Penyesalan Bu Noto
logo

26 Maret 2020

Penyesalan Bu Noto

Penyesalan Bu Noto

GELORA.CO - ngenang saat-saat mulai menyimpan ketertarikan terhadap suaminya, Wijiatno Notomiharjo, seperti tertuang dalam buku Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi, Kisah Perempuan Pengajar Kesederhanaan.

Saat itu, Sujiatmi masih duduk di bangku SMP, sedangkan Notomiharjo sudah SMA. Keduanya tinggal tidak terpaut jauh. Sujiatmi di Dusun Gumukrejo, Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali. Sedangkan Notomiharjo ikut kakeknya tinggal di dusun Klelesan, desa dan kecamatan yang sama dengan Sujiatmi.

Keduanya pun sering bermain gobak sodor bersama. Kebetulan pula Notomiharjo adalah teman SMA Miyono Suryo Sarjono, kakak laki-laki Sujiatmi. Sehingga keduanya pun makin dekat. Berpacaran dua tahun, Sujiatmi dan Notomiharjo akhirnya menikah.

Sujiatmi-Nohomiharjo naik ke pelaminan di usia muda pada 23 Agustus 1959. Pada saat menikah, Sujiatmi berusia 16 tahun dan Notomiharjo 19 tahun. Dalam budaya masyarakat Jawa, menikah muda adalah hal yang biasa pada saat itu, terlebih untuk seorang perempuan.

Dia (Jokowi) itu di kamar jingkrak-jingkrak sendiri nggak ada temannya. Tapi ya nggak apa-apa.'
Karena menikah, Sujiatmi dan Notomiharjo terpaksa merelakan sekolahnya masing-masing alias putus sekolah. Padahal Sujiatmi sangat gemar dengan mata pelajaran berhitung. Belakangan, di usianya yang sudah senja, Sujiatmi menyesal mengapa tidak meluluskan sekolahnya pada saat itu.

Padahal, sebagai penjual kayu yang cukup sukses di Solo, orangtuanya, Wirorejo, adalah orang yang tergolong mampu. “Padahal orang tua mampu sekolahin saya. Mungkin karena saya jatuh cinta,” kata Sujiatmi dalam wawancara dengan majalah Pendidikan Keluarga, November 2016.

Setelah menikah, Notomiharjo membawa Sujiatmi ke Srambatan, Solo. Ia ikut menekuni usaha kayu bersama mertuanya. Wirorejo dan Miyono, kakak Sujiatmi, selalu membantu Notomiharjo dalam merintis bisnis kayu. Sujiatmi sendiri ikut mengelola usaha kayu suaminya dan meninggalkan usaha jahit.

Namun, rupanya darah bisnis lebih mengalir pada diri Sujiatmi. Ia kemudian lebih berperan dalam mengendalikan usaha kayu. Sujiatmi sangat mahir membedakan kayu bahkan hanya dari teksturnya. Tugas suaminya mencari kayu gelondongan ke berbagai daerah di Jawa Timur.

Setelah mapan, keduanya membangun usaha kayu sendiri di Kampung Cinderejo Lor pada 1962. Notomiharjo membangun penggergajian kayu di rumahnya. Belum banyak pesaing menyebabkan usaha pasangan suami-istri tersebut cukup maju.

Bahkan, keluarga ini mampu membeli bis yang dipreteli bangkunya untuk mengangkut kayu. “Itu saya dulu yang suka mencuci busnya. Busnya itu polos, itu bekas AURI (Akademi Angkatan Udara Republik Indonesia),” kata Bandi, teman sepermainan Jokowi saat tinggal di Cinderejo Lor.

Namun, Sujiatmi sendiri adalah perempuan yang menganut prinsip hidup sederhana, tidak harus kaya raya. Yang penting, penghasilan keluarganya cukup untuk membiayai sekolah anak-anak. Seperti diketahui, pasangan ini dikaruniai empat anak, yaitu Jokowi, Iit Sriyantini, Idayati, dan Titik Ritawati.

Dalam hal pendidikan anak-anaknya, Sujiatmi tidak menerapkan hal-hal yang bersifat khusus. Sebab, anak-anaknya, termasuk Jokowi, punya kesadaran sendiri untuk belajar, tidak perlu disuruh-suruh. Paling dia hanya menengok ke kamar saja untuk memastikan anak-anaknya telah belajar.

Termasuk dalam hal hobi Jokowi dan adik-adiknya, Sujiatmi juga tidak terlalu mengintervensi mereka. Jokowi yang punya hobi musik metal tidak dilarang oleh Sujiatmi. “Dia (Jokowi) itu di kamar jingkrak-jingkrak sendiri nggak ada temannya. Tapi ya nggak apa-apa,” ucap Sujiatmi sembari tersenyum.

Meski membebaskan anak-anaknya untuk bekerja di bidang apapun, Sujiatmi selalu menekankan beberapa nasihat yang harus dipegang teguh oleh seluruh anaknya. “Tapi yang harus dipegang adalah jujur, mau kerja keras, tulus, dan ikhlas. Harus dipegang sampai akhir hayat,” katanya.

Khusus ketika Jokowi memutuskan masuk ke dunia politik, Sujiatmi sebenarnya mengaku sempat keberatan. Sebab, Jokowi sudah terhitung mapan dalam menjalankan bisnis kayu. Namun, akhirnya ia merestui dan mendoakan agar Jokowi bisa menjalankan amanah dengan baik.

Sujiatmi pun kerap memberikan wejangan kepada Jokowi saat memangku jabatan Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta, dan kini Presiden RI dua periode. “Kalau memutuskan perkara yang berat pasti menelepon minta doa restu. Yang pertama saya katakan harus tegar, kuat. Lalu harus punya pendirian sendiri. Jangan mau ditekan-tekan orang lain,” ucap Sujiatmi.

Kini, Sujiatmi telah tutup usia. Ia wafat akibat penyakit kanker tenggorokan pada umur 77 tahun, Rabu 25 Maret pukul 16.45 WIB di Rumah Sakit TNI (RST) Tingkat III Slamet Riyadi, Solo. Sujiatmi meninggalkan empat anak, 9 cucu dan 3 cicit. Jenazah almarhumah Bu Noto telah dimakamkan di pemakaman keluarga di Mundu, Karanganyar, pukul 13.00 WIB.

Jokowi mengatakan, ibundanya telah menderita sakit kanker selama empat tahun. Di masa-masa berat itu, almarhumah dan keluarga, dengan dukungan para dokter, telah berusaha dan berikhtiar untuk berobat. Namun, Tuhan ternyata berkehendak lain.

“Atas nama keluarga besar almarhumah, saya memohonkan doa dari jauh, semoga segala dosa-dosa almarhumah diampuni oleh Allah SWT. Amin Ya Rabbal Alamin,” tandas Jokowi.

Selamat jalan, Bu Noto.(dtk)
loading...
close
Subscribe REKAT TV