Trump Klaim Menang, Netizen +62: Hanya Kurang Sujud Syukur
logo

5 November 2020

Trump Klaim Menang, Netizen +62: Hanya Kurang Sujud Syukur

Trump Klaim Menang, Netizen +62: Hanya Kurang Sujud Syukur


GELORA.CO - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim dirinya telah memenangkan pemilihan presiden atau Pilpres AS 2020, meskipun penghitungan suara belum selesai. Trump pun mengatakan dia akan pergi ke Mahkamah Agung untuk menghentikan penghitungan surat suara via pos yang masih belum selesai.

Trump tanpa dasar atau bukti mengklaim telah terjadi penipuan dalam penghitungan suara. "Ini penipuan terhadap publik Amerika. Ini memalukan negara kita," klaim Trump dalam pidatonya di Gedung Putih. Netizen pun riuh menanggapi soal itu, termasuk yang asal Indonesia.

David Lipson, Kepala Biro ABC Amerika mencuit bahwa Pilpres AS kali ini kesannya sama dengan di Indonesia. "Rasanya seperti politik Indonesia," tulisnya.

Salah satu tanggapan menyebut aksi Donald Trump yang mengklaim kemenangan tetap kurang lengkap tanpa sujud syukur. "lol no until Trump doing sujud syukur in front of his supporters," tulis sebuah komentar.

Rupanya, bahasan sujud syukur cukup ramai di Twitter. "Gak seru, Pilpres AS. Gak ada acara sujud syukur meski Trump juga klaim kemenangan dini," tulis yang lain.

"Trump uda klaim menang aje... Trus minta penghitungan dihentikan. Jangan-jangan sebentar lagi sujud sukur bareng-bareng #eh," sebut netizen berikutnya.

"Jadi siapa yang bakal sujud syukur disiarin TV duluan? Trump apa Biden?" demikian warganet lain menyinggung tentang sujud syukur.

Trump pun mengatakan dirinya telah menang di negara-negara bagian yang sebelumnya tidak dimenangkan Republik. Ia mencontohkan kemenangan sementaranya di sejumlah negara bagian seperti North Carolina, Pennsylvania, Michigan, Wisconsin yang menurutnya sudah tak akan dapat dikejar oleh pesaingnya, Joe Biden.

"Jutaan dan jutaan orang memilih kami malam ini. Dan sekelompok orang yang sangat menyedihkan sedang mencoba mencabut hak pilih dari kelompok orang itu. Dan kami tidak akan membiarkannya," cetus Donald Trump.