Debat dengan Budiman Sudjatmiko, Rocky Gerung Pernah Anti FPI: Gua Pernah Berkelahi dengan Munarman

Debat dengan Budiman Sudjatmiko, Rocky Gerung Pernah Anti FPI: Gua Pernah Berkelahi dengan Munarman

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Pengamat politik Rocky Gerung mengklaim Front Pembela Islam (FPI) tak lagi melakukan kekerasan.

Hal tersebut disampaikan Rocky Gerung di acara ROSI, Kompas TV, pada Kamis (28/11/2019).

Pernyataan Rocky Gerung, langsung ditanggapi oleh politikus PDI Perjuangan Budiman Sudjatmiko.

Mulanya Rocky Gerung dan Budiman Sudjatmiko membahas soal Surat keterangan terdaftar (SKT) yang masih dikaji oleh Kementerian Dalam Negeri.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan, SKT FPI masih terkendala oleh Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Tito Karnavian menyampaikan, pada AD/ART FPI masih termuat visi dan misi yang kalimatnya dianggap memiliki makna samar.

“Problemnya di AD/ART. Di sana disampaikan bahwa visi dan misi organisasi FPI adalah penerapan islam secara kaffah di bawah naungan khilafah islamiyah melalui pelaksanaan dakwah, penegakan hisbah, dan pengawalan jihad,” kata Tito Karnavian.

Rocky Gerung menilai pemerintah terlalu berlebihan dalam menghadapi AD/ART FPI.

Ia mengatakan AD/ART tersebut masih berupa ide dan belum terealisasikan.

Namun Budiman Sudjatmiko mempunyai pendapat lain.

"FPI itu bukan ide, ide yang sudah berwujud menjadi sebuah 'pentungan'," kata Budiman Sudjatmiko dikutip TribunJakarta.com dari YouTube Kompas TV, pada Jumat (29/11/2019).

"Ketahuan Anda minum anda bisa dipukul pakai pentungan tersebut,"

"Sudah menjadi kawat berduri," imbuhnya.

Budiman Sudjatmiko menilai visi dan misi FPI sudah terealisasikan, dari sikap mereka yang kerap menegur atau bertindak saat melihat suatu tindakan yang dianggap berbeda.

"Mereka suka mementung orang-orang yang dianggap berbeda dari mereka," ucap Budiman Sudjatmiko.

"Mereka sudah bertindak sebagai polisi moral,"

"Diluar sistem yang ada," imbuhnya.

Rocky Gerung kemudian menceritakan dirinya pernah berkelahi dengan juru bicara FPI Munarman, 20 tahun lalu di Monumen Nasional (Monas).

Ia namun tak menceritakan penyebab perkelahian tersebut.

Menurut Rocky Gerung FPI kini sudah berubah dan tak lagi melakukan tindakan kekerasan.

"Saya itu anti FPI sejak di Monas itu," kata Rocky Gerung.

"Gua berkelahi sama Munarman walaupun dia teman gua itu, tapi itu 20 tahun lalu,"

"Sekarang Anda lihat perubahannnya, semakin ke sini sudah berubah,"

"Anda yang enggak berubah," imbuhnya menunjuk Budiman Sudjatmiko.

Profesor Thamrin Amal Tomagola kembali tak sepakat dengan pernyataan Rocky Gerung.

Ia lantas mengungkit tindakan Munarman yang menyiram guru besar Universitas Indonesia Profesor Thamrin Amal Tomagola.

Peristiwa tak menyenangkan itu terjadi, saat Profesor Thamrin Amal Tomagola dan Munarman hadir sebagai narasumber di acara Apa Kabar Indonesia TV One, Jumat (28/6/2013) silam.

Kejadian tersebut bermula saat Munarman dan Profesor Thamrin Amal Tomagola berdebat tentang sweeping ormas ke tempat-tempat hiburan di Jakarta saat bulan Ramadan.

"Berubah dari mana?" kata Budiman Sudjatmiko.

"Bahwa semua tindakan berkelahi dengan Anda, menyiram Profesor Thamrin Amal Tomagola, itu bagian dari sebuah konteks menciptakan khilafah tadi," imbuhnya.

Budiman Sudjatmiko dan Rocky Gerung terlibat perdebatan panas.

"Terus bertambah enggak kekesarannya sekarang?" tanya Rocky Gerung sambil menunjuk.

"Berubah enggak eksistensinya?" kata Budiman Sudjatmiko dengan nada tinggi.

"Berubah enggak raison d'etre (reason for being re) untuk melakukan kekesaran?" imbuhnya.

Menurut Rocky Gerung cara manusia untuk menunjukan eksistensi adalah dengan kekerasan.

"Raison d'etre dari sebuah manusia adalah violence," tegas Rocky Gerung.

Ia mengatakan maka hukum dan negara dibentuk untuk mengatasi hal tersebut.

Lagi, Budiman Sudjatmiko tak sepakat dengan pemikiran itu.

"Kalau Anda mengatakan itu Anda setuju kita menciptakan 'serigala memakan serigala'," kata Budiman Sudjatmiko.

"Itu teori paling kuno," jawab Rocky Gerung.

"Anda membenarkan kebuasan paling kuno, menjadi binatang," imbuh Budiman Sudjatmiko kesal.

SIMAK VIDEONYA:


BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita