Teka-teki Motif Penyerang Syekh Ali Jaber

Teka-teki Motif Penyerang Syekh Ali Jaber

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Penusuk Syekh Ali Jaber, AA sudah ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak kepolisian. Meski demikian motif penyerangan terhadap Syekh Ali Jaber masih menjadi teka-teki.

Pihak kepolisian sudah memeriksa AA pada Senin (14/9) kemarin terkait penusukan yang dilakukannya saat Syekh Ali Jaber memberikan tausiah di Lampung. Hasil pemeriksaan menunjukan adanya keterangan yang berubah-ubah dari tersangka terkait motif penusukan.

"Kita masih gali motifnya, kalau unsur pidananya sudah terpenuhi. Cuma kita masih mendalami terkait motif," kata Kasat Reskrim Polresta Bandar Lampung Kompol Rezky Maulana saat dihubungi detikcom, Senin (14/9/2020).

AA bahkan disebut merasa dihantui ketika menusuk Syekh Ali Jaber. Dia juga mengaku merasa seperti berhalusinasi.

"Iya secara logika masih apa... karena dia berawal dari halusinasi visual, kalau bahasanya dia di BAP itu dihantui oleh Syekh Ali Jaber, sebelumnya pernah ditemui setahun yang lalu, sering lihat di TV, live," ujarnya.

"Kemarin kan observasi dan wawancara awalnya aja, hari ini kita dalami," imbuhnya.

Tak hanya itu, di media sosial pun ramai dibahas yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa. Namun Rezky mengatakan soal gangguan jiwa itu merupakan pengakuan dari keluarga pelaku.

"Penyidikan tetap berjalan," ujarnya.

Sementara itu, Kabid Humas Polda Lampung, Kombes Zahwani Pandra Arstad, menyebut pihaknya masih akan terus menggali terkait motif penusukan oleh tersangka. Dia menyebut juga akan memeriksakan kejiwaan tersangka.

"Tim penyidik berkeinginan untuk meminta keterangan dari pada saksi ahli, dalam hal ini mungkin rumah sakit jiwa di Provinsi Lampung di daerah Pesawaran," ujar Pandra.

Pandra pun menyebut meski masih dalam masa observasi, namun pihak kepolisian tetap melengkapi berkas perkara tersangka. Dokter dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Lampung dipimpin oleh dr Tendry Septa dan Tim dari Pusdokkes Polri pun turut dilibatkan

"Jadi pemeriksaan ini berjalan secara paralel," ujarnya.

"Jadi walaupun dalam masa observasi, proses penyidikan, berkas perkara tetap dilengkapi," imbuhnya.

Polisi juga sudah menggeledah rumah tersangka. Tidak ada ditemukan barang-barang yang mencurigakan.

"Orang tua dari pelaku pernah membawa pelaku berobat karena ada sedikit gangguan yang membuat dia tib-tiba berhalusinasi, mengamuk di rumah, dan pisau yang digunakannya adalah pisau yang biasa digunakan di rumah, pisau dapur," ujarnya.

Sejumlah pihak pun belum yakin AA mengalami gangguan jiwa. Salah satunya Menko Polhukam Mahfud Md yang meminta pihak kepolisian menelusuri kebenaran itu terlebih dulu.

"Spekulasi di luar ada dugaan berdasarkan pengakuan keluarganya si penusuk ini sakit jiwa. Tapi kita belum percaya sakit jiwa betul atau tidak. Kan pasti ada jejaknya rumah sakit Jiwa, jejaknya kayak apa, keluarganya melihat kayak apa, tetangganya melihat kayak apa, teman-temannya melihat kayak apa, baru kita bisa menyimpulkan dia sakit jiwa," kata Mahfud melalui rekaman video yang diunggah di akun Instagram-nya seperti dilihat detikcom.

Mahfud menuturkan aparat masih terus melakukan penyelidikan. Penyelidikan, dikatakan Mahfud, dilakukan untuk mengetahui latar belakang serta jaringan di belakang pelaku.

"Oleh sebab itu, sampai saat ini kami pihak aparat akan terus menyelidiki bagaimana latar belakang dan jaringan yang ada di belakangnya," tuturnya.

Mahfud juga sudah menginstruksikan beberapa aparat untuk menyelidiki kasus penusukan Syekh Ali Jaber. Mulai dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kepolisian, hingga Densus 88.

"Saya sudah menginstruksikan kepada seluruh aparat baik aparat keamanan maupun intelijen, bahkan saya sudah minta BNPT kemudian densus bahkan bersama kepolisian Kaba Intelkam juga sudah minta agar menyelidiki kasus ini dengan sebaik-baiknya dan setransparan mungkin," ujarnya.


Selain Mahfud, Komisi III DPR RI juga meragukan kebenaran AA mengalami gangguan jiwa. Komisi III DPR meminta pihak kepolisian terbuka terkait motif penusukan tersangka terhadap Syekh Ali Jaber.

"Saya mendorong kepolisian untuk meneliti secara baik orang yang menusuk syekh Ali Jaber. Termasuk jika ada dugaan kemungkinan ada yang menyuruh yang bersangkutan menusuk supaya bisa di cari sampai akar-akarnya," kata Anggota Komisi III DPR, Supriansa.

Supriansa juga meminta adanya pemeriksaan mendalam terkait kejiwaan pelaku, jangan asal percaya pengakuan. Ia menyarankan agar polisi juga melakukan penyelidikan terkait kejiwaan itu kepada para tetangga pelaku.

"Soal kejiwaan saya kira ada pemeriksaan bisa dilakukan secara mendetail. Psikiater bisa meminta agar yang bersangkutan atau keluarga menceritakan gejala dan riwayat gangguan mental yang diidap serinci. Polisi juga bisa menanyakan kepada tetangga si penusuk apa betul yang bersangkutan mengalami gangguan jiwa," ujarnya.

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKB Jazilul Fawaid meminta polisi transparan dalam mengungkap kasus tersebut. Hal tersebut dilakukan agar tidak menimbulkan spekulasi negatif.

"Kami desak agar polisi transparan mengungkap siapa pelaku dan motifnya, jangan terburu menyimpulkan. Buka kasus ini seterang terangnya agar tidak muncul spekulasi negatif," kata Jazilul.(dtk)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita