Dulu Tolak Politisi Gerindra, Sekarang Kok UGM Terima PSI?
logo

15 November 2018

Dulu Tolak Politisi Gerindra, Sekarang Kok UGM Terima PSI?

Dulu Tolak Politisi Gerindra, Sekarang Kok UGM Terima PSI?


GELORA.CO - Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Tsamara Amany hari ini mengisi acara di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Tanpa halangan atau kendala apapun, politikus yang sering mengundang kontroversi ini pun datang menjadi pembicara talkshow dengan tema 'Perempuan dalam Kebijakan Publik' di Gilib Cafe Fakultas Sosial dan Ilmu Politik UGM

“Saya di sini berbicara sebagai murni masalah gender, masalah kekerasan seksual. Enggak ada niat kampanye apapun begitu ya. Saya enggak mengajak untuk memilih," Kata Tsamara.

Namun, kendati sudah memberikan penjelasan tersebut, kedatangan Tsamara ini menjadi perdebatan publik.

Hal ini dikarenakan beberapa waktu lalu UGM telah menolak kedatangan Sudirman Said, politikus Partai Gerindra. Sedangkan dengan politikus lulusan Paramadina tersebut, UGM menerima begitu saja.

Menanggapi hal ini, Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Eddy Seoparno menyayangkan sikap UGM yang terkesan “pilih kasih” menerima politikus.

“Kami sayangkan dan prihatin bahwa kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan, dihuni oleh civitas pemikir yang jernih dan jujur, serta induk yang melahirkan kaum cendikiawan Nasional, justru seperti terbawa arus politik dan arus keberpihakan,” kata Eddy.

Eddy berharap, kampus sekelas UGM semestinya tidak ‘pilih kasih’ dalam menghadirkan pemikir atau pelaku politik untuk memperkaya khazanah politik bagi mahasiswanya.

“Jadi misalnya memang mau memperkaya khazanah politik mahasiswa, ya jangan pilih kasih menghadirkan pemikir atau pelaku politik. Termasuk membuka diri untuk menyelenggarakan debat capres cawapres misalnya. Kalau ngga gitu ya mending sama sekali menutup pintu untuk segala urusan politik praktis, baik secara langsung maupun berkedok diskursus ilmiah,” tambahnya.

Eddy berharap kedudukan kampus yang merepresentasikan kejernihan dan kebebasan berpikir, pusat ilmu pengetahuan dan kejujuran akademik jangan sampai terciderai karena pemberlakuan standar ganda sebagaimana yang terjadi saat ini.  [jpnn]

Loading...

Komentar Pembaca

loading...