Derita Dokter di Wuhan: Pakai Popok, Kelelahan Hingga Terinfeksi Corona
logo

12 Februari 2020

Derita Dokter di Wuhan: Pakai Popok, Kelelahan Hingga Terinfeksi Corona

Derita Dokter di Wuhan: Pakai Popok, Kelelahan Hingga Terinfeksi Corona

GELORA.CO - Para dokter di garis depan wabah virus corona di China menghadapi tugas yang berat: menangani para pasien yang terus bertambah jumlahnya dan berisiko terinfeksi virus tersebut dikarenakan kurangnya alat pelindung dan masker.

Sejauh ini lebih dari 40 ribu kasus virus corona telah dilaporkan di China, dengan sekitar 44 persen dari kasus tersebut ada di kota Wuhan, yang menjadi pusat wabah virus corona yang pertama kali muncul pada Desember 2019 lalu.

Seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (12/2/2020), para pekerja medis di Wuhan banyak yang kelelahan karena harus berurusan dengan ribuan kasus baru per minggu. Bahkan banyak dokter yang harus menemui pasien dengan mengenakan pakaian pelindung yang tidak semestinya, yakni terpaksa memakai ulang padahal seharusnya diganti secara reguler. Sebagian dokter bahkan memilih memakai popok sehingga mereka tidak perlu bolak-balik membuka pakaian pelindung saat ingin kencing.

Mereka (staf medis yang mengenakan pakaian pelindung) akan memakai popok, mengurangi jumlah air yang mereka minum dan mengurangi berapa kali mereka ke kamar mandi," ujar Jiao Yahui, pejabat tinggi di Komisi Kesehatan Nasional China.

Dikatakan Jiao, beberapa dari mereka akan memakai pakaian pelindung yang sama selama enam atau bahkan sembilan jam, padahal seharusnya pakaian pelindung itu tak boleh dipakai lebih dari empat jam di bangsal karantina.

"Tentu saja, kami tidak menyarankan metode ini, namun staf medis benar-benar tak punya alternatif," ujar pejabat tersebut.

Seorang dokter di sebuah klinik di Wuhan mengatakan, dirinya dan setidaknya 16 rekannya menunjukkan gejala-gejala sakit mirip corona, termasuk batuk dan infeksi paru-paru.

"Sebagai dokter, kami tak ingin bekerja selagi menjadi sumber infeksi," ujar dokter yang tak ingin disebut namanya itu kepada AFP. "Tapi saat ini, tak ada orang yang menggantikan Anda," imbuhnya seraya menambahkan bahwa staf medis yang tidak mengalami demam, diharapkan untuk tetap bekerja.

"Apa yang akan terjadi jika tak ada yang bekerja di garis depan," kata dokter tersebut.

Banyaknya kasus baru setiap hari membuat para pekerja medis kewalahan. "Mereka kelelahan," kata dokter di sebuah rumah sakit besar di Wuhan.

Dikatakannya, salah satu rekannya bekerja di sebuah klinik yang menerima 400 pasien dalam waktu delapan jam. Banyak dokter yang menangani pasien "yang meninggal terlalu cepat, yang tidak berhasil mereka selamatkan," kata dokter tersebut. "Mereka punya banyak tekanan," imbuhnya.

Pekan lalu, Wakil Wali Kota Wuhan mengatakan bahwa kota tersebut kekurangan masker N95 dan pakaian pelindung. Pemerintah China telah merespons kondisi tersebut dengan mengerahkan seluruh negeri itu untuk meningkatkan produksi masker dan pakaian pelindung. China juga telah mengimpor lebih dari 300 juta masker dan sekitar 3,9 juta pakaian pelindung sejak 24 Januari.(dtk)
Loading...
loading...