Turut Tanggapi Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi, Ketum PDIP Megawati: Ke Mana Kemanusiaan?
logo

16 November 2018

Turut Tanggapi Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi, Ketum PDIP Megawati: Ke Mana Kemanusiaan?

Turut Tanggapi Kasus Pembunuhan Satu Keluarga di Bekasi, Ketum PDIP Megawati: Ke Mana Kemanusiaan?

GELORA.CO - Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri memberikan tanggapan soal peristiwa pembunuhan yang menimpa satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat.

Dihadapan para caleg PDIP, Megawati tampak mempertanyakan soal sisi kemanusiaan dari pelaku pembunuhan tersebut.

"Saya berpikir, manusia seperti apa ya yang tega membunuh itu, dengan membunuh seorang anak yang masih kecil," ujarnya di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018), seperti yang TribunWow.com lansir dari Tribunnews.com.

Megawati juga menyinggung soal sila kedua dalam Pancasila yang tidak diterapkan.

"Ke mana kemanusiaan mereka, padahal dalam Pancasila ada sila perikemanusiaannya? Mau dijadikan apa republik ini?" kata Megawati.

Lebih lanjut, Megawati mengungkapkan harapannya kepada generasi-generasi milenial untuk tidak menjadi manusia yang individualis dan pengecut.

"Tidak berani menunjukkan, ini dadaku, mana dadamu? Ya sorry itu pengecut," pungkasnya.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memberikan tanggapannya soal peristiwa pembunuhan yang menimpa satu keluarga di Bekasi, Jawa Barat. Tanggapan itu ia sampaikan di hadapan para caleg PDIP di Kantor DPP PDIP, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (15/11/2018). 


Awal Jasad Satu Keluarga di Bekasi Ditemukan

Seperti diketahui, satu keluarga ditemukan tewas dirumahnya yang beralamat di Jalan Bojong Nangka 2 RT 002 RW 07 Kelurahan Jatirahayu, Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, pada Selasa (13/11/2018) sekitar pukul 06.30 WIB.

Keluarga tersebut terdiri dari Diperum Nainggolan kepala keluarga berusia 38 tahun, Maya Boru Ambarita isteri berusia 37 tahun, Sarah Boru Nainggolan anak berusia sembilan tahun, dan Arya Nainggolan anak berusia tujuh tahun.

Begitu ditemukan, jasad keluarga yang diduga menjadi korban pembunuhan sadis itu langsung dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan autopsi.

Saat ini, satu keluarga itu sudah dimakamkan di kampung halamannya di Samosir, Sumatera Utara.

Dilansir TribunWow.com dari WartaKotaLive.com, Selasa (13/11/2018), korban pertama kali ditemukan oleh tetangganya yang bernama Feby Lofa.

Awalnya, Feby merasa curiga saat melihat gerbang rumah korban yang masih terbuka dan televisi yang juga masih dalam kondisi menyala di jam 03.30 WIB.

Merasa heran Feby sempat mencoba memanggil keluarga korban dari luar.

Tak hanya itu, ia juga sempat mencoba untuk menelepon korban.

Namun karena tidak mendapat jawaban, Feby memutuskan kembali masuk ke dalam rumahnya.

"Saya sempat lihat gerbangnya kebuka, saya panggil tidak nyahut, padahal TV nyala, kira saya tidur kali. Ya sudah saya pulang ke kontrakan," ucap Febby.

Kecurigaannya semakin menjadi saat mengetahui korban belum berangkat kerja di pagi harinya.

Merasa penasaran, ia pun memberanikan diri untuk membuka jendela rumah korban.

"Biasanya korban ini (suaminya) kan kerja suka berangkat sekitar pukul 06.30 WIB. Tapi belum bangun juga, saya lihat lewat jendela ternyata penghuni rumah tergeletak penuh darah," tambahnya.

Kaget dengan kondisi keluarga korban yang sudah bersimbah darah, Feby segera meminta tolong dan melapor ke warga di sekitar rumahnya dan juga Ketua RT.

"Saya kasih tahu warga lain dan Pak RT. Terus langsung nelpon polsek Pondok Gede," ujarnya.

Terduga Pelaku Ditangkap

Mengutip TribunJakarta.com, polisi telah berhasil menangkap satu orang terduga pelaku pembunuhan satu keluarga di Bekasi, pada Kamis (15/11/2018).

Terduga pelaku diketahui berinisial HS.

HS diamankan bersamaan dengan kabar ditemukannya mobil korban yang sebelumnya sempat dikabarkan hilang.

Mobil Nissan X-trail B 1705 UOQ yang selama ini dicari oleh pihak kepolisian pasca terjadinya pembunuhan satu keluarga itu akhirnya ditemukan di sebuah rumah kos di kawasan Cikarang, Jawa Barat.

"Mobil itu di suatu rumah di daerah Cikarang. Suatu rumah kost-kostan di sana," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Polisi Argo Yuwono di Polda Metro Jaya, Jakarta, Kamis (15/11/2018).

Mobil jenis Nissan Xtrail bernomor polisi B 1075 UOC terparkir di halaman Polres Metro Bekasi Kota, Kamis (15/11/2018). Mobil ini menjadi salah satu barang bukti kasus pembunuhan satu keluarga di Bekasi.

Diberitakan WartaKotaLive.com, awalnya, tim gabungan menemukan mobil tersebut yang diduga telah dibawa kabur terduga pelaku saat terjadinya pembunuhan.

Melalui penyidikan dan pemeriksaan, didapatkan bahwa orang yang mengendarai mobil tersebut sebelum kemudian ditemukan di kos-kosan merupakan pria berinisial HS.

"Setelah kita dalami dan penyelidikan berkaitan dengan mobil itu bisa berada di kos-kosan berasal dari penyelidikan manual tim yang di sana. Kita mendapatkan kendaraan itu ternyata dibawa oleh saudara berinisial HS," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Kamis (15/11/2018).

"Kemudian HS ini kita cari, kita lidik keberadaannya di mana," tambahnya.

Penyelidikan pun terus dilakukan oleh pihak kepolisian hingga akhirnya didapati bahwa HS sedang berada di Garut, tepatnya di kawasan Kaki Gunung Guntur.

"Dia berada di satu rumah atau saung. Dia di sana mengaku hendak naik gunung. Kita geledah dan ditemukan kunci mobil, HP dan uang Rp 4 juta," jelas Argo.

Argo menuturkan, HS menyanggah dugaan kepolisian.

HS menyatakan tak melakukan apa pun kepada para korban.

Meski demikian, HS tetap dibawa ke Mapolda Metro Jaya untuk didalami kasusnya.

"Kita tarik ke Polda, penanganan kita ambil. Tapi tetap Bekasi Kota bekerja," ujar Argo.

Selain itu, Argo juga menuturkan jika HS masih memiliki hubungan keluarga dengan korban Maya Ambarita.

"HS ini masih ada hubungan saudara dengan korban yang perempuan," ujar Argo.

Argo menjelaskan jika HS merupakan seorang pengangguran sejak 3 bulan lalu.

Terakhir, HS diketahui bekerja di sebuah perusahaan di daerah Cikarang.

Sejak menganggur, HS juga kerap menginap di rumah korban dan tidur di kos-kosan yang dijaga oleh korban.

"Dia kadang-kadang memang tidur di kos-kosan itu," ungkap Argo.

Motif Sementara

Dikutip dari TribunJakarta.com, Selasa (13/11/2018), Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo, mengatakan dugaan sementara motif pelaku pembunuhan adalah karena ada dendam terhadap korban.

Dugaan ini menurut pihaknya, melihat dari kasus-kasus yang ditangani kepolisian sebelumnya.

"Dari pengalaman dan dari hasil yang ditangani kepolisian (sebelumnya). Kalau sadis dan yang dibunuh bukan satu orang, itu ada latar belakang dendam. Ini dari hasil pengalaman yang sudah dikerjakan kepolisian," ujar Dedi Prasetyo, Selasa (13/11/2018).

Namun, Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa hal tersebut masih menjadi dugaan sementara, karena proses penyelidikan masih dilakukan oleh Polres Metro Bekasi Kota.

Menurut Dedi lantaran setiap kasus memiliki karakter sendiri.

"Secara umum oke lah, kalau secara global ya itu bisa dibilang ‘diduga’. Tapi kasus pembunuhan sadis dan lebih dari satu orang, mayoritas karena dendam," ujar Dedi Prasetyo.

Lanjutnya Dedi mengatakan pihaknya terus melakukan penyelidikan untuk mengungkap kasus pembunuhan ini.

"Penyidik akan lihat fakta itu, apakah kasus pembunuhan atau hanya untuk mengelabui suatu peristiwa. Polisi harus matang, ada labfor (laboratorium forensik), ada Inafis. Itu kita libatkan," ujar Dedi Prasetyo.



Loading...

Komentar Pembaca

loading...