Kasus Covid-19 Terus Naik Selama 2 Minggu Ditangani LBP, Rizal Ramli: Tidak Aneh -->
logo

2 Oktober 2020

Kasus Covid-19 Terus Naik Selama 2 Minggu Ditangani LBP, Rizal Ramli: Tidak Aneh

Kasus Covid-19 Terus Naik Selama 2 Minggu Ditangani LBP, Rizal Ramli: Tidak Aneh

GELORA.CO - Kinerja Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan (LBP), yang ditunjuk untuk menangani pandemi Covid-19 di sejumlah provinsi prioritas dipandang masih jauh dari memuaskan.

Pasalnya, selama 2 pekan di bawah kendali Luhut, angka pertambahan kasus positif Covid-19 di 10 provinsi prioritas itu justru cenderung meningkat.

Berdasarkan data yang dirilis Satgas Penanganan Covid-19 Nasional, evaluasi dilakukan dengan melihat 3 poin utama. Yaitu tren kasus aktif, angka kesembuhan, dan angka kematian.

Untuk periode 13-27 September, periode sejak pandemi Covid-19 di bawah kendali LBP, terjadi kenaikan jumlah kasus aktif di 10 provinsi prioritas yang berakibat kenaikan secara nasional.

Sementara angka kesembuhan memang menunjukkan peningkatan. Dilihat per provinsi, persentase kesembuhan memang meningkat. Kecuali di Sulawesi Selatan dan Papua, 2 dari 10 provinsi yang masuk provinsi prioritas untuk ditangani LBP.

Begitupun dengan angka kematian yang terus meningkat di 10 provinsi tersebut. Bahkan, persentase kontribusi angka kematian di 10 provinsi prioritas terhadap kematian nasional cenderung meningkat.

Terkait hal tersebut, tokoh nasional DR Rizal Ramli mengaku tidak kaget. Sebab, selama 2 minggu di bawah kendali langsung LBP, tak ada strategi mumpuni yang dilakukan.

"Tidak aneh gagal turunkan covid, wong tidak ada perubahan strategi. Hanya ngomong ‘segerobak’. Ancam-ancam dan tumpuk kekuasaan," ucap RR, sapaan akrabnya, melalui akun Twitter pribadinya, Jumat (2/10).

RR pun pesimistis Indonesia bisa lepas dari status negara berisiko tinggi Covid-19. Bahkan bukan mustahil jumlah negara yang melarang warganya berkunjung ke Indonesia akan bertambah banyak.

Ubah definisi kematian covid, dikira lihai tapi tidak cerdas.
RI masuk ‘high risk’, negara-negara yang lock-out RI naik," tandasnya. (Rmol)