Jadilah Pejuang, Bukan Pahlawan, Saat Pandemi
logo

2 Mei 2020

Jadilah Pejuang, Bukan Pahlawan, Saat Pandemi

Jadilah Pejuang, Bukan Pahlawan, Saat Pandemi

Oleh:Prof. Dr. David S Perdanakusuma, dr., SpBP-RE(K)
DUA bulan sudah bangsa Indonesia menghadapi bencana pandemi Covid-19. Penderita tersebar di 34 propinsi dan 310 kabupaten kota dan telah menembus angka diatas 10 ribu kasus konfirmasi dengan jumlah kasus terduga mencapai lebih dari 250 ribu. Jumlah kematian juga terus meningkat.

Kondisi ini makin menguatkan perlunya saling bekerja sama untuk mengatasi bencana ini.

Upaya yang telah dilakukan mulai dari kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan larangan mudik telah digulirkan dan dilaksanakan. Keduanya menyusul seruan yang tidak henti-hentinya untuk tetap di rumah dan hanya keluar bila ada keperluan penting.

Masyarakt juga diminta senantiasa menjaga jarak, tidak saling bersentuhan, memakai masker, tidak berkerumun, sering mencuci tangan dengan sabun menggunakan air yang mengalir, tidak menyentuh benda yang mungkin menjadi sumber penularan, dan membersihkan berbagai alat yang bisa menjadi media penularan.

Saat kembali ke rumah dianjurkan segera mandi dan mengganti pakaian. Perjalanan ke luar kota ditunda dan melakukan isolasi diri bila terduga kontak dengan penderita.

Pada kenyataannya, angka kesakitan dan kematian masih terus naik. Secara umum angka ini belum mencapai puncak dan menimbulkan titik balik menuju penurunan. Hal ini menjadi keprihatinan kita semua. Perlu ditingkatkan semangat perjuangan untuk membela bangsa.

Dokter dan seluruh petugas medis terus berjuang sebagai garda terdepan sekaligus garda terakhir dalam pertempuran melawan pandemi Covid-19 ini. Korban satu persatu berguguran sebagai pahlawan dalam perjuangan ini.

Situasi bencana ini dapat dianggap sebagai perang semesta yang perlu dukungan seluruh komponen bangsa untuk berjuang melawan pandemi Covid-19 sesuai peran masing-masing. Pejuang artinya orang yang berjuang dan dapat diartikan sebagai orang yang ikut bertarung, memeras keringat, berlaga, bekerja keras, dan berperang.

Menjadi pejuang dalam situasi pandemi ini adalah berbagai perbuatan dan tindakan dengan kerelaan untuk untuk saling bantu bergotong royong menangani masalah dengan berbagai pengorbanan. Perjuangan ini harus dilaksanakan untuk mengurangi kesakitan dan kematian. Semangat yang dikedepankan adalah keselamatan dan kesehatan rakyat secara keseluruhan.

Pemerintah memikirkan dan mengeksekusi berbagai kebijakan dan keputusan selaras dengan perkembangan yang ada. Mengupayakan dan menyiapkan sarana dan regulasi yang diperlukan dalam perjuangan ini.

Para peneliti mengupayakan baik penemuan obat dan vaksin maupun merekomendasikan obat yang dianggap dapat menolong pasien saat ini. Para dokter dan tenaga kesehatan memberikan pelayanan medis bagi yang sakit maupun terduga tertular dengan alat pelindung diri (APD) yang memadai.

Seluruh rakyat berjuang untuk tetap di rumah, menahan diri untuk tidak keluar rumah demi menghindari bahaya penularan dan kemungkinan menjadi sakit, membantu sesama masyarakat untuk saling berbagi dalam penghidupan bagi yang kekurangan.

Ini semua merupakan perjuangan bersama untuk memenangkan peperangan terhadap pandemi Covid-19.

Dalam konteks ini ada peribahasa “Tiada keberhasilan tanpa perjuangan dan tiada perjuangan tanpa pengorbanan”. Peribahasa ini sangat relevan dengan situasi saat ini. Seluruh komponen bangsa perlu ikut berjuang menyingkirkan penyakit dari bumi Indonesia. Untuk itu diperlukan pengorbanan. Pengorbanan seperti apa? Pengorbanan merupakan perbuatan tulus dan ikhlas yang dapat diartikan sebagai kerelaan menolong tanpa mengharap imbalan. Pengorbanan bisa dalam bentuk harta benda, pikiran, perasaan, tenaga, bahkan jiwa.

Pengorbanan jiwa tidak perlu dipertaruhkan pada perjuangan ini. Label atau gelar pahlawan bagi pejuang yang gugur itu bukan tujuan. Label “pahlawan” dalam arti pejuang gagah berani yang gugur karena mencintai negeri dan tanah tumpah darahnya tidak perlu sampai terjadi. Lebih baik tidak diberi sebutan pahlawan namun dapat memenangkan pertempuran semesta ini.

Perjuangan minimal yang bisa dilakukan adalah mengupayakan dengan kontribusi dari setiap individu rakyat Indonesia. Tidak semua harus berada di garis depan ikut merawat pasien dan tidak semua harus ikut mengorbankan apa yang dimiliki. Pengorbanan cukup dengan menahan diri dalam rangka menjaga diri masing-masing tetap sehat sehingga tidak tertular maupun menularkan.

Dengan tetap di rumah, setiap individu dapat berjuang menekan laju penularan Covid-19 ini sekaligus mengusir penyakit ini sesegera mungkin dari negeri ini.

Dengan melakukan gerakan tetap di rumah bagi seluruh rakyat secara serentak akan membuat Covid-19 akan mati dengan sendirinya disamping upaya pertolongan bagi pasien yang sudah terlanjur sakit untuk disembuhkan oleh para dokter dan petugas medis lainnya.

Poin penting yang perlu digarisbawahi adalah lebih baik menjadi pejuang yang dapat memenangkan pertempuran daripada mendapat pahlawan karena gugur dalam pertempuran. Karena musuh yang ada sebenarnya bersarang pada diri manusia itu sendiri, maka kematian merupakan kekalahan dalam pertempuran ini.

Setiap individu punya peluang mengalahkan musuhnya masing-masing dan memenangkan pertempuran. Musuh yang ada berupa virus yang perlu dikalahkan dengan bantuan dokter atau oleh masing masing individu dengan mengisolasi diri dalam kondisi sistim imun yang kuat.

Musuh berikutnya adalah diri sendiri yang harus dilawan untuk menjaga diri, keluarga, teman dan handai tolan, dan masyarakat sekitar mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan, kecamatan, kota, kabupaten, provinsi, dan akhirnya berdampak nasional.

Semua perjuangan yang telah dilakukan memberi arti penting dalam catatan sejarah gerakan semesta rakyat dalam membela nusa bangsa dari serangan bencana pandemic Covid-19.

Perjuangan ini kita yakini akan dimenangkan oleh seluruh rakyat Indonesia dan penyakit ini segera lenyap dari bumi Indonesia. Semoga Allah SWT meridhoi perjuangan ini.

Salam sehat!

(Guru Besar Fakultas Kedokteran  Universitas Airlangga, Ketua Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia)