Pesan Fadli Zon ke TNI: Jangan Tergiur Jadi Alat Kekuasaan -->
logo

5 Oktober 2020

Pesan Fadli Zon ke TNI: Jangan Tergiur Jadi Alat Kekuasaan

Pesan Fadli Zon ke TNI: Jangan Tergiur Jadi Alat Kekuasaan

GELORA.CO -  Anggota DPR dari Partai Gerindra, Fadli Zonmenyampaikan sejumlah catatan mengenai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-75 TNI pada Senin (5/10/2010) hari ini.

Dengan usianya yang ke-75, TNI dikatakan Fadli telah memiliki sejarah dan kontribusi panjang. Melalui berbagai embrio pembentuknya, termasuk laskar-laskar rakyat, TNI bahkan telah berkontribusi sejak sebelum Republik ini lahir.

"Kontribusi TNI untuk bangsa dan negara kita bukan hanya berada di lapangan militer, melainkan juga dalam berbagai lapangan kehidupan lainnya," tutur Fadli dalam keterangan tertulisnya yang diterima SINDOnews, Senin (5/10/2020).

TNI, misalnya, selalu berada di garda depan dalam berbagai penanganan bencana di tanah air, termasuk saat ini. Di tengah pandemi Covid-19, selain para tenaga kesehatan, TNI juga menjadi elemen penting dalam Satgas Covid-19. Namun, kita berharap peran utama TNI tentulah tetap berada di lapangan pertahanan.

Fadli mengungkapkan saat ini ada dua tantangan besar yang sedang dihadapi TNI. Pertama, tantangan global. Pandemi ini, kata dia, bukan hanya telah berdampak pada masalah kesehatan dan ekonomi, tapi juga turut mengubah dinamika hubungan internasional. Saat ini tak ada lagi kepemimpinan global yang dominan.

Terbukti, lanjut Fadli, menghadapi pandemi ini semua negara cenderung mencari jalan keluar sendiri-sendiri. Tak ada kerja sama internasional. Paling jauh hanya kerja sama multilateral.(Baca juga: Diberi Kejutan oleh Kapolri, Panglima TNI Terharu)

Dari sisi militer, kata dia, kian terkikisnya peran lembaga-lembaga internasional tentu saja harus dicermati. "Ada sejumlah konflik yang saya kira tidak akan pernah bisa diselesaikan tanpa kerja sama internasional yang luas. Misalnya saja konflik Laut Cina Selatan, yang ada di pekarangan kita sendiri. Di tengah perang urat saraf antara Amerika dengan Cina di Laut Cina Selatan, kita berharap TNI tidak kehilangan orientasi strategisnya," tutur politikus Gerindra ini.

Tantangan kedua, kata Fadli dari dalam negeri. Sesudah 20 tahun Reformasi, Indonesia saat ini kembali berada di persimpangan sejarah. Kian terkonsolidasinya kekuasaan di tangan eksekutif, sebagaimana yang terjadi sejak pandemi ini menerjang, tengah menarik mundur praktik demokrasi kita.

"Apakah demokrasi kita akan terus mundur, atau bisa memperbaiki diri, salah satunya juga tergantung pada TNI," tandasnya.

Di tengah tarik-ulur demikian, Fadli berharap agar TNI bisa menjaga profesionalitasnya, tidak tergiur menjadi alat kekuasaan.

Fadli menambahkan, TNI harus menyadari jika dirinya tumbuh dan berkembang sebagai tentara rakyat, sehingga tak boleh dibenturkan dengan rakyat. TNI juga harus bisa menjaga diri agar tak terjerat oleh kekuatan politik mana pun, termasuk para oligarki ekonomi.

"Sesuai Sapta Marga, TNI adalah alat negara, bukan alat politik golongan tertentu," kata Fadli.

Menghadapi dua tantangan tadi, Fadli berharap TNI tak kehilangan orientasi strategisnya sebagai penjaga pertahanan dan kedaulatan negara.

"Kita ingin TNI yang kuat menjaga Indonesia Raya. Dirgahayu TNI!" kata Fadli.[]