Eks Waketum PBNU: Komunis Belum Mati di Indonesia, Masih Menggeliat
logo

5 Juni 2020

Eks Waketum PBNU: Komunis Belum Mati di Indonesia, Masih Menggeliat

Eks Waketum PBNU: Komunis Belum Mati di Indonesia, Masih Menggeliat

GELORA.CO - Mantan Wakil Ketua Umum PBNU (2010-2015), Dr KH As’ad Said Ali, meyakini bahwa PKI di Indonesia tidak akan bangkit lagi. Hanya saja, hal itu tidak boleh membuat generasi muda berleha-leha dan mengabaikan ancaman di balik ideologi terlarang di Indonesia itu. Menurut dia, meski secara organisasi PKI telah bubar, tapi ideologi mereka tidak akan pernah mati di Indonesia.

“Komunisme sebagai ideologi itu tidak akan pernah mati. Saya setuju bahwa ideologi komunis masih menggeliat di bumi Indonesia, belum mati. Tidak bangkit, tapi masih menggeliat,” ucap As’ad Ali dalam diskusi ‘PKI Dalang dan Pelaku Kudeta G30S/PKI 1965’ di kanal Yuotube Cendana TV.

As’ad Ali mengatakan, globalisasi dan komunikasi membuat pimpinan partai komunis berpikir ulang tentang sistem komunis. Glasnost dan Perestroika keterbukaan dan restrukturisasi yang digagas oleh Sekjen Partai komunis Rusia, Gorbachev pada pertengahan 1080-an mengakkibatkan komunisme porak-poranda.

Glolibalisasi infomassi membuat publik mengetahui kemajuan yang terjadi di negara lain, dan itu membuat mereka sadar mengenai kebobrokan komunis. Korupsi para elit dan represi serta keterbelakangan dalam segala asspek yang sebelumnya ditutp-tutupi berubah menjadi malapetaka. Akhirnya Gorbachev mengambil langkah radikal dengan membentuk partai sosialis baru yang mengakomodir keterbukaan dan diikuti restrukturisasi politik dan pemerintahan secara mendasar.

As’ad Ali menambahkan, jika pemimpinan Cina Deng Hsiao Peng, mampu merespon situasi dengan mempertahankan sistem politik sosialis dengan membuka ruang kebebasan dalam batas tertentu. Cina juga merubah sistem ekonomi menjadi ekonomi campuran, dengan mengizinkan hak milik pribadi, kapitalisme, dan modal asing.

“Kini gerakan komunis global berubah menjadi Internasional League For People’s Struggle (ILPS) yang berkantor di Belanda dan menjelam menjadi LSM,” tutur dia. Lalu bagaimana perkembangan PKI di Indonesia?

Pada akhir dekade 70-an dan awal dekade 80-an, Raden Sorso hingga Rewang dan kawan-kawannya menyelenggarakan kursuss politik secara tertutup. Kursus itu mempelajari Marxisme hingga Leninisme yang mendorong gerakan perjuangan seperti PRD.

Pasca-1998, eks tokoh PKI berhasil mendorong generasi muda kiri membentuk Front Mahasiswa Nasional (FMN), Aliansi Gerakan Reformasi Agraria (AGRA), Serikat Perempuan Indonesia (Seruni), dan Gerakan Serikat Buruh Indonesia (GSBI). Organisasi tersebut terhubung dengan ILPS.

As’ad Ali menjelaskan, komunisn ala Cina bakal menjadi model baru gerakan komunis dalam tahapan akhir menuju negara komunis. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Menurut As’ad Ali, kebangkitan Komunis di Indonesia sangat kecil. Selama TAP MPR No.20 dipertahankan. Selain itu, masyarakat Indonesia dikenal religius dan memegang erat budaya sehingga menghambat paham komunis tumbuh di tengah masyarakat. Selain itu, organisasi secara internasional juga sudah lemah.

“Kita tidak boleh lengah, tetap waspada terhadap kebangkitan PKI. Bahaya bangkitnya komunis juga jangan dibesar-besarkan,” ucap dia.

“Persoalannya adalah elemen komunis masih selalu mengungkit bahwa dia adalah korban. Itu salah, kita korban, mereka adalah pelaku,” imbuh dia. (*)