Gerakan KAMI, Krisis Ekonomi, Dan Bola Biliar Politik -->
logo

19 Agustus 2020

Gerakan KAMI, Krisis Ekonomi, Dan Bola Biliar Politik

Gerakan KAMI, Krisis Ekonomi, Dan Bola Biliar Politik

KRISIS ekonomi itu ibu kandung pergolakan politik. Demikianlah hukum besi dunia sosial, dari dulu hingga kapanpun.

Sebuah negara yang mengalami krisis ekonomi melahirkan ketidak puasan. Tak hanya ketidakpuasan, tapi juga keresahan yang sangat meluas di kalangan rakyat banyak. Mereka seperti rumput kering. Mereka sangat mudah dibakar. Harapan perubahan bergema.

Bulan Juli 2020, LSI Denny JA sudah menemukan data ini. Kecemasan publik atas situasi ekonominya berada di zona merah.

Sejak melakukan survei opini publik sejak 2013, saya belum pernah menemukan sentimen itu. Di atas 80 persen publik cemas tak akan mampu membiayai kebutuhan keluarga sehari hari.

Dalam konferensi pers, LSI Denny JA sudah mengumumkan. Hati hati krisis kesehatan karena virus corona, yang tengah menjelma krisis ekonomi, akan pula menjelma menjadi krisis politik.

Lahirlahnya gerakan KAMI, yang dideklarasikan banyak tokoh publik di Tugu Proklamasi, itu sebuah keniscayaan. Jika KAMI tak lahir, akan lahir gerakan oposisi serupa, apapun namanya.

Itu hukum besi politik.

Tiga hal yang membuat gerakan KAMI jangan dianggap remeh.

Pertama, ia lahir dalam kondisi rakyat banyak yang tengah cemas dan marah atas situasi. Jika gerakan ini lahir di zaman normal, ia segera menjadi gerakan elitis biasa.

Tapi gerakan politik yang lahir dalam konteks krisis ekonomi, ia segera mendapatkan pesona ekstra. Tinggal ditambah satu langkah lagi, ia bisa merebut harapan publik akan perubahan. Ia dapat menjelma menjadi kekuatan politik altenatif.

Kedua, komposisi tokoh di dalam gerkan KAMI, merangkum aneka lapisan strategis.

Di pucuknya ada Din Syamsuddin, Rokhmat Wahab, dan Gatot Nurmantyo. Din Syamsudin berakar di Ormas besar Muhammadiyah. Rokhmat Wahab berakar di Ormas besar NU. Istrinya cucu pendiri NU, KH.A. Wahab Abdullah. Sementara Gatot Nurmantyo berakar pada dunia militer dan sebagian pengusaha besar.

Gerakan ini juga dihadiri keluarga proklamator dan mantan presiden. Rahmawati, putri Bung Karno. Meutia Hatta putri Bung Hatta. Titiek Suharto putri mantan presiden terlama Indonesia, Pak Harto. Mereka hadir sebagai simbol kekuatan sejarah.

Bertaburan pula intelektual publik di dalamnya. Mereka yang selama ini mengambil jalan berbeda dengan pemerintahan seolah menemukan forum besar bersama.

Ketiga, KAMI lahir di era kosongnya oposisi. Praktis partai politik DPR masa kini sepenuhnya berada di kubu pemerintahan. Media TV dan koran besar juga dimiliki oleh tokoh yang kini juga berpolitik. Mereka pun berada di baris pemerintahan.

Hadirnya oposisi di era krisis ekonomi itu juga hukum besi politik. Tak ada superman yang bisa mengendalikan sebuah negara nasional yang tengah gelisah, agar tertib tanpa oposisi.

Pertanyaannya sekarang, kemana KAMI ini akan bergerak? Seberapa ia bertambah perkasa? Seberapa besar perubahan yang bisa Ia lakukan?

Para pelopor gerakan ini sudah menyampaikan apa yang menjadi kepedulian mereka. Tapi politik praktis itu tak terduga. Ia bisa didesign untuk pintu A. Namun ia berakhir di pintu B.

Politik praktis itu seperti bola biliar. Ketika bola putih dipukul kencang, bola yang masuk ke lubang, bisa bola apa saja, mulai dari bola 1 hingga bola 15.

Maka, terhidanglah tiga skenario.

Menteri ekonomi pemerintah saat ini, Sri Mulyani Indrawati  sudah menyatakan. Krisis ekonomi saat ini puncaknya nanti mungkin lebih berat dibandingkan krisis 98. (2)

Kita tahu, krisis di tahun 98 telah menjatuhkan Suharto dari singgasana kekuasaan. Padahal sebelum tahun 98, Pak Harto begitu kuat. Tak pernah ada, rezim politik di Indonesia yang lebih kuat dibandingkan Pak Harto.

Tapi, jangankan Pak Harto. Uni Sovyet di eranya juga jauh lebih kuat. Ia menguasai hampir separuh dunia.

Toh, krisis ekonomi, yang digerakkan oleh elit berpengalaman, dan didukung oleh publik luas, mampu merontokkannya. Tak hanya Pak Harto, Uni Sovyet saja bisa rontok!

Pertanyaannya: akankah KAMI membesar dan merontokkan Jokowi sebelum selesai masa kepresidennya berakhir di 2024?

Disertasi Ph.D saya membahas soal jatuhnya Suharto di tahun 98. Untuk membuat jatuh sebuah rezim politik, kasus Pak Harto, membutuhkan bekerjanya empat variabel sekaligus. Yaitu, krisis ekonomi, pecahnya pemerintahan saat itu, delegitimasi atas presiden, dan hadirnya gerakan politik altenatif.

Saat ini, baru dua variabel yang hadir. Krisis ekonomi dan kekuatan politik alternatif. Selama pemerintahan saat ini kokoh, selama legitimasi Jokowi terjaga, selama itu pula pemerintahan Jokowi akan bertahan hingga 2024.

Skenario pertama: KAMI membawa pemerintahan Jokowi jatuh sebelum berakhirnya jabatan di tahun 2024. Tapi masih ada dua variabel yang belum hadir sebagai konteks gerakan ini.

Sebelum dua variabel tambahan hadir, KAMI tak cukup kuat untuk menjatuhkan Presiden Jokowi di tengah jalan.

Skenario kedua, gerakan ini akan membesar, tidak menjatuhkan Jokowi, namun mereka segera menemukan Capres 2024 yang populer. KAMI berujung menjadi king maker terpilihnya dan beralihnya kepemimpinan nasional, lewat pemilu, dari koalisi partai saat ini, menuju koalisi partai oposisi plus KAMI.

Skenario ini hanya terbuka jika KAMI mampu solid hingga 2024. Mampulah KAMI bertahan solid bahkan membesar hingga 4 tahun lagi, 2024?

Kekuatan KAMI juga menjadi kekurangannya. Beragamnya tokoh di dalam KAMI itu bagus sebagai forum. Namun ketika gerakan ini harus fokus hanya pada satu capres dan cawapres saja, perpecahan internal mungkin terjadi.

Ditambah lagi satu perkara. Bisakah KAMI akhirnya mengalah mendukung Capres 2024 yang potensi menangnya lebih besar, yang capres itu mungkin saat ini tak ikut barisan KAMI?

Amien Rais di tahun 98, berhasil memimpin gerakan yang menjatuhkan Suharto. Tapi Amien Rais tak pernah sukses terpilih sebagai presiden RI, setelah itu.

Ini skenario kedua:  KAMI menjadi civil society yang ikut melahirkan the next presiden Indonesia tahun 2024. Namun ini hanya terjadi jika KAMI mendukung capres yang saat itu paling populer.

Skenario ketiga, KAMI akan hadir sebagai bunga demokrasi belaka. Ia justru menjadi pemanis pemerintahan saat ini. Bahwa dalam pemerintahan Jokowi, toh hadir dan dibiarkan gerakan oposisi. Tentu sejauh tak ada hukum nasional yang dilanggar.

Dalam skenari ketiga, KAMI tak menjatuhkan Jokowi sebelum tahun 2024. KAMI juga tak berujung mendukung Capres yang akan menang di tahun 2024. KAMI hadir sebagai gerakan moral belaka.

Dari tiga skenario di atas, mana yang akan menjadi “makom” dari KAMI?

Semua serba terbuka. Selalu ada surprising. Selalu ada suasana baru yang bahkan tidak didesign. Realitas jauh lebih kompleks dibandingkan konstruksi rasional.

Yang kini bisa dinyatakan adalah harapan. Yaitu agar “Badai Pasti Berlalu.” Yaitu agar di negeri Indonesia tercinta, lagu masa kanak kanak itu cepat pergi.

Lagu yang liriknya:

“Kulihat Ibu Pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang.” 

Penulis adalah pendiri lembaga survei LSI Denny JA