It’s All About Business
logo

19 Juli 2019

It’s All About Business

It’s All About Business

*Penulis: Azwar Siregar

Saya kadang sangat kasihan kepada para relawan. Khususnya kepada relawan emak-emak militan. Baik yang ada di kubu Pak Jokowi maupun di kubu Pak Prabowo.

Mereka para pendukung ini adalah orang-orang baik. Mereka cuma dibutakan oleh fanatisme berlebihan. Jadinya mereka fokus membela orang, bukan tujuan.
Padahal orang bisa berubah kapan saja. Tidak usah kalian bantah. Cukup luangkan satu menit untuk mengingat kalau Prabowo dan Jokowi itu dulu adalah team yang sama. Termasuk si Capres masa depan, Anies Baswedan.

Mereka lupa sedang berada di wilayah Politik. Politik (banyak itik) itu bukan monitik (satu itik). Para pelakunya Politikus ( banyak tikus), bukan cuma satu (monitikus).
Jadi fokuslah ke tujuan. Para politikus ini cuma alat kita. Sepanjang satu tujuan kita bersama, tapi kalau mereka sudah tidak perduli rakyat mengapa masih kalian bela?

Buat kamu pendukung Pak Prabowo. Kalau ada isu 7 triliun, jangan cepat-cepat membuat pengingkaran. Bisa saja itu benar dan bisa saja itu fitnah. Apa sih yang ngga bisa dilakukan oleh uang?

Buat kamu pendukung Pak Jokoei. Kalau selama ini beliau dicitrakan pro rakyat dan perduli rakyat kecil sepertimu. Hleh…Pretdung-lah !!!

Selama lima tahun dia sudah berkuasa, apa kebijakan untuk rakyat kecil yang sudah kau rasakan?.
TDL naik, BBM naik, elpiji naik dan sekarang nasi bungkuspun akan dikenakan pajak.
Berhentilah memuja jalan Tol(lol) itu. Becak dan motor kreditan mu dilarang lewat disana.

Kalau dia memang perduli sama-mu, daripada membiarkan anak-anakmu yang sudah tamat SMU itu cuma jadi karyawan dan kasir minimarket, kenapa dia tidak menolak investasi China yang sambil membawa tenaga kerjanya sendiri?
Kenapa tidak anak-anak kalian yang dijadikan karyawan diperusahaan-perusahaan investasi asing yang menambang isu perut kekayaan bumi Nusantara kita ini.

Hei, bangun. It’s all about business. Para politikus yang kalian bela mati-matian cuma perduli diri sendiri dan orang-orang disekitarnya.
Mereka berdiskusi tentang rakyat miskin di Pesawat Jet Pribadi. Mereka prihatin tentang nasib kalian yang cuma berpenghasil 1-2 juta tiap bulan tapi anak istri mereka berfoya-foya ratusan juta setiap minggu.

Ayo bersatu kembali. Kamu Kampret Militan. Kamu Cebong Garis Keras. Ini semua Indonesia kita, ayo berjuang agar Indonesia ini untuk kita. Untuk anak cucu kita. Rezim yang selama ini kalian puja, Oposisi yang selama ini kalian puji-puji. Mereka sedang berpesta-pora, berbagi kemakmuran negeri ini. Kamu-kamu dapat apa?

Saya tetap percaya. Kalau negara kaya-raya yang menjadi jamrud khatulistiwa ini dikelola oleh rezim yang benar, harusnya semua kebutuhan dasar anak bangsa mulai dari sandang, pangan, kesehatan dan pendidikan bisa gratis. Hasil berbagi dari pembagian kekayaan alam Nusantara.
Sekarang apa kalian pernah dapat semangkok bakso dari bagi hasil Freeport?
Apa pernah dapat semangkok mie ayam dari bagi hasil batubara di Kalimantan?
Apa pernah dapat sepiring mie ayam dari bauksit di Tanjung Pinang, timah dari Bangka-Belitung, Minyak Bumi dari hampir semua daratan dan lepas pantai Sumatera, Jawa dan Kalimantan?

Si*l*n !!!
(Maafkan saya yang mengumpat melihat ketololan ini).

Woi…bangunlah anak-anak bangsaku. Kita minta hak kita, kita tuntut kembali kedaulatan negeri kita. Kekayaan alam negeri ini harus dibagi bersama. Negeri ini milik bersama. Sumber daya alam dan kekayaan Nusantara harus dinikmati bersama. Bukan cuma untuk dinikmati para tikus berdasi (Penguasa dan Politikus) bersama para pengusaha berjas mahal yang main mata dengan orang asing.

Ayo bersama Tirik Yaluk. Kami tidak membenci Jokowi. Kami juga tidak memuja Prabowo. Tirik Yaluk terbentuk untuk mencintai Indonesia. Tirik Yaluk itu ketika Penguasa dan Oposisi cuma melirik, maka dengan cinta kami datang memeluk.

Karena kitalah. Kitalah rakyat jelata sesungguhnya yang selalu menjadi korban permainan politik mereka! (*)

#TirikYaluk
Loading...
loading...