Kiprah Perjuangan Hilmi Aminuddin Dan Peninggalan Politiknya
logo

30 Juni 2020

Kiprah Perjuangan Hilmi Aminuddin Dan Peninggalan Politiknya

Kiprah Perjuangan Hilmi Aminuddin Dan Peninggalan Politiknya

GELORA.CO -Tepat di akhir bulan Juni ini, kabar duka kembali menyelimuti dunia perpolitikkan tanah air.
Pasalnya, sosok yang satu ini bukan sekadar aktor politik biasa yang hinggap pergi di banyak partai politik.

Tapi ia adalah pendiri Partai Keadilan Sejahterah (PKS) Hilmi Aminuddin, yang menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Santosa Central, Bandung, Jawa Barat pada pukul 14.24 WIB.

Sebagai sosok yang bisa dikenal oleh banyak kalangan politisi di Indonesia seperti sekarang ini, Hilmi Aminuddin tidak memulai dengan cara yang mudah.

Sebab, karier politiknya tidak sama seperti kebanyakan politisi yang mencari kendaraan politik untuk ditunggangi. Tetapi sosok Hilmi Aminuddin menciptakan tunggangannya sendiri untuk bisa eksis.

Kejadian itu terjadi pada tahun 1998, di saat Hilmi bersama beberapa rekannya mendirikan Partai Keadilan (PK). Padahal jika ditelisik dari latar belakangnya, tidak ada sama sekali sejarah politik yang melekat dipunggung atau pundaknya.

Itu bisa dilihat dari latar belakang keluarga Hilmi yang merupakan keluarga pendakwah. Ayahnya adalah Danu Muhammad Hasan, satu dari tiga tokoh penting Darul Islam (Tentara Islam Indonesia) pimpinan Kartosoewirjo.

Jadi semenjak dini, Hilmi memang telah didik secara Islami oleh keluarganya. Bahkan diumur 6 tahun ia telah mendaftar di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.

Tidak lama setelah lulus dari pendidikan di Jombang, Hilmi berkelana ke sejumlah pesantren di Jawa. Hingga tahun 1973, Hilmi memutuskan untuk berangkat ke Arab Saudi dan belajar di Fakultas Syariah Universitas Islam di Madinah.

Kurang lebih enam tahun menimba ilmu di negeri orang, Hilmi kerap berkumpul dengan Yusuf Supendi yang juga merupakan tokoh perintis PKS, karena saat itu bertepatan dengan Yusuf yang sedang berkuliah di Universitas Imam Muhammad Ibnu Saud, Riyadh.

Barulah sekitar tahun 1978 Hilmi lulus kuliah dan pulang ke Indonesia. Sesampainya di Indonesia, Hilmi belum menampakkan kecenderungannya terhadap dunia politik. Justru ia menggeluti bidang ilmu pengetahuan yang ia timba dengan berdakwah.

Tapi karena Hilmi tidak memiliki Pondok Pesantren seperti kebanyakan ulama di Indonesia saat itu, Hilmi pun berdakwah dari masjid ke masjid, atau dari satu kelompok pengajian ke kelompok pengajian lainnya.

Setelah melalui kegiatan dakwah itulah Hilmi memulai karier politiknya di partai yang ia bangun, yaitu PK. Tak menunggu waktu lama, pada tahun 2002 PK pun bertransformasi menjadi Partai Keadilan Sejahterah (PKS) yang sekarang dikenal dan bahkan diperhitungkan di dalam dinamika politik RI.

Menariknya, pada pemilu 2004 Hilmi Aminuddin mulai dikenal sebagai ‘the new comers’ dalam kehidupan politik nasional, dan mulai menggeliat sejak usai pemilu 2004.

Sebelumnya tidak pernah kedengaran secara terbuka dalam kehidupan politik nasional. Bahkan, ketika awal partai berdiri, Hilmi menolak untuk memimpin partai, karena partainya baru lahir.

PKS yang berdiri karena gerakan dakwah Hilmi dkk,  pada tahun 1999 memang masih belum menampakkan pengaruhnya secara politik, karena baru didirikan dan hanya menadapatkan 7 kursi di parlemen, atau 1.5 persen. Tapi sejak usai pemilu tahun 2004, PKS mulai menonjol peranannya. Terutama sejak pemilihan presiden 2004.

Hilmi yang kala itu telah didaulat sebagai Ketua Majelis Syuro PKS sudah terlibat dalam ‘power games’ (permainan kekuasaan), dan dengan suara partai yang berhasil diperoleh 45 kursi atau setara dengan 7,5 persen suara.

Dari situlah Hilmi merasa punya daya tawar dengan kekuatan politik lainnya. Tak segan-segan, ia mulai melakukan banyak lobi politik, dan bertemu dengan tokoh-tokoh politik nasional, termasuk dengan Presiden SBY.

Tak hanya itu, almarhum Hilmi juga sempat dipanggil beberapa kali oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), untuk diperiksa terkait kasus impor daging sapi, yang dilakukan oleh mantan Presiden PKS Lutfi Hasan Ishaaq.

Namun, kini sang legenda PKS telah gugur. Banyak kalangan kini hanya bisa menguntaikan doa untuk pendakwah politik yang berjasa ini. (Rmol)