Di Tengah Ancaman Gelombang Kedua, Kenapa Warga Korea Selatan Tetap Tenang?
logo

18 Juni 2020

Di Tengah Ancaman Gelombang Kedua, Kenapa Warga Korea Selatan Tetap Tenang?

Di Tengah Ancaman Gelombang Kedua, Kenapa Warga Korea Selatan Tetap Tenang?

GELORA.CO - Meski berhasil mengendalikan infeksi Covid-19, Korea Selatan kembali mengalami pengingkatan kasus pada Mei atau sejak dicabutnya aturan pembatasan sosial.
Sekitar sepekan setelah pemerintah mencabut aturan pembatasan sosial, jumlah kasus Covid-19 di Korea Selatan mengalami peningkatan karena munculnya dua klaster yang cukup besar. Pertama melibatkan klub malam di Itaewon dan gudang barang milik sebuah e-commerce di Bucheon. Keduanya berada di ibukota, Seoul.

Selain dua klaster besar tersebut juga muncul klaster-klaster lain seperti dari gereja, fitness center, hingga bimbingan belajar.

Munculnya klaster-klaster tersebut membuat Korea Selatan memiliki 30-50 kasus baru per harinya. Itu yang membuat banyak pakar memperkirakan Korea Selatan akan menghadapi gelombang kedua infeksi.

Untuk menghentikan penyebaran virus, Dutabesar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, menyebut, pemerintah negeri ginseng telah menerapkan kembali aturan pembatasan sosial.

Meski begitu, Umar Hadi juga mengungkapkan, warga Korea Selatan masih menjalankan kehidupan dengan normal di tengah ancaman gelombang kedua infeksi.

"Meski ada peningkatan, tapi kegiatan di Korea Selatan relatif normal, meeting-meeting berjalan," ucapnya dalam diskusi virtual "Tangkis Corona Cara Korea) yang diselenggarakan oleh Jejaring Media Siber Indonesia (JMSI) pada Kamis (18/6).

Lantas, apa yang membuat warga Korea Selatan tetap tenang menjalankan kehidupan sehari-harinya di tengah ancaman tersebut?

Umar Hadi menjelaskan, warga Korea Selatan memiliki kepercayaan penuh terhadap pemerintah dalam hal penanganan wabah. Mereka senantiasa mengikuti anjuran pemerintah dengan bertanggung jawab.

Sejak awal pun, ia mengatakan Korea Selatan tidak pernah memberlakukan lockdown atau karantina wilayah untuk membendung penyebaran infeksi.

"Tidak pernah ada lockdown atau PSBB, hanya kampanye pembatasan sosial.... Tidak pernah menutup perbatasan, Garuda Indonesia saja tidak pernah berhenti beroperasi," terang Umar Hadi.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, ketika muncul klaster baru, pemerintah dengan sigap mendirikan posko Tes PCR Covid-19 gratis, aktif melakukan pelacakan kontak, hingga meningkatkan perawatan.
Saat ini saja, ia menyebut, jumlah pasien Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakit Korea Selatan tersisa sekitar 1.000 orang. Angka tersebut jauh lebih rendah dari sebelumnya hingga 9.000 orang.

"Kapasitas untuk melakukan test, tracing dan perawatan demikian baiknya sehingga orang engga terlalu khawatir, kalaupun harus sakit," pungkasnya. (Rmol)