TKN Jokowi-Ma'ruf, Ipang Wahid Bersumpah Bukan Orang di Balik Tabloid Indonesia Barokah
logo

28 Januari 2019

TKN Jokowi-Ma'ruf, Ipang Wahid Bersumpah Bukan Orang di Balik Tabloid Indonesia Barokah

TKN Jokowi-Ma'ruf, Ipang Wahid Bersumpah Bukan Orang di Balik Tabloid Indonesia Barokah

GELORA.CO - Wakil Direktur Komunikasi Politik Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin, Ipang Wahid angkat bicara soal tuduhan yang dilayangkan padanya.

Dilansir oleh TribunWow.com, Ipang Wahid mengaku dirinya dituduh sebagai orang di balik peredaran Tabloid Indonesia Barokah.

Hal itu ia sampaikan melalui akun Instagram miliknya @ipangwahid, Minggu (27/1/2019).

Melalu penjelasannya, Ipang Wahid bersumpah dirinya bukanlah pembuat Tabloid Indonesia Barokah seperti yang selama ini dituduhkan.

Meski demikian, Ipang Wahid menyebut, tabloid tersebut adalah gerakan terbuka, dan siapa pun boleh berkontribusi.

Terkait keterbukaan, Ipang Wahid mengaku dirinya bersama para tokoh seperti Deddy Mizwar membuat konten video yang mengajak kebaikan.

Ipang tampak menunjukkan contoh videonya pada unggahan akun Instagramnya itu.

Lebih lanjut, Ipang Wahid mengatakan bahwa Indonesia Barokah merupakan gerakan yang bertujuan untuk kebaikan.

"Beberapa hari terakhir ini banyak banget orang bertanya bahkan (mungkin) menuduh saya dengan semua kehebohan terkait tabloid Indonesia Barokah.

Saya ingin memberikan penjelasan. Begini:

1. Indonesia Barokah adalah gerakan yang bersifat terbuka; siapapun boleh dan atau bisa ikut berkontribusi. Berkontribusi apa?

Sebagaimana namanya “Indonesia Barokah”; berkontribusi untuk mendatangkan kebaikan bagi Indonesia.

2. Indonesia Barokah bukan organisasi. Apalagi badan usaha.

Itu lebih seperti kumpulan pemikiran dari banyak orang. Satu di antara dasarnya adalah KEGELISAHAN TERHADAP

MARAKNYA FITNAH DAN HOAX yang—alih-alih mendatangkan kebaikan bagi Indonesia—tapi justru dapat memeceah belah bangsa.

Karena terbuka, maka ada begitu banyak orang-orang baik sepemikiran, yang ingin ikut berkontribusi dalam membuat karya konten kreatif.

Dengan segala bentuknya.

Saya pribadi, bersama beberapa kawan, ikut terlibat dalam membuat setidaknya 3 konten video. ‘Islam itu Indah’, ‘Deddy Mizwar’ dan ‘Parodi Bohemian. Monggo dicek 3 karya di atas.

Semua pesannya jelas mengajak kepada kebaikan.

Apa yang saya dan beberapa kawan lakukan adalah menyampaikan pesan sejuk dan menyatukan.

Menjauhi hasutan dan agenda-agenda provokatif.

Mengingatkan kembali akan Islam yang rahmatan lil‘alamin.

Sekedar tambahan informasi.

Bahwa social movement lewat kegiatan pembuatan konten kreatif ini sudah belasan tahun saya lakukan. Dan telah menghasilkan puluhan karya.

Kan saya sutradara iklan.

Jadi, selama cocok dan selaras pemikirannya, saya pasti dukung.

3. Lantas, apa hubungan ipang wahid dengan tabloid Indonesia Barokah?

SAMA SEKALI TIDAK ADA

Terkait Tabloid Indonesia Barokah, DEMI ALLAH, saya tegaskan.

BAHWA SAYA BUKAN PEMBUAT TABLOID INDONESIA BAROKAH.

Saya juga tidak terlibat dalam bentuk apapun atas tabloid tersebut.

Karena sifatnya yang terbuka, gerakan dan isinya yang beragam itu mungkin saja ada sebagian yang kemudian menjadi multi tafsir.

Tergantung kepentingannya. Tetapi secara substansi, sekali lagi seperti namanya, "Indonesia Barokah", gerakan ini bertujuan untuk mendatangkan kebaikan bagi Indonesia.

Demikian penjelasannya agar tidak menjadi fitnah," tulis Ipang Wahid.



Diberitakan sebelumnya, Badan Pemanangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno resmi melaporkan Tabloid Indonesia Barokah ke Dewan Pers, lantaran diduga kampanye hitam dan menjatuhkan Prabowo-Sandi.

Dikutip dari Tribunnews.com, hal tersebut disampaikan Anggota Direktorat Advokasi dan Hukum BPN Prabowo-Sandi, Nurhayati saat dijumpai di Kantor Dewan Pers, di Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Jumat (25/1/2019).

Nurhayati memaparkan, pihaknya merasa dirugikan karena adanya pemberitaan di tabloid itu.

Pasalnya, terang Nurhayati, konten pemberitaan Tabloid Indonesia Barokah itu banyak yang menyudutkan pasangan capres dan cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Oleh karena itu, jelas Nurhayati, BPN kemudian melaporkan tabloid ini ke dewan pers.

"Bahwa sejak kehadiranya Tabloid Indonesia Barokah menjadi (menimbulkan) polemik dan kegaduhan di masyarakat," terang Nurhayati.

Nurhayati lantas menyoroti tabloid Indonesia Barokah edisi 1 Desember 2018 yang bertajuk 'Prabowo-Sandi melakukan kebohongan publik demi kepentingan politik?'.

Menurut Nurhayati, pemberitaan seperti itu dapat menimbulkan kegaduhan dan berpotensi memecah belah masyarakat, khususnya umat Islam.

Nurhayati berpendapat, pemberitaan itu bertentangan dengan fungsi pers dan kode etik jurnalistik yang ada.

"Seharusnya fungsi pers sebagai media informasi, pendidikan, dan hiburan, serta kontrol sosial di masyarakat, bukan membuat keonaran di masyarakat," katanya.

Sementara itu, mengutip Kompas.com, Nurhayati memaparkan, konten dalam Tabloid Indonesia Barokah ini dapat memengaruhi elektabilitas dari Prabowo-Sandi, Jumat (25/1/2019).

"Ini sangat berpengaruh, berpotensi untuk pemilih yang tadinya ke Pak Prabowo, jadi mengambang," ujar Nurhayati.

"Kami minta Dewan Pers secepatnya menindaklanjuti dan meminta klarifikasi mengenai tabloid ini," katanya kemudian.

Bawaslu Sita Tabloid Indonesia Barokah

Di sisi lain, Ketua Bawaslu di Tasikmalaya Ijang Jamaludin mengungkapkan, pihaknya telah menyita 1.434 eksemplar Tabloid Indonesia Barokah.

Pasalnya, tabloid yang telah beredar di masyarakat diduga isinya dapat memicu konflik di tengah pemilihan presiden.

"Kami langsung menyita tabloid ini langsung di kantor pos saat akan dikirim ke alamat tertentu. Kita dapat informasi dan langsung dicek. Semuanya berjumlah 1.434 eksemplar yang siap dikirim dan masih dibungkus rapi dalam amplop besar," kata Ijang seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (23/1/2019).

"Saat ini kita menunggu hasil kajian dari Bawaslu RI. Kita meminta kantor Pos untuk tak mendistribusikan pengiriman Tabloid Indonesia Barokah," imbuhnya.

Ia menjelaskan penyebaran tabloid banyak ditujukan ke pondok-pondok pesantren.

"Mayoritas alamat yang ditujukan tabloid ini adalah pondok pesantren di wilayah Kota Tasikmalaya serta DKM mesjid," sambung Ijang Jamaludin.[tribun]
Loading...
loading...