Mengaku Petugas PKH Utusan Jokowi, Dua Pemuda Curi Emas Warga
logo

28 Maret 2019

Mengaku Petugas PKH Utusan Jokowi, Dua Pemuda Curi Emas Warga

Mengaku Petugas PKH Utusan Jokowi, Dua Pemuda Curi Emas Warga

GELORA.CO - Berharap dapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dari Presiden Joko Widodo, Sutik (65), warga Dusun Pesisir, Desa Binor, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, malah ketiban sial. Bukannya bantuan yang didapat, Sutik harus kehilangan perhiasan emas puluhan gram.

Kesialan nenek 7 cucu itu, dialami pada Selasa (26/3) sore. Saat itu, ia duduk-duduk di teras rumahnya. Tak lama kemudian, ada dua pria orang bertamu. Keduanya masing-masing mengendarai sepeda motor. Sutik lantas mempersilakan kedua orang tersebut masuk ke dalam rumahnya.

“Namanya orang bertamu, saya persilakan masuk ke ruang tamu. Setelah berbincang-bincang kedua tamu itu mengaku utusan dari pak Jokowi untuk mensurvei warga yang mendapat PKH,” tuturnya, Rabu (27/3).

Tentu saja tawaran bantuan itu, disambut sumringah oleh Sutik. Apalagi selama ini, dirinya juga termasuk bagian warga PKH. Setelah itu, jelasnya, oleh salah satu orang tersebut meminta foto dirinya. Dengan alasan akan mendata ulang atau pembaharuan data.

“Sebelum berfoto saya disuruh melepaskan semua perhiasan saya, karena kalau memakai perhiasan, maka saya tidak dapat bantuan. Saya sempat menolak dan bilang untuk foto pakai jilbab, tapi tetap dipaksa dilepas,” tuturnya.

Tanpa curiga, Sutik menuruti kemauan tamunya. Ia lantas melepaskan semua perhiasan emas yakni, kalung 11,5 gram, gelang 25 dan 26 gram serta cincin 12 gram. Total perhiasan emas 22 karat itu, sebanyak 74,5 gram. Setelah semuanya dilepas, perhiasan emas itu ditaruh di wadah yang dibawa oleh dua orang tamunya.

“Saya tidak menaruh curiga sama sekali. Apalagi mereka tidak langsung dibawa kabur, tapi suruh taruh di dapur. Kemudian saya difoto. Setelah itu saya diberi mi instan, beras dan deterjen. Lalu saya disuruh manggil warga penerima PKH lainnya,” ujar Sutik.

Saat memanggil para penerima bantuan lainnya, ternyata keduanya kabur. Sekembalinya dari memanggil penerima PKH lainnya, kedua tamu sudah tidak ada di rumahnya.

“Setelah saya cek perhiasan saya, ternyata juga tidak ada. Kalau ditotal kira-kira kurang lebih harga semua perhiasan saya kurang lebih Rp 30 juta,” kenang Sutik.

Kejadian itu, kemudian dilaporkan ke pihak desa setempat. Oleh pemerintah Desa Binor lalu diteruskan ke Polsek Paiton.

“Saat saya menelpon piket Polsek, tidak ada jawaban. Akhirnya saya melaporkan kepada Bhabinkamtibmas desa,” kata Kepala Desa Binor, Hostifawati. [kp]
Loading...
loading...