Mata Dibayar Mata, Kontroversi Tantangan Andi ke Jokowi
logo

1 Januari 2019

Mata Dibayar Mata, Kontroversi Tantangan Andi ke Jokowi

Mata Dibayar Mata, Kontroversi Tantangan Andi ke Jokowi

GELORA.CO - Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief menyentil Presiden Joko Widodo terkait lamanya pengungkapan kasus teror air keras terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Menurut Andi Arief, Jokowi harusnya memberikan sebelah matanya sebagai 'bayaran' untuk mata Novel yang rusak akibat air keras.

Lewat akun Twitter-nya, Andi Arief awalnya melontarkan kritikan bernada tantangan. Menurutnya, jika Jokowi belum mau memberikan sebelah matanya maka masalah pelanggaran HAM masa lalu belum bisa dibicarakan.

"Kalau Jokowi berkeinginan memberi sebelah matanya Pada Novel Baswedan, mari kita bicara soal penculikan dan pembunuhan masa lalu. Kenapa mata Pak Jokowi? Karena percuma punya mata tapi tau mau melihat persoalan yg mudah ini untuk diselesaikan," kicaunya lewat akun Twitter @AndiArief_, Minggu (30/12).

Menanggapi pernyataan Andi ini, Kabareskrim Komjen Arief Sulistyanto menyatakan penerapan hukum harus sesuai ketentuan. Dia menegaskan yang bertanggung jawab atas suatu kejahatan adalah orang yang melakukan kejahatan itu.

"Ini adalah doktrin hukum pidana, jadi tidak bisa orang yang tidak melakukan diminta bertanggung jawab atas perbuatan pidana yang tidak dilakukan. Siapa yang berbuat dialah yang harus bertanggung jawab. Jadi tidak bisa sembarangan dalam penerapan hukum pidana," kata Arief kepada wartawan, Senin (31/12/2018).

Lalu bagaimana Novel memandang tantangan Andi Arief terhadap Jokowi itu? Novel ternyata tak mengharap hal serupa. Dia hanya ingin pelaku penyerangan segera terungkap.

"Bagi saya, sederhana saja, Jokowi ungkap penyerang saya dan penyerang orang-orang di KPK yang menculik menteror dan lain sebagainya, itu realistis," ujar Novel Baswedan kepada wartawan, Senin (31/12/2018).

Harapan senada juga disampaikan Wadah Pegawai KPK yang ingin pelaku peyerangan segera terungkap. Meski begitu, Andi Arief mendapat pembelaan terutama dari partai koalisi pengusung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

"Tantangan Andi Arief ini wajar, beliau juga kan aktivis HAM," ujar juru bicara BPN Prabowo-Sandiaga, Andry Arief Bulu, kepada wartawan, Senin (31/12/2018).

"Maksudnya bukan letterled seperti itu bahwa Pak Jokowi harus melepas mata, tapi terlebih agar kasus Novel Baswedan ini memang harus diselesaikan dan diungkapkan dengan terang benderang, ungkap pelakunya dan terapkan hukumannya," imbuhnya.

Andi Arief juga dibela Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra. PKS menganggap tantangan itu sebagai sindiran untuk Jokowi dalam penanganan kasus Novel.

"Kami kira itu semacam sindiran keras ke Pak Jokowi dan pihak lain agar bersikap fair," ujar Direktur Pencapresan PKS, Suhud Aliyudin.

Menurut Suhud, penanganan kasus Novel memang terkesan lambat. Oleh sebab itu, dia sepakat bahwa seharusnya pemerintah menyelesaikan kasus HAM yang terjadi saat ini sebelum berkoar-koar soal penculikan atau pembunuhan masa lalu. 

Tantangan itu juga dijawab PKB yang jadi pendukung Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019. PKB memandang tantangan Andi Arief tak masuk akal.

"Terkait dengan donor mata, apa hubungannya dengan Pak Jokowi? Tidak relevan dan tidak masuk akal usulannya, dan tidak ada hubungannya dalam penuntasan kasus ini," kata Wasekjen PKB Daniel Johan saat dimintai konfirmasi.

Tak hanya PKB, partai pendukung Jokowi lainnya juga menganggap tantangan Andi Arief itu tidak pantas. Wasekjen PPP Achmad Baidowi (Awiek) bahkan menyarankan Andi Arief saja yang mendonorkan mata ke Novel.

"Andi Arief mungkin lupa kalau di sini berlaku hukum positif yang tertuang dalam KUHP bukan hukum rimba. Apa urgensinya menantang Jokowi menyerahkan matanya ke Novel Baswedan? Kalau dibalik, kenapa tidak Andi Arief saja yang melakukannya? Misalnya atas nama solidaritas," kata Awiek kepada wartawan.

Meski begitu ada juga yang menanggapi tantangan Andi Arief dengan candaan. Salah satu anggota tim advokasi Novel Baswedan, Haris Azhar, menilai tantangan itu tidak cocok. Dia bercanda sambil membandingkan ukuran mata Novel dengan mata Jokowi.

"Nggak cocok. Mata Novel belok. Kalau mata Jokowi agak kecil," katanya lewat pesan singkat kepada detikcom.[dtk]
Loading...

Komentar Netizen

loading...