Pakar UGM Tak Sarankan PSBB Dilonggarkan Meski Penularan Corona di Bawah 1%
logo

17 Mei 2020

Pakar UGM Tak Sarankan PSBB Dilonggarkan Meski Penularan Corona di Bawah 1%

Pakar UGM Tak Sarankan PSBB Dilonggarkan Meski Penularan Corona di Bawah 1%

GELORA.CO - Pakar epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat UGM tidak menyarankan keputusan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang berencana melonggarkan PSBB jika penularan virus Corona di DKI Jakarta di bawah 1 persen. Alasannya, belum ada vaksin yang ditemukan sampai sekarang.

"Itu (yang dimaksud Anies) angka reproduksi kasus ya, bukan jumlah kasus, tapi itu angka reproduksi penyakitnya, begini angka reproduksi itu jumlah kasus baru yang ditularkan oleh kasus yang infectious, kalau angka reproduksi lebih besar dari 1, maka kasus akan bertambah, kalau angka reproduksi kurang dari 1, maka angka akan menurun," kata pakar epidemiologi UGM, Riris Andono Ahmad, saat dihubungi, Sabtu (16/5/2020).

Riris menyebut penerapan PSBB lah yang bisa menurunkan angka reproduksi penyakit tersebut. Meski demikian, Riris tidak menyarankan PSBB kemudian dilonggarkan ketika kasus sudah menurun.

"Problemnya adalah ketika ternyata sebagian besar populasi masih belum punya kekebalan, ini menurunnya karena orang-orang dijauhkan tapi ketika masih ada kasus lalu orang-orang itu yang tadinya dijauhkan terus tidak dijauhkan, maka ketika tidak punya kekebalan maka akan ada kemungkinan naik lagi. Jadi selesai PSBB itu tidak kemudian normal, tapi harus ada social distancing," paparnya.

Riris pun melarang dilakukannya pelonggaran PSBB ketika reproduksi penyakitnya sudah menurun seperti yang dimaksud Anies Baswedan. Menurutnya, sebelum vaksin ditemukan, maka belum bisa kembali normal.

"Iya enggak boleh karena kita belum punya vaksin, artinya hal yang sama, kita tidak hanya berhadapan dengan COVID ini sampai akhir tahun besok, ini akan cukup lama," ucap Riris.

Kemudian Riris pun menyarankan agar masyarakat saat ini mulai berdamai dengan virus Corona. Artinya, menurut dia, masyarakat harus bisa menyesuaikan kehidupan dengan pola hidup yang mengikuti protokol kesehatan.

"Pastinya (di Indonesia) yang belum terinfeksi masih sangat besar, dan begitu itu selesai PSBB, maka ya populasi di Jakarta akan berisiko lagi, sementara roda ekonomi harus berputar, sehingga memang harus ada trade off, kita harus berdamai dan harus berdampingan," sebutnya.

Seperti diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan Jakarta tidak akan melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) hingga angka penularan virus Corona di bawah angka 1 persen. Anies menyebut saat ini Ibu Kota masih dalam suasana pengetatan.

"Saya tidak bisa katakan berapa hari, berapa minggu, saya rasa tidak ada yang bisa mengatakan itu. Tapi kita percayakan pada pendekatan sains, nih. Para epidemiologis ngitung terus, monitor, begitu angkanya 0,7 atau 0,8, kita sudah mulai lega nih dan pada saat itu kita insyaallah mulai easy, mulai melonggarkan (PSBB)," kata Anies dalam dialog dengan Ben Soebiakto di acara 'Live Stream Fest Vol 3', Sabtu (16/5/2020).

Saat ini penularan COVID-19 di Jakarta, menurut Anies, sudah di angka 1 persen, sehingga pihaknya akan menunggu penurunan hingga 0,4 persen

"Nah, kita ini sudah di 1, tinggal turunnya 0,3 atau 0,4 lagi nih, terusin," ungkapnya.[dtk]