Konstruksi Pandemik Dalam Sejarah

Konstruksi Pandemik Dalam Sejarah

Gelora Media
facebook twitter whatsapp

OLEH: YUDHI HERTANTO
TAMPIL seribu wajah. Pandemik hadir dalam setiap peradaban manusia. Wabah silih berganti mengancam eksistensi kehidupan. Dalam situasi pandemik, terjadi konstruksi sosial yang menyertai.

Pengalaman kesejarahan manusia, memunculkan hal tersebut. Pandemik selalu gagap dihadapi. Mengecilkan persoalan kerap terjadi, hingga wabah menjadi tidak terkendali. Kita tersadar, mengevaluasi.

Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Jasmerah sebut Bung Besar. Dalam agenda kesejarahan ada pelajaran penting yang dapat dipetik. Melalui buku Yang Terlupakan, Pandemi Influenza 1918 di Hindia Belanda, Priyanto Wibowo dkk, 2008 kita mendapatkan kesesuaian kisah yang menarik.

Kasus pandemik 1918, di wilayah kolonial saat itu, hanya dianggap angin lalu. Laporan dari berbagai daerah perkebunan dilihat sebelah mata. Kematian mendadak belum dianggap sebagai masalah. Pandemik terjadi, di lingkup situasi perang dunia I.

Sepintas Pagebluk

Penyangkalan adalah cara termudah yang menjadi jawaban, atas kurangnya pengetahuan. Menghindari masalah, ketimbang merumuskan jawaban. Perilaku kekuasaan kerap kali begitu. Hingga kemudian, kasusnya berlangsung secara masif.

Tanpa pandang bulu, pandemik mengancam siapa saja. Asumsi awal ditempatkan pada persoalan daya tahan tubuh kelompok pribumi yang lemah, karena asupan nutrisi yang rendah, terbantahkan. Tuan-tuan tanah juga mengalami kesakitan hingga kematian.

Perkembangan transportasi, mempercepat proses penularan antarmanusia. Pelabuhan sebagai pusat lalu lintas serta mobilisasi orang, menjadi ruang persebaran wabah. Semua berlaku sederajat, untuk rentan tertular maupun menulari.

Disebut pagebluk, karena dampak kematian yang sangat cepat. Singkatnya maut menjemput melalui wabah, karena pagi hari seseorang masih terlihat sehat, lantas sorenya jatuh tersungkur -gebluk, lalu mati. Kemungkinan penularan terjadi sebanding.

Pembedanya adalah akses kesehatan, rakyat kebanyakan buruh perkebunan saat itu memang memiliki keterbatasan dalam persoalan pelayanan kesehatan. Pengobatan tradisional, bercampur hal-hal mistik tidak cukup memberi ruang kesembuhan.

Kekacauan terjadi, ilmu pengetahuan menjadi pembeda dalam garis tegas. Pencatatan, pengorganisian, pemisahan antara yang terindikasi sakit dengan komunitas, serta edukasi kebiasaan sehat dilakukan, mulai memperlihatkan hasil.

Pandemik kemudian menghilang, dan berlalu seiring dengan waktu. Tetapi terjadi perubahan kebiasaan, publik terkonstruksi untuk masuk dalam normalitas baru, bersiap untuk menghadapi potensi pandemik di kemudian hari, berbekal pengalaman sejarah.

Wabah Abad Modern

Kajian kesejarahan, terkait dengan wabah yang relatif lebih dekat, adalah SARS pada periode sekitar 2003. Asia, khususnya China menjadi pusat persebaran hingga kemudian menyeberang ke Hongkong, Taiwan, Singapura dan berbagai negara lain. Statusnya epidemi, satu level di bawah pandemik.

Melalui The Social Construction of SARS, John H Power, Xiaosui Xiao, 2008, wabah ini dapat didekati melalui berbagai rupa sudut pandang keilmuan. Mulai dari aspek komunikasi, geopolitik, politik internal, bahkan peran media, hingga aspek paling dasar yakni persoalan medis dapat menjadi poros ulasan.

Keberadaan SARS selayaknya wabah, berhadapan dengan ketidaktahuan. Kepanikan terjadi. Sekurangnya dalam lima tema besar SARS dapat dimaknai; (i) sebagai perihal kerahasiaan negara, (ii) menjadi misteri ilmiah, (iii) merupakan problem epidemi medis, (iv) berkaitan dengan masalah pola hidup sehat publik, hingga (v) kegagalan pemerintah.

Rentang tarikan dari epidemi SARS begitu lebar. Dalam setiap bagian masih terhubung dengan konstelasi politik lokal, keberadaan media, pilihan narasi, aktor yang terlibat, hingga relasi kontestasi politik pada level internasional.

Di Hongkong, SARS dianggap sebagai bawaan penyakit penduduk China daratan. Sebagai otoritas mandiri, Hongkong memang memandang diri berbeda dari Republik China. Sedangkan di China sendiri, SARS terkait dengan aspek ketertutupan informasi.

Pendekatan medis dilakukan di Singapura, dengan mendorong perilaku sehat, memperkuat pelayanan kesehatan yang disertai dengan pengambilan keputusan sentralistik, serta memberikan harapan. Menciptakan kesan dan peran pahlawan untuk berjuang menghadapi SARS secara bersama.

Media memainkan peran untuk melakukan edukasi meluas, menumbuhkan keyakinan akan kemampuan negara dalam mengatasi masalah. Meski terdapat varian media yang berkiblat pada upaya mencari keuntungan sebagai basis komersial, tapi dalam situasi wabah naluri kemanusiaan digugah.

Pandemik Covid-19

Kini, kita berhadapan dengan fenomena wabah baru. Hasil mutasi, tersebar dengan cepat serta meluas, tidak dipungkiri dikontribusikan oleh kemajuan sektor transportasi dan globalisasi. Tanpa batas.

Rentang waktu perulangan pandemik berlangsung dalam durasi yang lebih singkat. Misteri kehidupan manusia tidak lagi terletak pada kedalaman bumi, atau jangkauan antariksa. Tetapi tentang makhluk tidak kasat mata yang membingkai tabir hidup mati.

Ketakutan adalah ekspresi psikologis yang tercipta. Dengan tambatan pengetahuan bersama hal ini seharusnya mampu ditangani. Problemnya, kehendak kuasa manusia atas manusia, dalam format supremasi institusi antarnegara terjadi.

Semua saling tuding dan merasa menang. Padahal semua negara terjangkit serta terancam, tanpa kecuali. Dengan pendekatan bersama, sejatinya wabah bisa ditangani, sayangnya semangat itu harus dihidupkan kembali.

Menjadi umat manusia, karena pandemik mengancam eksistensi spesies manusia tanpa mengenal teritori kenegaraan.

Data dan informasi harus terbuka dan transparan, tanpa manipulasi. Melalui penelitian berbasis data dan informasi yang tersedia selama pandemik, kita dapat merumuskan solusi hari ini, serta melakukan berbagai langkah antisipatif di kemudian hari.

Bila gagal memaknai, maka bisa terjadi bias persepsi, karena kita akan dengan mudah memandang pendekatan otoriter memiliki efektivitas dalam mengatasi masalah. Padahal yang dibutuhkan adalah rasionalitas bertindak.

Kesatuan tindakan, pemikiran dan langkah penanganan, termasuk mencegah serta menangkal wabah secara konsisten, harus bersumber pada basis ilmu pengetahuan sebagai kunci pentingnya. Bukan sekadar retorika politik bernilai kepentingan.

Kita tentu berharap dari pengetahuan dan pengalaman sejarah, kita akan mampu mengatasi wabah. Dibutuhkan komitmen semua pihak agar peperangan melawan pagebluk ini dapat dimenangkan.

(Penulis sedang menempuh Program Doktoral Ilmu Komunikasi Universitas Sahid)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita