Belum Ada Persiapan tapi Terlanjur Resesi, Apa yang Harus Dilakukan?

Belum Ada Persiapan tapi Terlanjur Resesi, Apa yang Harus Dilakukan?

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memastikan ekonomi Indonesia akan mengalami kontraksi di kuartal III-2020. Artinya, Indonesia dipastikan mengalami resesi, karena di kuartal sebelumnya, yakni kuartal II-2020 sudah kontraksi hingga -5,32%.

Pengamat dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, persiapan menghadapi resesi yang sudah terlanjur terjadi adalah kedisiplinan dalam penanganan pandemi virus Corona (COVID-19). Pasalnya, wabah inilah yang mengganggu aktivitas perekonomian di Indonesia, maupun dunia. Dengan upaya ini, setidaknya bisa mencegah penyebaran virus berkepanjangan, dan juga dampaknya ke ekonomi lebih lama.

"Kalau dilihat memang sekarang agak telat karena kasusnya naik. Tapi setidaknya kita mengejar kasus COVID-19 tidak bergulir sampai awal tahun depan. Makanya kuncinya itu ada di kesehatan," ungkap Yusuf kepada detikcom, Rabu (23/9/2020).

Setelah persoalan krisis kesehatan bisa dilalui, maka yang bisa dilakukan masyarakat ialah berbelanja untuk mendongkrak pertumbuhan konsumsi. Terutama bagi masyarakat kelas menengah atas yang kontribusinya sangat besar terhadap pertumbuhan konsumsi.

"Apalagi kelas menengah atas yang tentu dia mempunyai pilihan untuk tidak melakukan aktivitas ekonomi di luar. Padahal kontribusi kelas menengah atas terhadap ekonomi ini cukup besar. Jadi ketika mereka menahan konsumsi karena was-was, ya ini yang akhirnya tergambar dari ekonomi secara keseluruhan, khususnya untuk konsumsi rumah tangga," jelas Yusuf.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, bagi masyarakat yang terlanjur tak memiliki tabungan ketika sudah resesi, bukan berarti harus menahan konsumsi demi menyimpan uang. Pasalnya, menahan konsumsi justru akan memperburuk kondisi ekonomi Indonesia yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga.

"Masyarakat yang punya pekerjaan berarti harus berjaga-jaga. Jadi mempunyai tabungan. Kalau punya aset menyimpan yang lebih aman atau stabil, seperti properti, emas, kalau yang sudah punya aset. Tapi ya saya tidak menganjurkan untuk ekstra hemat. Karena itu kan dampaknya ke ekonomi terhadap konsumsi itu bisa lebih menekan lagi. Apalagi kalau sampai panik. Justru itu bisa memperdalam krisisnya," papar Faisal.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad. Ia menegaskan, cara paling ampuh menghadapi ialah tetap menjaga konsumsi.

"Kalau di resesi menurut saya tetap konsumsinya nggak boleh turun, jadi tetap kebutuhan minimum nggak boleh kurang. Jadi justru ketika ada resesi kan agar ada spending tetap berjalan. Kalau semakin turun ya dia akan memperburuk pertumbuhan ekonomi, terutama dari sisi masyarakat atau rumah tangga," tandas Tauhid.(dtk)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita