Cs 137 Diduga Cemari Batan Indah, Sama Seperti Unsur Nuklir Chernobyl
logo

15 Februari 2020

Cs 137 Diduga Cemari Batan Indah, Sama Seperti Unsur Nuklir Chernobyl

Cs 137 Diduga Cemari Batan Indah, Sama Seperti Unsur Nuklir Chernobyl

GELORA.CO - Zat Cs 137 diduga adalah unsur radioaktif yang mencemari kawasan permukiman di Perumahan Batan Indah, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Banten. Ternyata, Cs 137 adalah unsur yang sama dengan yang menyebar ke dunia akibat bencana nuklir Chernobyl.
Ledakan akibat kecelakaan reaktor nuklir di Chernobyl terjadi pada 26 April 1986 di kawasan Ukraina, saat itu masih menjadi kawasan Uni Soviet. Peristiwa itu menjadi bencana terparah sepanjang masa, mengubah daerah yang tadinya padat penduduk menjadi kota hantu, dan membuat zona terlarang seluas 2.600 kilometer persegi.
Cs 137 adalah salah satu unsur radioaktif. Cs adalah lambang dari sesium, atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai cesium. Belum diketahui bagaimana Cs 137 bisa lepas ke kawasan permukiman penduduk itu.

Dilansir dari situs National Cancer Institute, Departemen Kesehatan dan Pelayanan Manusia Amerika Serikat (AS), Cs 137 muncul akibat produksi spontan lewat fisi nuklir. Apa pula itu fisi nuklir? Fisi adalah pembelahan inti atom menjadi inti-inti atom baru yang lebih ringan sambil melepaskan energi.

Dilansir situs Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), peluruhan inti atom Cs 137 itu sendiri punya waktu yang relatif panjang ketimbang unsur radioaktif lainnya. Waktu ini disebut sebagai 'waktu paro/waktu paruh (half-life)'. Cs 137 punya waktu paro 30 tahun.

Zubaidah Alatas, Mukh Syaifudin, dan Siti Nurhayati dari BATA menjelaskan lewat penelitiannya, Cs 137 adalah salah satu radionuklida yang dihasilkan oleh percobaan senjata nuklir di atmosfer, bisa mengontaminasi manusia dan lingkungan, masuk ke tubuh baik lewat makanan maupun pernapasan. Cs 137 adalah hasil fisi bahan bakar uranium atau plutonium di reaktor nuklir, sehingga kemampuan dalam menangani seseorang yang terkontaminasi radionuklida tersebut sangat diperlukan pada kecelakaan instalasi nuklir.

Cs 137 juga menyebar saat reaktor nuklir Chernobyl mengalami kecealakaan tahun 1986. Dilansir situs Batan, Cs 137 lepas ke lingkungan setelah kecelakaan Chernobyl, menyebar ke wilayah yang cukup luas, termasuk ke negara-negara di Eropa.

Waktu paruh fisiknya adalah 30 tahun. Oleh karena itu, zat tersebut dapat ditemukan untuk waktu yang cukup lama di alam ini. Sebenarnya, sesium sudah ada di alam ini, juga sebelum terjadi kecelakaan, karena hampir setengah dari sesium yang lepas di atmosfer akibat uji senjata nuklir yang dilakukan pada tahun 1960-an masih tetap ada.

Namun, efektivitas waktu paro sesium dalam tubuh hanya 100 hari. Efektivitas waktu paruh menunjukan waktu selama separuh aktivitas sesium yang diterima tubuh dibuang. Keefektifan waktu paruh ditentukan oleh pengaruh campuran dari waktu paruh fisik dan jumlah buang air besar.

Namun, ada zat langka tertentu, yang metabolisme atau sifatnya dalam tubuh spesifik sehingga zat-zat tersebut dapat mencapai organ tertentu dan tetap berada di dalam organ tersebut. Dalam hal ini, berkurangnya tingkat aktivitas dalam tubuh tergantung pada waktu paruh fisik dari zat tersebut.

Tak hanya menyebar akibat bencana Chernobyl tahun '80-an, Cs 137 juga mencemari lingkungan akibat bencana nuklir Fukushima saat gempa dan tsunami Jepang 11 Maret 2011. Dilansir LiveScience, Cs 137 akibat bencana Fukushima masih tergolong rendah.

"Unsur ini memang umum di ketenaganukiran, di Chernobyl maupun Fukushima ada," kata Kepala Biro Hukum, Kerja Sama, dan Komunikasi Publik Bapeten, Indra Gunawan, kepada wartawan, Sabtu (15/2/2020).

Cs 137 bereaksi dengan air menghasilkan senyawa yang larut dalam air (cesium hidroksida). Setelah memasuki tubuh, Cesium akan terdistribusi ke seluruh tubuh, dengan konsentrasi lebih tinggi dalam jaringan otot dan lebih rendah dalam tulang. Apabila air yang terkontaminasi tersebut terminum maka dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas di dalam tubuh sehingga menimbulkan efek buruk bagi kesehatan.(dtk)

Loading...
loading...