Mahfud Pastikan TGPF Penembakan Pendeta Objektif: Tak Mungkin Berbohong -->
logo

13 Oktober 2020

Mahfud Pastikan TGPF Penembakan Pendeta Objektif: Tak Mungkin Berbohong

Mahfud Pastikan TGPF Penembakan Pendeta Objektif: Tak Mungkin Berbohong


GELORA.CO - Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) akhirnya menyelesaikan proses investigasi terhadap rentetan kasus penembakan pendeta yang terjadi di Intan Jaya, Papua. Menko Polhukam, Mahfud Md, menyebut tim besutannya menerapkan pendekatan kultural dalam menyelesaikan berbagai kendala di lapangan.

"Dulu itu sulit sekali aparat kita masuk, RS kita masuk, dokter kita masuk, sekarang tim kami berhasil karena tim kami memang pendekatannya lebih kultural," kata Mahfud MD kepada wartawan di Kemenko Polhukam, Jl. Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Selasa (13/10/2020).

Mahfud pun menjelaskan yang dimaksud dengan pendekatan kultural adalah melibatkan sejumlah tokoh masyarakat selama proses penyelidikan. Dalam hal ini, timnya dibantu oleh pendeta setempat.

"Kita dibantu pendeta setempat dan kemudian diberi pengertian betapa pentingnya mengungkap fakta tentang peristiwa pembunuhan itu," jelasnya.

Mahfud pun menuturkan bahwa sebelumnya aparat dan pemerintah setempat kesulitan membujuk keluarga korban penembakan untuk berbicara. Bahkan, ia menyebut TGPF berhasil menembus blokade yang sebelumnya dikuasi oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB).

"Tim ini alhamdulillah berhasil menembus blokade yang dulu tertutup dikuasai oleh KKB. Dulu aparat-aparat pun, pemda pun tidak berhasil menemui keluarga, bahkan keluarga yang berhasil ketemu tidak berani, tidak beri keterangan seperti keterangannya itu sangat tertutup," ungkapnya.

Setelah dibujuk TGPF, keluarga akhirnya bersedia memberikan sejumlah keterangan kepada tim. Bahkan, lanjut Mahfud, keluarga pun menyetujui dilakukan otopsi terhadap jenazah pendeta Yeremia Zanambani yang tewas tertembak.

"Sekarang ini keluarga korban bisa ditemui dan beri kesaksian menjelaskan fakta-fakta bahkan sudah tanga tangani persetujuan dilakukan autopsi terhadap jenazah pendeta Yeremia," jelasnya.

Atas hal ini, Mahfud pun menegaskan bahwa TGPF dibuat untuk mencari fakta secara objektif. Bahkan, selain dari unsur pemerintah tim ini pun diisi oleh kalangan dosen dan peneliti.

"Saya ingin pastikan bahwa tim ini adalah tim yang memang pencari fakta yang objektif. Tim ini tidak bisa dikaitkan misalnya dengan 'ah itu buatan pemerintah, ah itu pesanan pemerintah'. Di sini yang tergabung memang ada dari instansi pemerintah karena tugasnya tetapi mereka punya integritas semua dari BIN, dari KSP kemudian dari kantor pemerintah yang lain dari Polri sebagainya," ungkapnya.

Mahfud menyebut nama sejumlah akademisi dan tokoh masyarakat yang menjadi anggota TGPF yaitu I Dewa Gede Palguna, Apolo Safonpo, hingga Makarim Wibisono. Sejumlah pendeta juga menjadi bagian dari TGPF.

Mahfud pun menjamin bahwa tim besutannya tidak akan berbohong dalam mengungkap fakta. Ia pun meminta masyarakat menunggu hasil laporan penyelidikan pada 17 Oktober mendatang.

"Sehingga tidak mungkin tim ini berbohong menurut keyakinan kami. Bukan hanya tidak mungkin tapi tidak bisa mau berbohong bagaimana. Oleh sebab itu, saudara sekalian ditunggu saja sampai tanggal 17 (Oktober," tuturnya.[dtk]