Prediksi Tumbangnya Rezim dari 'Putra Mahkota' Iran
logo

16 Januari 2020

Prediksi Tumbangnya Rezim dari 'Putra Mahkota' Iran

Prediksi Tumbangnya Rezim dari 'Putra Mahkota' Iran

GELORA.CO - Ahli waris takhta dari Shah Iran yang telah lengser, Reza Pahlavi, memprediksi bahwa rezim pemerintah Iran saat ini akan segera tumbang. Pahlevi, yang berusia 59 tahun, merupakan anak sulung dari mendiang Shah Mohammad Reza Pahlavi, Shah terakhir dalam Kekaisaran Iran.

Dirangkum detikcom, Kamis (16/1/2020), Pahlavi kerap disebut sebagai Putra Mahkota Iran atau ahli waris terakhir untuk takhta Negara Kekaisaran Iran. Ayahnya yang telah wafat tahun 1980 lalu, memiliki gelar 'Shahanshah' atau yang berarti 'Raja dari Segala Raja'.

Shah Mohammad Reva Pahlavi menjabat di Kekaisaran Iran antara September 1941 hingga dilengserkan oleh Revolusi Iran pada Februari 1979 silam. Kini putranya, Reza Pahlavi, menjadi pemimpin Dinasti Pahlavi.

Pahlavi memprediksi rezim pemerintah Iran saat ini akan tumbang dalam beberapa bulan ke depan. Pahlavi mendorong negara-negara Barat untuk tidak berunding dengan rezim Iran saat ini.

Pahlavi yang kini tinggal dalam pengasingan di Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa unjuk rasa besar-besaran yang muncul di Iran pada November 2019 dan bulan ini, setelah jatuhnya pesawat maskapai Ukraina, mengingatkannya pada unjuk rasa yang melengserkan mendiang ayahnya tahun 1979 silam.

"Itu hanya masalah waktu sebelum mencapai klimaks akhir. Saya pikir kita ada dalam mode itu," kata Pahlavi dalam konferensi pers terbaru di Washington, AS, seperti dilansir AFP, Kamis (16/1).

"Saat ini adalah beberapa pekan atau beberapa bulan sebelum keruntuhan total, tidak jauh berbeda dengan tiga bulan terakhir tahun 1978 sebelum revolusi," imbuhnya.

Putra Mahkota' Nyatakan Rezim Iran Harus Disingkirkan

Dalam pernyataan di Hudson Institute, Pahlavi menyatakan dukungan besar untuk kampanye 'tekanan maksimum' Presiden AS Donald Trump, yang dimaksudkan untuk mengisolasi rezim Iran, melalui sanksi-sanksi berat. Lebih lanjut, Pahlavi menyebut perundingan-perundingan sebelumnya telah gagal.

"Sudah lama waktunya untuk mengakui bahwa ini bukanlah rezim yang normal dan bahwa mereka (Iran-red) tidak akan mengubah perilaku mereka. Rekan sebangsa saya memahami bahwa rezim ini tidak bisa direformasi dan harus disingkirkan," tegasnya.

Warga Iran mengharapkan dunia untuk menunjukkan lebih dari sekadar dukungan moral. Mereka mengharapkan tidak dikhianati atas nama diplomasi dan negosiasi," cetus Pahlavi.

Trump sebelumnya menyampaikan harapan soal perundingan, namun beberapa waktu terakhir dia menyatakan tidak peduli dengan perundingan dan memerintahkan pembunuhan seorang jenderal top Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, yang menjabat Komandan Pasukan Quds Iran.

Putra Mahkota' yang 'Dekat' dengan AS Cium Peluang Setelah 40 Tahun

Pahlavi, yang mendiang ayahnya berorientasi Barat dan bersekutu dekat dengan AS, meredakan prospek soal pengembalian rezim kekaisaran di Iran. Dia menegaskan dirinya lebih ingin mendukung koalisi luas warga Iran yang akan mengganti rezim Iran saat ini dengan demokrasi sekuler.

Saat ditanya apakah dia bisa mewakili seluruh warga Iran, Pahlavi menjawab ini bukan tentangnya melainkan tentang rakyat Iran.

"Ini bukan tentang saya, ini tentang rakyat Iran. Anda mungkin tidak suka si pembawa pesan itu, tapi apakah ada yang salah dengan pesannya?" ucapnya.

Berbeda dengan kebanyakan aktivis Iran yang mengasingkan diri secara rutin dan memprediksi jatuhnya rezim Iran, Pahlavi menyatakan bahwa warga Iran bisa 'mencium peluang untuk pertama kalinya dalam 40 tahun'.

Pahlavi yang merupakan ahli waris dari Takhta Persia ini mengutip bukti-bukti yang muncul di Iran, seperti apa yang disebutnya sebagai berkurangnya ketakutan di kalangan demonstran Iran dan bertambahnya jarak antara para reformis dengan rezim Islam di Iran. Pahlavi sendiri sudah sejak remaja tidak pernah menginjakkan kaki di Iran.(dtk)
Loading...
loading...