Bergema Seruan Boikot Produk Prancis dari Majelis Ulama Indonesia
logo

31 Oktober 2020

Bergema Seruan Boikot Produk Prancis dari Majelis Ulama Indonesia

Bergema Seruan Boikot Produk Prancis dari Majelis Ulama Indonesia


GELORA.CO - Aksi boikot produk Prancis terus diserukan di negara-negara berpenduduk Islam, untuk menentang pernyataan dan sikap Presiden Emmanuel Macron soal Islam. Seruan boikot juga bergema ke telinga publik Tanah Air lewat Majelis Ulama Indonesia (MUI).
Di negeri bersemboyan liberté, égalité, fraternité (kebebasan, keadilan, persaudaraan), masalah berawal. Presiden Macron menyampaikan ketegasannya menyikapi pemenggalan seorang guru di Prancis. Dia menyebut pemenggalan itu adalah "serangan teroris Islamis". Guru itu dibunuh karena dia mengajarkan "kebebasan berekspresi".

Sebelum peristiwa pemenggalan guru, Macron juga berbicara bahwa Islam adalah "agama yang dalam krisis di seluruh dunia hari ini". Dia akan berperang melawan Islamis radikal di Prancis yang dia sebut juga sebagai 'separatisme Islam'. Pernyataan Macron itu dilansir France 24 dengan AFP, 2 Oktober 2020.


MUI menganggap Macron tidak menghiraukan dan menggubris peringatan umat Islam sedunia. MUI meneken surat imbauan boikot produk Prancis, ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Anwar Abbas dan Wakil Ketua Umum Muhyiddin Junaidi, tertanggal 30 Oktober 2020.

MUI menganggap Macron tetap angkuh dan sombong dengan memuji sikap kelompok pejunjung tinggi kebebasan berekspresi. Menurut MUI, kebebasan berekspresi ala Macron bersifat egoistik.


"Dengan demikian, Presiden Emmanuel Macron hanya memperhatikan kepentingannya saja dan tidak peduli kepada kepentingan dan keyakinan masyarakat dunia lainnya terutama umat Islam yang jumlahnya lebih ari 1,9 miliar di muka bumi ini," tulis MUI dalam surat bernomor Kep-1823/DP-MUI/x/2020 ini.

Lembaga swadaya masyarakat yang berdiri pada 26 Juli 1975 ini kemudian menyampaikan sikap-imbauan berisi 7 poin, nomor satu adalah soal boikot.

"Memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis serta mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia untuk melakukan tekanan dan peringatan keras kepada Pemerintah Prancis serta mengambil kebijakan untuk menarik sementara waktu Duta Besar Republik Indonesia di Paris hingga Presiden Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Ummat Islam se-Dunia," tulis MUI.


Umat Islam dinyatakan MUI tidak mencari musuh, tapi umat Islam punya harga diri. Upaya boikot dimaksudkan agar Macron minta maaf. MUI juga meminta penghentian penghinaan Nabi Muhammad SAW.

"Menghentikan segala tindakan penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi Besar Muhammad SAW termasuk pembuatan karikatur dan ucapan kebencian dengan alasan apa pun juga," kata MUI.



MUI mendukung sikap Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan anggotanya, seperti Turki, Qatar, Kuwait, Pakistan, dan Banglades yang telah memboikot produk Prancis. MUI mendesak mahkamah Uni Eropa untuk segera menindak dan menghukum Prancis karena Macron menghina Nabi Muhammad.

"Diimbau agar semua khatib/da'i/mubaligh/asatidz agar menyampaikan pesan materi Khutbah Jum'at untuk mengecam dan menolak terhadap penghinaan atas diri Rasulullah Muhammad SAW," tulis MUI di poin ke-6.


Terakhir, MUI mengimbau umat Islam Indonesia menyampaikan aspirasi dengan damai dan beradab.

Ketua Komisi VIII DPR RI, Yandri Susanto setuju dengan MUI untuk memboikot produk Prancis sampai Presiden Emmanuel Macron meminta maaf. Menurut Yandri, tindakan itu adalah bentuk protes.


"Setuju Presiden Macron harus cabut omongannya dan meminta maaf. Kalau perlu putuskan hubungan diplomatik dulu sampai Macron mencabut omongannya dan meminta maaf," ucap Yandri saat dihubungi, Jumat (30/10).

Sekilas soal produk Prancis, pesawat terbang dan komponennya yang mencapai lebih dari 45% dari total impor Indonesia. Namun demikian, ada pula produk-produk di luar penerbangan.



1. Pesawat

Prancis sendiri memiliki perusahaan manufaktur pesawat terbang bernama Airbus yang bermarkas di Toulouse. Berbagai maskapai Indonesia menggunakan pesawat tersebut.


2. Produk makan minum

Untuk produk makanan ada merek-merek tenar seperti Danone. Produknya banyak tersebar di jaringan minimarket dan supermarket di Indonesia.

3. Produk kecantikan

Untuk produk kecantikan asal Prancis, ada jenama-jenama yang cukup tenar di Indonesia, yakni L'Oreal hingga Garnier. Sementara untuk produk makanan ada merek-merek tenar seperti Danone hingga Kraft yang produknya banyak tersebar di jaringan minimarket dan supermarket di Indonesia.

4. Otomotif

Produk Prancis yang masuk ke Indonesia juga menyentuh sektor otomotif. Seperti Renault dan Peugeot.

5. Energi hingga bensin

Ada juga Total dan elf di sektor energi. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Total dan Elf juga ada di Indonesia.

6. Merk kelas atas

Produk-produk Prancis yang sangat tenar di Indonesia adalah merek-merek high end seperti Louis Vuitton, Chanel, Hermes, Mont Blanch, Yves Saint Laurent. Ada juga merek fashion lainya seperti Lacoste, Pierre Cardin.(dtk)