UAS Dukung Prabowo, Denny JA: Sangat Terlambat dan Tak Berpengaruh

UAS Dukung Prabowo, Denny JA: Sangat Terlambat dan Tak Berpengaruh

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO - Pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menilai dukungan Ustaz Abdul Somad (UAS) kepada Prabowo Subianto sangat telat dan tidak akan mempengaruhi elektabilitas calon presiden nomor urut 02 itu. Apalagi, Pemilu Presiden 2019 kurang dari sepekan.

Menurut Denny, pengaruh ulama terhadap individu untuk kehidupan beragama di Indonesia sangatlah besar. Tapi pengaruh ulama untuk mengarahkan pilihan politik individu dalam pemilu, baik untuk memilih partai ataupun memilih capres, sangatlah kecil.

Hal itu bisa dipahami dari dinamika perilaku pemilih di Indonesia. Dari beberapa pemilu yang terjadi di Indonesia, pemilih muslim di Indonesia sekitar 85-87 persen. Sejak pemilu demokratis tahun 1999, partai-partai yang berafiliasi Islam dan dekat dengan ulama seperti PKB, PPP, PKS, PAN dan PBB, justru hanya mampu menghuni partai papan tengah.

"Partai mana yang menjadi papan atas, partai juara? Itu partai yang acapkali disebut partai nasionalis, atau partai terbuka, PDIP, Golkar, Demokrat," tulis Denny dalam keterangan persnya, Jumat, 12 April 2019.

Di tahun 2019, PDIP kerap dituduh sebagai partai 'penista agama' atau 'membela PKI'. Tapi, kata Denny, di semua survei kredibel, menempatkan PDIP sebagai partai nomor satu bahkan jauh dibandingkan partai lain.

Kasus lain, di Pemilu Presiden 2014, capres yang diusung PDIP, Megawati Soekarnoputri berpasangan dengan ulama besar NU KH Hasyim Muzadi. Tapi pasangan ini dikalahkan telak dengan jarak lebih dari 20 persen oleh pasangan SBY-JK. Bahkan di pusat NU di Jawa Timur, pasangan Mega-Hasyim kalah.

"Itulah keunikan pemilih muslim di Indonesia. Mayoritas batin mereka tergores mendalam untuk urusan ritual dan girah keagamaan. Tapi untuk perilaku politik pemilu, mereka lebih independen, tidak terpengaruh banyak oleh ulama," urai Denny.

"Itu sebabnya saya menyatakan pengaruh dukungan Ustaz Somad kepada Prabowo jika hitungannya efek elektoral, ia too little, too late," katanya.

Dalam survei yang dirilis LSI Denny JA yang mengangkat lima ulama yang paling berpengaruh di Pilpres 2019 November 2018 lalu, didapati dengan melihat tiga variabel: tingkat pengenalan ulama, tingkat kesukaan, dan tingkat ketaatan (mendengar himbauan).

Lima ulama terpilih berdasarkan rangking: Ustaz Abdul Somad, Ustaz Arifin Ilham, Ustaz Yusuf Mansyur, Aa Gym, dan Habieb Rizieq. "Publik yang mengikuti imbauan Ustaz Somad sebesar 30.2 persen. Itu yang tertinggi dibandingkan empat ulama lain," ujarnya.

Namun, kata Denny, dalam survei tersebut hanya berlaku untuk pengertian umum. Terutama untuk panduan hidup keagamaan. Bukan soal efek elektoral, karena efek elektoral mempunyai variabel yang lebih kompleks dan harus pula memperhitungkan banyak variabel lain. 

"Misalnya, pemilih muslim yang sudah menentukan pilihan versus yang masih mengambang. Pemilih muslim yang secara emosional terikat dengan ormas tertentu (NU atau Muhammadiyah, atau FPI atau lainnya)," bebernya.

Terpaut Jauh

Lantas, mengapa ia menyebut dukungan UAS kepada Prabowo itu 'Too Liltte' sangat kecil pengaruhnya dan 'Too Late' atau sangat terlambat? Menurutnya, sangat terlambat karena situasi sudah terbentuk, terpola. Sebelum Ustaz Somad tampil memberikan dukungan, mayoritas 85 persen dari pendengarnya memang sudah ada di kubu Prabowo.

"Dukungan Somad hanya mengonfirmasi saja. Tanpa dukungan terbuka dari Somad pun, mereka memang sudah di Prabowo," terang Denny. 

Sisi lainnya, sekitar 15 persen pendengar Ustaz Somad berada di kubu Jokowi. Mereka mendengar imbauan Ustaz Somad soal keagamaan. Tapi soal pilihan politik, mereka mandiri. 

"Ia too little, sangat kecil, karena untuk membuat Prabowo menang memerlukan Big Bang yang jauh lebih besar. Kurang dari seminggu lagi hari pencoblosan," ungkapnya.

Bagi Denny, model asosiasi dukungan Ustaz Somad atas Prabowo itu sebagai bentuk endorsement atau dukungan terbuka saja. Dalam dunia konsultan politik itu disebut soft selling, bukan hard selling. Beda halnya ketika pengaruhnya UAS menjadi cawapres Prabowo.

"Model endorsement seperti yang kini dilakukan, apalagi hari pencoblosan kurang dari seminggu, menjadi too little," ujar Denny sembari mengutip hasil 7 lembaga survei yang kredibel bahwa jarak kemenangan Jokowi atas Prabowo antara 13 persen hingga 25 persen. "Terlalu jauh untuk dilampaui oleh model dukungan Ustaz Somad seperti itu," tutupnya.

Sebelumnya, ulama kondang Ustaz Abdul Somad atau yang biasa disapa UAS menemui calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto. Pertemuan itu sempat direkam dan ditayangkan eksklusif di tvOne pada Kamis petang, 11 April 2019.

Ustaz Somad yang khas menggunakan peci hitam dan baju koko berwarna putih menyampaikan amanah dari umat yang dia temui di pelosok negeri. Dari Aceh hingga Papua. Somad mengaku setiap dia menghadiri tausiah di daerah selalu didampingi oleh panitia pengawas pemilu (Panwaslu).

Dalam kesempatan pertama, Prabowo memulai pembicaraan dengan menanyakan kepada Somad mengenai apa yang ingin dia sampaikan setelah bertemu dengan umat di seluruh Tanah Air. [vv]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita