Moeldoko Bicara Soal Trump, Hitler, dan Perang Dunia III

Moeldoko Bicara Soal Trump, Hitler, dan Perang Dunia III

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Mantan Panglima TNI Moeldoko berbagi wawasannya soal konflik panas antara Amerika Serikat dan China di Laut China Selatan.

Dalam Webinar Geopolitik Energi di Laut China Selatan yang diselenggarakan oleh Purnomo Yusgiantoro Center, Moeldoko menekankan bahwa ia memaparkan kondisi saat ini berdasar pengalamannya dan pengetahuannya sebagai mantan panglima TNI, bukan sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP).

"Jadi ini murni pendapat pribadi saya," ujarnya, Sabtu (20/6/2020).

Meski begitu, pandangan pribadi Moeldoko sangatlah menarik untuk di simak. Pertama ia memaparkan kondisi saat ini dengan kondisi bagaimana Perang Dunia II dimulai.

Ia memaparkan, Perang Dunia II dipicu oleh kekalahan besar Jerman di Perang Dunia I. Di mana dampak perjanjian Versailles sangat menekan Jerman. "Jerman harus bertanggung jawab pada dampak PD I, dan Jerman tidak boleh mencari perang lagi," paparnya.

Saat itu, kata dia, kondisi rakyat Jerman sangat marah dan juga putus asa hingga terjadi perebutan kekuasaan yang dimenangkan oleh Adolf Hitler sebagai kanselir.

Hitler kemudian mengarahkan kemarahan rakyat Jerman saat itu untuk membenci dan menyerang negara lain. "Terjadilah invasi Jerman ke Polandia, Pearl Harbor, membangun kebencian ke negara dan mengancam perang. Ini kondisi yang mempengaruhi perang dunia II."

Lalu, Moeldoko merekonstruksi keadaan PD II saat itu dengan kondisi saat ini. Menurutnya kondisi Amerika hampir mirip dengan rakyat Jerman pasca kekalahan PD II. Di mana negara adidaya ini tengah diserang Covid-19 dan juga kondisi sosial dalam negeri tidak terkendali dengan adanya peristiwa dan konflik SARA.

"Pengangguran juga tinggi di AS, kemarahab rakyat Amerika apa yang diarahkan adalah memanfaatkan psikologi masyarakat dan membangun kebencian ke negara lain. Lalu mengancam perang, dan relatif sama dengan yang terjadi di Jerman dalam perang dunia kedua." []
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita