Kisah Syekh Ali Jaber Pilih Jadi WNI, Terungkap Sang Kakek Ternyata Kelahiran Jateng -->
logo

14 September 2020

Kisah Syekh Ali Jaber Pilih Jadi WNI, Terungkap Sang Kakek Ternyata Kelahiran Jateng

Kisah Syekh Ali Jaber Pilih Jadi WNI, Terungkap Sang Kakek Ternyata Kelahiran Jateng


GELORA.CO - Siapa sangka, Ali Saleh Mohammed Ali Jaber atau lebih dikenal dengan nama Syekh Ali Jaber yang berdarah asli Arab Saudi itu ternyata memiliki kakek kelahiran Jawa Tengah. Ia bahkan sudah sejak lama menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

Kisah tersebut diceritakan Syekh Ali dalam video di saluran YouTube Trans7 Official dengan tajuk 'Hitam Putih - Syeikh Ali Jaber (29/7/16) 4-1' yang tayang pada 31 Juli 2020 silam. Ia menceritakan tentang sejarah keluarganya di Indonesia.

Ternyata Miliki Kakek Kelahiran Jawa Tengah

Ulama asal Madinah itu mengatakan, awal mula kedatangannya ke Indonesia sebenarnya hanya untuk kunjungan silaturahmi saja. Soalnya, saat ditelusuri ia memiliki hubungan darah dengan Tanah Air. Yakni, kakeknya kelahiran Jawa Tengah.

"Sebenernya pertama kali saya ke Indonesia hanya kunjungan silturahmi karena ada hubungan darah ke Indonesia. Ternyata sejak saya di Indonesia ingin kenal keluarga, siapa saja keluarga saya. Ternyata saya menemukan kakek saya kelahiran bumi ayu, Jawa Tengah," terang Syekh Ali.

"Bahkan salah satu juga saudara dari kakek saya adalah yang jadi korban tewas jajah Jepang. Menurut saya, saya Arab asli. Jadi Arab asli tapi darah saya tidak jauh dari Indonesia," sambungnya.

Sudah Jadi WNI

Syekh bahkan menjelaskan bahwa sejak beberapa tahun belakangan ini dirinya sudah menjadi WNI. Kata Syekh Ali, ia juga memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Indonesia yang berlaku seumur hidup.

"Ya (dapat kewarganegaraan Indonesia dari) Bapak Presiden SBY. Sebenarnya saya tidak memilih, ketika saya datang ke Indonesia kunjungan silaturahmi saja. Ketika saya mendapat kesempatan salat magrib di Masjid Agung Sunda Kelapa, saya diajak sama satu sahabat untuk salat di masjid. Kebetulan saat saya di sana bertemu dengan pengurus masjid yang mendorong saya menjadi imam," paparnya.

"Kebetulan saya jadi imam beliau tersentuh dan minta lagi. Cuma visa saya sebagai orang asing bisa habis tapi ternya mereka bisa membantu untuk tinggal. Ada sebuah kesan (jadi saya mau menetap di Indonesia)," sambungnya.

Lancar Bicara Bahasa Indonesia

Sudah tujuh tahun menetap di Indonesia, Syekh Ali pun sudah fasih berbahasa Indonesia dengan baik. Ia menjelaskan bahwa pergaulan yang membuatnya fasih berbahasa Indonesia. Awalnya, saat datang ke Indonesia ia mengaku sama sekali tak bisa berbicara dalam bahasa Indonesia.

"Sangat lancar (bicara bahasa Indonesia) insya allah. Saya sekarang sudah masuk 7 tahun. Sebenernya sejak 2008 saya belum bisa (bicara dalam bahasa Indonesia). Sebenernya bahasa itu bagaimana kita sehari-hari. Jadi saya bergaul mungkin bahasa saya selalu dikatakan teman-teman saya lebih ke bahasa gaul," jelasnya. (*)