Demonstran Kembali Kuasai Bangkok, Pantang Menyerah Meski Para Pemimpin Aksi Ditangkap Polisi -->
logo

18 Oktober 2020

Demonstran Kembali Kuasai Bangkok, Pantang Menyerah Meski Para Pemimpin Aksi Ditangkap Polisi

Demonstran Kembali Kuasai Bangkok, Pantang Menyerah Meski Para Pemimpin Aksi Ditangkap Polisi


GELORA.CO - Para pengunjuk rasa pro-demokrasi kembali turun ke jalan-jalan utama Bangkok di hari kelima berturut-turut dalam demonstrasi terkoordinasi pada hari Ahad, 18 Oktober 2020. Mereka melanjutkan tuntutan untuk mengakhiri pemerintahan militer Perdana Menteri Prayut Chan-o-cha.

Meskipun ada peraturan darurat yang melarang pertemuan lebih dari lima orang di tempat publik, namun aksi unjuk rasa dimulai pada pukul 16.00 sore waktu setempat di Monumen Kemenangan, stasiun MRT Asoke dan Tha Phra di ibu kota Bangkok tetap digelar.

Sekitar pukul 14.30, pihak berwenang lantas mengumumkan penutupan sementara beberapa skytrain BTS dan stasiun bawah tanah MRT, serta jalan setapak antara gedung dan stasiun di daerah yang terkena dampak demo sebelumnya.

Penyelenggara aksi demonstrasi sebelumnya telah menyerukan pada Ahad pagi agar para demonstran bersiap di stasiun skytrain BTS mana pun di dekat rumah mereka mulai pukul 15.00 sore waktu setempat. Tetapi, tidak mengungkapkan rincian lebih lanjut lokasi utama, untuk menghindari blokade oleh pihak berwenang, lansir CNA, Ahad(18/10).

Demonstrasi terkoordinasi di Bangkok adalah bagian dari gerakan yang dimotori oleh anak-anak muda yang dikenal sebagai “Rakyat”, yang telah berbulan-bulan menyerukan diakhirinya kepemimpinan Prayut – PM Thailand yang merebut kekuasaan dengan cara kudeta, amandemen konstitusi, dan reformasi monarki.

Persatuan koalisi kelompok pemuda dari seluruh Thailand itu belakangan ini tanpa pemimpin karena sebagian besar pemimpin aksi telah ditangkap oleh polisi.

Namun, pantang mundur, penangkapan pemimpin mereka oleh polisi, tidak menyurutkan nyali anak-anak muda Thailand untuk memperjuangkan perubahan konstitusi dan monarki yang selama ini dinilai tabu untuk diusik.(*)