Penduduk China Mulai Serbu Lagi Barang Mewah, ‘Balas Dendam’ Setelah Aturan Penguncian

Penduduk China Mulai Serbu Lagi Barang Mewah, ‘Balas Dendam’ Setelah Aturan Penguncian

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Beberapa wilayah di China masih memberlakukan pembatasan wilayah dan perbatasan pergerakan karena wabah Covid-19 belum benar-benar hilang. Namun, minat warga terhadap belanja barang-barang mewah tak bisa dibendung lagi.
Sejumlah merek fesyen ternama dunia mulai menunjukkan tanda-tanda permintaan yang tinggi. Tas, sepatu, sampai perhiasan mulai memenuhi pesanan. Para analis menilai, bisa jadi hal ini karena ‘balas dendam’ setelah sejumlah permintaan barang terpaksa dipendam gara-gara wabah virus Corona.

Contohnya saja brand Tiffany Co yang mengalami lonjakan permintaan sekitar 30 persen pada bulan April dan 90 persen pada bulan Mei 2020. Pandemik telah membuat penjualan menurun drastic, tetapi dua bulan belakangan terlihat pergerakan permintaan.  

Perusahaan fesyen mewah Burberry juga mengatakan bahwa di bulan Mei 2020 penjualan pakaian, tas, dan asesorisnya di China sudah melampaui pencapaian dibanding sebelumnya, seperti dikutip dari CNN, Minggu (14/6).

Perusahaan perhiasan dan pembuat jam tangan asal Swiss, Richemenont juga melihat China tengah menunjukkan titik terang pada pekan ini. Pihaknya melaporkan ada permintaan yang cukup besar sejak butik itu dibuka kembali.

Analis dari Bernstein Luca Solca dalam laporannya mengatakan bahwa sentimen positif konsumen di China telah meningkat secara signifikan di bulan Mei.

Pelanggan di China mungkin menghabiskan banyak uang untuk barang-barang di rumah, karena beberapa wilayah masih memberlakukan pembatasan yang ketat.

Saat ini, sebagian orang kaya memilih menghamburkan uangnya dengan membeli barang mewah. Fflur Roberts, Kepala Peneliti Barang Mewah di Euromonitor menambahkan bahwa peningkatan pengeluaran konsumen ini juga terjadi di negara-negara lain, termasuk Korea Selatan.(rmol
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita