Boikot Tak Cukup, Jaringan Al Qaeda Ancam Bunuh Emmanuel Macron
logo

3 November 2020

Boikot Tak Cukup, Jaringan Al Qaeda Ancam Bunuh Emmanuel Macron

Boikot Tak Cukup, Jaringan Al Qaeda Ancam Bunuh Emmanuel Macron


GELORA.CO -  Presiden Prancis, Emmanuel Macron tengah menjadi sorotan dunia Arab dan Muslim karena komentar kontroversialnya terkait dengan Islam. Ia pun diserang karena dianggap mendukung penerbitan kartun Nabi Muhammad.

Sejumlah negara telah menyatakan kecamannya pada Macron, beberapa bahkan menyerukan boikot produk Prancis.

Kelompok  Al Qaeda pun ikut ambil bagian. Jaringan Al Qaeda di Maghreb Islam (AQMI) telah memerintahkan para pengikutnya untuk membunuh siapa saja yang menghina Nabi Muhammad dan mengancam Macron atas komentarnya.

"Membunuh siapa saja yang menghina nabi adalah hak setiap Muslim," begitu laporkan kantor berita AFP yang mengutip pernyataan kelompok al qaeda tersebut.

Lebih lanjut, AQMI menuturkan, boikot produk Prancis merupakan sebuah kewajiban. Namun tindakan tersebut tidak cukup untuk membalas pernyataan Macron.

Menurut AQMI, Macron adalah seorang pemimpin mudah yang tidak berpengalaman, ia memiliki "otak kecil" dan terus menyinggung nabi.

Hubungan antara Prancis dan sebagian dunia Muslim memburuk, khususnya setelah seorang guru di pinggiran kota Paris meninggal karena dipenggal oleh seorang imigran muslim berusia 18 tahun. Guru bernama Samuel Patty itu diserang setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dalam kelasnya.

Macron yang mengutuk pembunuhan tersebut memberikan sang guru penghargaan sipil tertinggi, L├ęgion d'Honneur. Pada saat yang sama, ia membela Patty yang menunjukkan karikatur Nabi Muhammad dan menyatakan akan melindungi hak kebebasan berekspresi.

Sontak komentar Macron dianggap sebagai sebuah dukungan terhadap penghinaan nabi yang membuat banyak pihak marah.

Protes skala besar diadakan di Bangladesh, Lebanon dan Malaysia. Perdana Menteri Pakistan, Imran Khan, menyebut komentar Macron memecah belah, sementara Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menegaskan bahwa pemimpin Prancis itu membutuhkan "pemeriksaan mental". []