikan diri tentara AS dari Suriah, Afghanistan dan Irak—yang mendapat perlawanan dari Pentagon.

Menteri Pertahanan sebelumnya Jim Mattis mengundurkan diri atas keputusan Trump soal Suriah pada akhir 2018. Sebagian besar pasukan AS di sana ditarik pada Oktober 2019. Beberapa pasukan juga ditarik keluar dari Irak tahun ini, dengan alasan kekhawatiran atas virus corona, meskipun banyak yang masih bertahan. Sebuah perjanjian damai dengan Taliban ditandatangani pada bulan Februari tahun ini, setelah hampir 20 tahun perang yang dengan sempurna mendefinisikan "misi merayap".

Tidak dapat disangkal bahwa situasi politik saat ini di Washington—dengan Biden mengklaim dia memenangkan pilpres AS dan Trump menolaknya dengan mengklaim ada kecurangan di negara-negara bagian utama—penuh dengan bahaya. []