Rumah Makan Manado Dirusak oleh Kelompok Berpeci, FPI: Permainan Intelijen
logo

18 Oktober 2018

Rumah Makan Manado Dirusak oleh Kelompok Berpeci, FPI: Permainan Intelijen

Rumah Makan Manado Dirusak oleh Kelompok Berpeci, FPI: Permainan Intelijen



GELORA.CO -  FPI angkat bicara terkait perusakan Rumah Makan (RM) Manado di Cempaka Putih, Jakarta Pusat, oleh sekelompok orang berpeci yang terjadi pada Selasa (16/10) dinihari.

Pentolan FPI DKI Jakarta Muchsin Alatas mengklaim, perusakan tersebut merupakan provokasi oknum yang ingin memecah belah bangsa.

Ia menegaskan, massa yang merusak rumah makan khas Manado itu tak terkait dengan penolakan tokohnya, yakni Muhammad Bahar bin Ali bin Smith alias Habib Bahar bin Smith, saat berkunjung ke Kota Manado, Sulawesi Utara, Senin (15/10) awal pekan ini.

"Ini provokasi, bisa saja orang-orang itu beli sarung, peci biar dianggap orang Islam, mereka melempar. Ini diseret ke isu etnis dan agama. Ini berbahaya," kata Muchsin seusai menghadiri acara Doa Bersama dan Dialog Damai di RM Manado Andy Watung, Cempaka Putih Jakarta Pusat, Rabu (17/10/2018).

Lebih lanjut, Muchsin mengatakan penolakan Habib Bahar bin Smith di Manado dan beberapai pemceramah lain di beberapa daerah tidak ada kaitannya dengan konflik agama. Melainkan kata dia, hal tersebut erat kaitannya dengan politik.

Berkenaan dengan itu, dia menyebut pelaku tersebut merupakan aktor intelektual yang memainkan politik secara kotor.

"Ini provikasi dari pihak-pihak permainan intelejen tapi ini permainan kotor. Permainan politik yang kotor. Kalau ingin Indonesia damai sejahtera hentikan ini, politik kotor hentikan," tukasnya.

Untuk itu, dia mengimbau kepada semua umat beragama untuk tidak mudah terprovokasi oleh oknum yang sengaja ingin mengadu domba. Dia juga menegaskan kepada pihak berwajib untuk mengungkap aktor di balik kejadian tersebut.

"Saya harapkan masyarakat baik umat Islam atau Nasrani dan yang lain jangan terprovokasi. Ini permainan intelijen, ini permainan politik kotor yang ingin mengadu domba antarumat beragama. Ini yang terjadi dan semua sama modusnya penolakan penolakan di Riau, Kalimantan Utara, Semarang dan di Manado sama. Ini ada aktor intelektual yang harus dibuka," tandasnya. [suara]

Loading...
loading...