Kondisi Ini yang Bikin Ikatan ‘Kakak-Adik’ Luhut dan Rizal Ramli Hilang Seketika
logo

19 Juni 2020

Kondisi Ini yang Bikin Ikatan ‘Kakak-Adik’ Luhut dan Rizal Ramli Hilang Seketika

Kondisi Ini yang Bikin Ikatan ‘Kakak-Adik’ Luhut dan Rizal Ramli Hilang Seketika


GELORA.CO - Luhut Binsar Pandjaitan dan Rizal Ramli sejatinya memiliki ikatan lebih dari sekedar teman.

Bahkan, kedua mantan menteri di era kepemimpinan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu sudah seperti kakak-adik.

Demikian disampaikan Jurubicara Rizal Ramli Adhie Massardi merespons pernyataan mantan politisi Demokrat, Ruhut Sitompul yang meminta debat keduanya segera dihentikan.

“Bang Rizal Ramli dan LBP lebih dari sekadar teman, bak kakak-adik,” tulis Adhie Massardi melalui akun Twitter-nya, Kamis (18/6/2020).

Akan tetapi, akan berbeda cerita jika Menko Maritim dan Investasi dan ekonom senior itu berbicara tentang persoalan bangsa.

“Tapi untuk kepentingan rakyat agar tahu kebijakan pemerintah ini benar or salah, urusan personal ya ditinggal,” bebernya.

Oleh karenanya, bila dicermati lebih mendalam, kesediaan Rizal Ramli untuk berdebat soal utang negara yang sebelumnya dibuka ruang oleh Luhut sama sekali tak menyangkut personal, melainkan semata-mata kepentingan bangsa.

Untuk memastikan debat RR dan Luhut jauh dari persoalan personal, pihaknya juga sudah meminta agar Luhut didampingi pakar ekonomi dari pemerintah meski pada akhirnya pihak pemerintah seakan mundur.



“Agar tidak personal dalam debat ‘Menjawab Tantangan’ promoter Don Adam, ajak juga tim ekonomi,” tandasnya.

Sebelumnya, tantangan debat yang dilayangkan kubu Rizal Ramli ditolak kubu Menko Luhut.

Kepastian itu disampaikan Jurubicara Luhut Pandjaitan, Jodi Mahardi kepada RMOL, Selasa (16/6/2020).

Mulanya, Jodi Mahardi mengurai bahwa Menko Luhut telah membuka pintu bagi mereka yang punya data dan analisa soal utang pemerintah untuk datang bertemu tatap muka.

Tantangan ini salah satunya direspon oleh dosen senior Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Djamester Simarmata.

Djamester lantas disambut baik Menko Luhut untuk datang ke kantor pada 11 Juni lalu.

Sehari sebelum pertemuan itu digelar, sambungnya, Rizal Ramli melalui promotor debat Don Adam dan ProDEM menyampaikan ingin menggelar debat dengan Menko Luhut.

“Pak Luhut hari itu juga mengundang Pak Rizal Ramli untuk ikut pertemuan dengan Pak Djamester tanggal 11 Juni 2020, toh isu yang akan dibahas sama,”

“Namun pihak Pak Rizal Ramli menyatakan tidak bisa tanpa memberikan penjelasan,” ujarnya.

Sementara undangan debat yang dikirim promotor Don Adam, tidak akan ditanggapi oleh kubu Luhut.

Dalam permintaan itu akan ada juri yang terdiri satu dari kubu Luhut, satu dari kubu Rizal Ramli, dan satu dari pihak promotor.

“Menurut kami konyol kalau ditanggapi,” tegasnya.

Jodi Mahardi menyatakan, ada sejumlah pertimbangan pihaknya menolak diskusi itu.

Antara lain lantaran pemerintah sudah terbiasa berdiskusi atau berdebat untuk cari solusi.

Pemerintah, sambungnya, tidak punya waktu untuk selalu berdebat kusir.

“Kedua, tuntutan agar apabila kalah maka tim ekonomi kabinet mundur, sementara mereka hanya berjanji berhenti mengkritik (dengan juri yang berat sebelah ke mereka),” ujarnya.

Atas hal itu, kubu Luhut menilai bahwa tantangan ini memiliki tujuan lain.

“Ini menunjukan karakter yang tidak sportif, motif politis serta kebiasaan menciptakan sirkus politik,” tekannya.

Kendati demikian, Jordi menyampaikan bahwa pihaknya terbuka untuk diskusi yang benar-benar bertujuan untuk mencari solusi.

“Kalau punya data, mari datanglah untuk berdiskusi atau berdebat untuk mencari solusi tanpa agenda-agenda politik tertentu,” tutup Jodi Mahardi.[psid]