#JogjaMemanggil Masuk Trending Topic di Twitter, Ada Apa? -->
logo

7 Oktober 2020

#JogjaMemanggil Masuk Trending Topic di Twitter, Ada Apa?

#JogjaMemanggil Masuk Trending Topic di Twitter, Ada Apa?


GELORA.CO -Tagar #JogjaMemanggil menggema di Twitter petang ini. Tagar itu bahkan berada di posisi kedua trending topic Indonesia.

#JogjaMemanggil ini digemakan Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) di akun media Twitter mereka @gjynmmnggllagi. Aliansi Rakyat Bergerak mengajak massa ikut menyuarakan penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

"Kawan-kawan yang karena satu dan lain hal tidak dapat terlibat di aksi fisik, bisa terlibat untuk mengamplifikasi penolakan Omnibus Law lewat tagar #JogjaMemanggil



Mulai nanti petang kita mengudara ya ;)

#MosiTidakPercaya

#BatalkanOmnibusLaw," tulis akun tersebut seperti dilihat detikcom, Rabu (7/10/2020).


Dalam unggahannya, ARB mengajak untuk mengunggahkan tagar itu mulai hari ini pukul 18.00 WIB hingga trending. Dilihat detikcom pukul 19.22 WIB, ada 14,7 ribu netizen yang menggunakan tagar tersebut.

#JogjaMemanggil ini terkait dengan aksi yang akan dilakukan Kamis (8/10) besok yang akan dilakukan di depan DPRD DIY.

Ketua BEM UGM M Sulthan Farras saat dimintai konfirmasi membenarkan jika besok akan ada aksi penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja di depan DPRD DIY. Dia dan kawan-kawannya akan bergabung dengan Aliansi Rakyat Bergerak (ARB) untuk melakukan aksi di DPRD DIY.

"Setelah dari UGM kami akan long march atau konvoi ke titik aksi (dengan ARB) di daerah Malioboro," kata Ketua BEM UGM M Sulthan Farras di sela aksi demo tolak Omnibus Law di simpang tiga UIN Yogyakarta, petang ini.


Sebelumnya, humas ARB, Lusi menegaskan akan terus turun ke jalan sebagai penolakan Omnibus Law UU Cipta Kerja.

"Kami dari ARB kembali turun ke jalanan, sebagai respons negara berhasil mengelabui kita berkali-kali. Respons pengesahan RUU Omnibus Law yang membawa ketidakbermanfaatan bagi masyarakat yang hari ini jadi UU Cipta Kerja," kata Lusi ditemui di sela-sela aksi, Senin (5/10) malam.


Lusi menegaskan, aksi penolakan tersebut tidak akan berhenti. Mereka akan kembali turun ke jalan untuk menggagalkan Omnibus Law.


"Kami akan terus melakukan aksi hingga tanggal 8 Oktober mendatang. Jadi, akan terus kami laporkan melalui kanal-kanal media sosial kami, untuk itu kami juga berkomitmen baik melalui jalur litigasi maupun non-litigasi guna menggagalkan Omnibus Law Cipta Kerja ini," tegasnya(dtk)