Jet Tempur Sukhoi Su-35 dan Cara Cina Jiplak Persenjataan Rusia

Jet Tempur Sukhoi Su-35 dan Cara Cina Jiplak Persenjataan Rusia

Gelora News
facebook twitter whatsapp


GELORA.CO - Pemerintah Indonesia berencana belanja jet tempur Sukhoi Su-35 dari Rusia. Rencana sudah ada sejak Presiden Joko Widodo bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin pada 2016 dan mengemuka lagi saat kunjungan Prabowo Subianto, kini Menteri Pertahanan, ke Rusia pada akhir Januari 2020 lalu.

Rusia adalah satu di antara kekuatan militer besar di dunia. Selama ini, Cina yang tercatat sebagai konsumen terbesar produk militer negeri pecahan Soviet itu. Menurut Stockholm International Peace Research Institute, Rusia adalah penyuplai terbesar persenjataan impor Cina sepanjang 2014-2018.

Sepanjang periode itu sebanyak 70 persen impor senjata Cina dari Rusia. Termasuk di antaranya Rusia menjual 24 jet tempur Sukhoi Su-35 dan enam perangkat sistem senjata anti serangan udara S-400 ke Cina senilai total US$ 5 miliar pada 2015 lalu. 

Hubungan dagang dan kedekatan kedua negara sempat terusik pada akhir 2019 lalu. Saat itu industri pertahanan Rusia, Rostec, menuduh Cina telah menjiplak secara ilegal banyak persenjataan dan perangkat keras militer Rusia lainnya. 

"Mencontek perangkat militer kami adalah sebuah masalah besar. Sudah ada  500 kasusnya selama 17 tahun," kata Yevgeny Livadny, pimpinan proyek properti intelektual di Rostec.

Menurut Livadny, Cina telah meng-kopi jet tempur Sukhoi mulai dari badan, mesin sampai ke kokpitnya. Cina juga didituding melakukannya di sistem pertahanan udara dan rudal pertahanan udara maupun rudal jarak menengah darat ke udara. 

Cina, misalnya, membeli jet tempur Sukhoi Su-27 dan sistem rudal S-300 tapi kemudian menggunakannya sebagai template untuk pengembangan jet tempur bikinannya sendiri, J-11, dan rudal darat ke udara HQ-9.

Teknik rekayasa dengan cara mengurai dari produk yang sudah ada itu sangat gamblang dan sempat meresahkan industri pertahanan Rusia. Mereka, seperti yang dituturkan Direktur Asian Security Project Vadim Kozyulin, mendorong Moscow menekan aksi yang disebut pencurian teknologi itu. 

Russia lalu menerapkan beberapa kebijakan, seperti memaksa Cina, dalam impornya, membeli satu paket persenjataan ketimbang hanya beberapa perangkat--untuk mencegah reverse engineering ala Cina. Russia juga meminta jaminan tak ada pencurian hak cipta dalam kontrak jual belinya. 

Kozyulin menilai kebijakan itu tak banyak membantu, dan belakangan pun Rusia tak lagi mempermasalahkannya. Reverse engineering ala Cina itu dianggap ongkos yang tak bisa dihindari dari transaksi yang sudah dilakukan.

Vasily Kashin, peneliti senior di Institute of Far Eastern Studies di Russian Academy of Sciences, menambahkan kalau pemerintahan Moscow tak lagi menilai kemampuan Cina dalam menjiplak sebagai ancaman. Rusia diyakini masih tetap unggul dan inovasinya lebih di depan Cina. 

"Tidak mungkin untuk menjiplak sejumlah teknologi dalam waktu singkat," katanya sambil menambahkan, menyalin teknologi lama itu butuh waktu yang sama dengan mengembangkan yang baru. "Jadi terima saja uang sari Cina lalu gunakan untuk mengembangkan teknologi kita yang lebih baru, dan biarkan Cina melakukan apa saja yang dia mau." (tc)
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita