Pengamat: Wajar Prof Yusril Bela Jokowi, Bukan Prabowo

Pengamat: Wajar Prof Yusril Bela Jokowi, Bukan Prabowo

Gelora News
facebook twitter whatsapp

GELORA.CO -  Pengamat politik Said Salahudin menilai kesediaan pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra menjadi kuasa hukum pasangan calon presiden Joko Widodo-Ma'ruf Amin di Pilpres 2019 merupakan hal yang wajar.

"Saya termasuk yang tidak terkejut dengan sikap Yusril. Saya kira itu menjadi pilihan dia yang paling realistis," ujar Said di Jakarta, Senin (5/11).

Menurut Direktur Sinergi Masyarakat Untuk Demokrasi Indonesia (Sigma) ini, sejak awal sebenarnya Ketua Umum DPP Partai Bulan Bintang (PBB) tersebut, terkesan sudah berusaha menunjukan sikap mendukung Prabowo Subianto.

Namun, kubu pasangan calon presiden nomor urut 02 sepertinya tidak menganggap Yusril sebagai faktor yang penting.

"Ketika PBB mengalami permasalahan dalam proses verifikasi parpol calon peserta pemilu, kelompok pendukung Prabowo menurut pengakuan Yusril kan 'cuek-cuek' saja," ucapnya.

Begitu juga saat dilakukan pembahasan mengenai calon pendamping Prabowo, Yusril dan partainya juga seolah dianggap tidak penting. Menurut Yusril, PBB tidak diajak bicara.

Bahkan dalam perjalanannya kemudian, Said mendengar kabar Yusril dan PBB terkesan ditinggalkan kubu Prabowo-Sandi. Padahal, Yusril dan PBB punya kecenderungan mendukung pasangan Prabowo-Sandi. Gelagat politiknya menunjukan hal tersebut.

"Orang kan juga punya harga diri. Kalau dia sudah berusaha menunjukan sikap untuk mendukung, tetapi jika pihak yang ingin didukung tidak responsif, bahkan seperti menyepelekan begitu, ya susah juga," ucapnya.

Bagaimana pun, kata Said, Yusril adalah seorang yang punya nama besar. Dia perlu melindungi muruah atau kehormatan dirinya, termasuk juga partainya.

"Nah, situasi inilah sepertinya yang dimanfaatkan kubu Jokowi untuk mendekati Yusril. Mereka sangat jeli dalam melihat peluang," katanya.

Dewan pakar pada Pusat Konsultasi Hukum Pemilu itu memprediksi, Yusril kemungkinan berpandangan untuk apa membela orang atau kelompok yang justru tidak peduli atau bahkan meremehkan dirinya. Lebih baik membela orang atau kelompok lain yang menunjukan sikap sebaliknya.

"Saya kira kubu Prabowo harus belajar betul dari kasus Yusril ini. Jika mereka terus merasa pintar sendiri, merasa hebat sendiri, merasa bisa sendiri, pelan tapi pasti mungkin saja akan muncul 'yusril-yusril' lain," pungkas Said. [jpnn]
BERIKUTNYA
SEBELUMNYA
Ikuti kami di Google Berita